EL & KEN

EL & KEN
136



"Abang percaya sama aku kan?" Lirih Elvina yang masih terisak dalam pelukan Ken. Dia takut suaminya marah dan mengamuk.


"Apa yang membuat Abang ragu sama kamu, Sayang." Ken memberikan usapan lembut di punggung Elvina, "kamu masih mau lanjut belajar di sini?"


"Boleh? Aku gak mau ngecewain Kak Erin dan Tante Nara."


"Boleh, tapi hati-hati ya. Kalau sendirian nunggunya di ruangan ini aja, jangan di luar lagi." Elvina mengangguk lemah. "Dia ngapain kamu? Sempat nyium."


"Enggak cuma narik aku." Ken menciumi puncak kepala Elvina untuk memberi ketenangan.


"Abang akan jagain kamu lebih baik lagi." Ken berjanji tidak akan mengizinkan satu orang pun bisa menyentuh istrinya lagi.


Di dalan ruangan Erina, Elvina sudah mulai tenang. Sedang di luar terjadi keributan, untung masih pagi jadi belum ada pelanggan. Erina terpaksa menutup butiknya kembali.


"Jelaskan sama mommy kenapa kamu jadi bodoh seperti ini Deo. Mommy sudah mengingatkan, Nana sudah punya suami."


"Aku cinta dia, Mom." Jawab Deo santai tanpa rasa takut.


"Itu bukan cinta Deo, itu obsesi. Kamu baru tiga hari bertemu dengannya. Mau datang cinta dari mana, hah. Sudah puas malu-maluin daddy," teriak Theo tak kalah garang.


Deo bergeming, dia akan membuat perhitungan atas semua yang terjadi ini.


Erina memijat kepalanya yang berdenyut nyeri, dia dengan setia berdiri di samping sang papa.


"Adikmu tidak papa?" Tanya Erland pada putrinya.


"Ditemani Ken di ruanganku Pah." Erland bersyukur perkembangan Ken sudah lebih baik beberapa hari ini, berkat adanya Elvina di sisinya.


"Kamu jangan bermimpi untuk mendapatkan Nana, Deo. Kalau sampai aku mendengar kamu menyentuhnya, aku yang akan menghajarmu langsung."


Deo tersenyum sinis, dia tidak takut apapun. Pantang untuknya berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau, lihat saja nanti.


Theo dan Dina membawa Deo pulang setelah mengucapkan permohonan maaf pada Erland.


"Masih menangis?" Goda Erland lalu duduk di samping keponakannya. Elvina menjauhkan dirinya dari pelukan Ken lalu menatap Erland dengan tersenyum.


"Enggak, bersandar di sini enak Om." Elvina menepuk dada Ken dengan bangga.


"Jadi gak perlu dada Om lagi nih buat bersandar." Erland mengerlingkan matanya jahil.


"Perlu," cicitnya lalu memeluk Erland dengan erat. "Aku seperti meluk papa," lirihnya sendu. Pria paruh baya itu mengusap kepala Elvina berulang kali.


"Sekarang ada Om di sini yang jagain Nana, seperti papa kamu jagain kamu." Melihat keadaan Elvina seperti ini, rasa bersalah Erland menyeruak kembali. Selama tiga tahun ini dia mengabaikan keponakannya.


"Aku tau, masih banyak orang-orang yang sayang Nana. Seperti papa menyayangi Nana."


"Jangan pernah berniat untuk mengakhiri hidup lagi, karena ada banyak orang yang akan kehilangan kalau Nana melakukan itu. Termasuk Ken." Erland mengecup puncak kepala Elvina, lalu mengurai pelukan. "Kamu harus bahagia, oke." Ucapnya dengan tersenyum, Elvina mengangguk setuju.


"Ken bawa Nana pulang dulu, belajarnya nanti aja."


Ken mengangguk, setelah berpamitan dia membawa Elvina pulang. Hari ini Ken memutuskan tidak berangkat ke kantor.


"Sayang, mau jalan-jalan?" Tawar Ken, istrinya menggeleng. "Mau pulang aja, Bang."


"Oke." Ken membawa istrinya pulang tanpa banyak protes. "Mau jalan ke Jogja gak Sayang, kita ketemu dokter Raga."


"Sekalian Fashion Week dua bulan nanti aja deh, Bang. Gimana?" Usul Elvina.


"Setuju, setelah itu nanti Abang izin sama Om Erland bawa kamu ke Kairo."


"Oke, deal." Elvina mengacungkan jempolnya tanda setuju.