EL & KEN

EL & KEN
141



"Kok Kak Sya yang bikinin cokelatnya, Ken mana?" Tanya Elvina heran, sekarang dia perlu suaminya bukan orang lain.


"Ken di ruang tamu, kamu tunggu aja sampai dia kembali. Jangan di ganggu dulu ya." Saran Attisya.


Elvina mengangguk mengerti dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Dia mengambil obat yang ada di laci memberikan pada Attisya. "Tolong kasih Ken, Kak." Pintanya, dia tidak bisa bertemu Ken sekarang.


"Oke, kamu tetap di kamar ya. Nanti aku balik lagi." Ujar Attisya, Elvina mengangguk. Setelah kakak iparnya keluar kamar ibu mertuanya datang.


"Kamu gak papa, Sayang? Apa Ken kasar sama kamu?" Tanya Ulfa khawatir, dia duduk di sisi Elvina seraya membelai rambut menantunya.


"Enggak Mi, Ken gak kasar sama aku. Abang sudah bisa mengendalikan diri. Ummi jangan khawatir ya, aku baik-baik aja." Elvina mengusap lembut pipi perempuan yang sudah tidak muda lagi. Dia bersyukur memiliki keluarga baru yang sangat mencintainya.


"Kamu istirahat ya, jangan temui suamimu dulu."


"Iya Mi," sahut Elvina sambil mengangguk. Seperginya Ulfa, Elvina membaringkan badannya. Rasa nyeri di perut membuat Elvina tertidur cepat dengan memeluk beruang.


Attisya kembali ke kamar Elvina setelah memberikan obat pada Ken. Ternyata orang yang ingin dia hibur sudah tertidur. Attisya menyelimuti adik iparnya itu. Cokelat pun belum tersentuh, gumamnya.


Istri Adnan itu kembali ke ruang tengah mendatangi suaminya, setelah mematikan lampu kamar Elvina. Abi dan ummi sudah tidak ada di sana.


"Gak jadi menemani Nana, Sya?" Adnan mengulurkan tangan menarik Attisya untuk duduk di pangkuannya.


"Udah tidur orangnya Mas. Padahal baru aku tinggal sebentar, kelelahan kayaknya."


"Kamu istirahat juga gih, Mas temani Ken dulu," ujar Adnan. Attisya menangguk beranjak ke kamarnya. Sedang Adnan mencari Ken di kamar tamu. Ternyata suami Elvina itu juga tertidur. Tidur cepat pun kalian sampai janjian, gumam Adnan seraya mengusap lembut rambut adik kecilnya ini kemudian menyelimuti.


Merasa seperti ada yang menyentuhnya Ken membuka mata. "Kak Adnan," lirihnya.


"Kalau sudah lebih baik pindah kamar sana, kasihan Nana sendirian," saran Adnan.


Ken menurut kembali ke kamar, istrinya tertidur sambil memeluk beruang. Lelaki itu menyeka keringat di kening Elvina. Apa yang sakit sampai istrinya tidur berkeringat. Ken memeluk sang istri dari belakang. Dia melanjutkan tidur dengan nyaman.


"Abang!"


"Ken!" Teriak Elvina nyaring.


"El, ada apa?" Ken terbangun karena terkejut, istrinya masih bergumam memanggil-manggil namanya dengan mata terpejam.


"Abang, jangan tinggalin aku. Keeen!" Gumam Elvina sambil terisak.


"Sayang, bangun. Abang ada di sini." Ken menepuk-nepuk pipi Elvina. Tubuhnya demam, "Sayang, El bangun." Ken memeluk tubuh Elvina yang masih mengigau.


"Keennn!" Teriak Elvina nyaring, lalu terbangun. "Astaghfirullah," lirihnya dengan napas ngos-ngosan seperti habis lari maraton.


Ken menyeka keringat yang membasahi kening Elvina lalu kembali memeluknya. "Mimpi apa Sayang, sampai ketakutan begitu."


Elvina menatap lekat wajah Ken, "jangan pergi," lirihnya sambil memohon.


Ken mengambil air putih di atas nakas, "minum dulu El, Abang ada di sini, gak kemana-mana."


Elvina minum dengan tangan yang masih bergetar. Dia sangat takut kehilangan Ken sampai terbawa tidur.


"Kamu demam, Abang carikan obat dulu ya." Elvina menggeleng, "nanti aja. Jangan tinggalin." Perempuan itu menguatkan pelukannya di tubuh Ken.


"Abang cuma ngambil obat, Sayang." Bujuk Ken sambil mengelus pipi istrinya.


Elvina tetap menggeleng. Ken menurut untuk tetap diam memeluk istrinya. Tangannya meraba bekas jahitan di pergelangan tangan sang istri.


Dia sempat berpikir perempuannya ini terlalu lebay ingin bunuh diri karenanya. Tapi sekarang Ken sangat mengerti, betapa Elvina mencintainya dan sangat takut kehilangannya.


Seperti dirinya yang sangat takut kehilangan El-nya. Sampai benci jika mengingat orang yang selalu ingin menjauh darinya adalah perempuan yang ada dalam pelukannya ini.


"Sekarang sudah tenang?" Tanya Ken setelah cukup lama memeluk Elvina, perempuan itu mengangguk. "El tunggu sebentar, Abang ambilkan obat sama isi air minum ya," ucapnya lembut.


"Iya," Elvina menganggukkan kepala dengan malas, kembali berbaring di kasur.