EL & KEN

EL & KEN
16



Hati Ken ngilu mengetahui semua itu. Apa masih bisa dia bersabar setelah ini. Jika Elvina sangat tersiksa mencari tau pemilik bonekanya. Apa gadis itu juga tersiksa rindu seperti Ken merindukan Elvina.


"Apa dia sering berteriak seperti itu saat tertidur, Kak."


"Sering, bahkan semalaman bisa beberapa kali. Jiwanya sangat terguncang saat kehilangan Papa Al." Saat Aliandra meninggal Ken memang sedang di Kairo, dia baru beberapa bulan ini kembali ke Indonesia.


"Ya Allah El, boleh aku mendekatinya Kak?" Pinta Ken, Adnan sudah seperti pawangnya Elvina. Tidak ada yang boleh mengganggu gadis itu.


"Dekatilah, tapi jangan disentuh." Peringat Adnan, Ken mengangguk. Melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur gadis itu. Dia menatap lekat pipi Elvina yang masih basah dengan air mata.


"Sayang, akulah pemilik boneka itu. Apa kamu merindukanku, Cinta. Temuilah aku ketika bangun nanti, Sayang. Aku ada di dekatmu." Ucap Ken pelan, Adnan pun tidak tau apa yang sednag adiknya itu katakan.


"Sayang, jangan menangis seperti ini lagi. Aku tidak kuat melihatmu menderita. Aku selalu ada di dekatmu, Sayang. Bahkan sangat dekat denganmu. Hapuslah air matamu El. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu El, sangat mencintaimu. Sayang aku di sini." Ken berbisik di telinga Elvina lirih.


"Ken kamu terlalu dekat, itu akan membuatmu semakin tersiksa. Tahan tanganmu untuk menyentuh pipinya." Adnan terus mengawasi Ken yang sangat ingin membelai pipi Elvina.


"Astaghfirullah.."


Ken menegakkan badannya dan menjauh dari ranjang kembali duduk di samping Adnan.


"Bersabarlah Ken, setelah pulang nanti kita lamar dia untukmu?" Bujuk Adnan, dia memang mencintai gadis itu tapi masih bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Walau hanya usapan lembut di kepala.


"Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Aku ingin memeluknya, ingin melindunginya." Adu Ken, dia memang bucin sejak dulu. Elvina saja yang tidak tau betapa lemahnya Ken yang garang ini.


"Aku tidak bisa tidur kak." Rengeknya, dengan mata masih menatap Elvina yang tertidur.


"Ayolah Ken, jangan buat aku bingung menghadapi kalian berdua."


"Boleh aku tidur di pangkuanmu kak." Ken menatap manja mata Adnan.


"Iya,,, kamu seperti anak kecil ketika melihat El mu itu. Bersabarlah Ken." Entahlah Adnan bingung dengan adiknya ini. Bisa mengacuhkan banyak perempuan, tapi sangat lemah jika menyangkut Elvina.


"Meskipun cintaku sangat besar untuk Nana, tapi aku tidak bisa melihatmu menderita seperti ini Ken." Gumam Adnan dalam hati, apapun yang bisa membuat adiknya bahagia akan dia lakukan.


Elvina mengerjapkan mata lalu terbangun, dia melirik jam di dinding kamarnya. Tadi dia mendengar suara orang berbisik yang mengaku pemilik boneka ini.


"Baru jam sebelas." Elvina menatap ke arah sofa, Adnan masih belum tidur. "Ya Allah, aku tidak bisa tidur dengan tenang," lirihnya.


"Na, kamu terbangun lagi?" Tanya Adnan, gadis itu seperti orang linglung kebingungan.


"Kak aku mendengar suara orang yang mengaku pemilik boneka ini. Sangat jelas seperti bukan mimpi." Ujarnya masih memeluk boneka kesayangan.


"Kamu hanya terlalu memikirkannya Na, tidurlah kembali." Bujuk Adnan, sekarang dia tau apa yang dilakukan Ken saat di dekat gadis itu tadi.


Adiknya ini bisa tergolong manusia langka yang sangat aneh. Mendekati perempuan pakai cara dijadikan musuh. Padahal Elvina itu kalau diajak bicara lembut mudah luluh.