EL & KEN

EL & KEN
157



"Persiapan sudah beres Na?" Tanya Raga ketika mereka sedang sarapan.


"Sudah beres semua, Kak Erin yang bantu menyiapkan." Ujar Elvina seraya memasukkan sandwich ke mulut.


"Aku cuma bisa antar kamu ke sana, gak bisa nemenin ya."


"It's oke, sudah ada Tante dan Dela yang nemenin."


"Abang tenang aja, aku bakal jagain Nana. Seekor semut pun gak akan kubiarkan menyentuh si Nona." Ujar Dela sambil menepuk dada. Raga memberikan tatapan meremehkan pada adiknya.


Selepas sarapan Raga mengantar Elvina ke lokasi bersama mama dan adiknya. Karena ini pertama kali untuk Elvina jadi dia harus memastikan semuanya sesuai arahan Erina.


Jogja Fashion Week di selenggarakan selama tiga hari di Jogja National Museum. Perhelatan yang menampilkan karya dari sekitar 86 desainer itu bertujuan untuk mendorong industri kreatif. Khususnya fashion agar dapat bangkit berkarya dan menciptakan produk-produk berkualitas serta mampu berdaya saing. 


Di backstage Elvina membantu persiapan untuk tampil. Enam busana rancangannya dibawakan para model di atas catwalk. Pemilihan warna dan jenis kain dilakukannya secara teliti agar tetap menarik namun mengutamakan kenyamanan pemakainya.


Pemilihan aksesoris juga diperhatikan hingga detail yang paling kecil. Seperti warna dan ukiran pada kancing misalnya, serta ketepatan ukuran dan kesesuaiannya dengan keseluruhan tampilan busana. Semua berkat bimbingan Erina, dia bisa melihat karya-karyanya di tampilkan.


Di hari ketiga lomba perancang mode telah memasuki putaran final. Elvina terpilih menjadi salah satu finalis JFW. Walaupun awalnya kurang percaya diri.


Di titik ini, para finalis diminta untuk menampilkan lima looks dari rancangan mereka. Di panggung final, dewan juri yang merupakan desainer kenamaan Indonesia, mereka menilai eksekusi teknis dan daya tarik dari rancangan busana para finalis.


Nama Elvina terpilih dari sepuluh finalis, dia menyabet juara tiga pada Jogja Fashion Week kali ini.


"Aaa, Nana kamu menang!" Pekik Dela girang saat nama Elvina disebutkan sebagai salah satu pemenang.


"Sstt, gak pake teriak-teriak juga kali." Elvina membekap mulut temannya itu.


"Bodo amat, gak ada yang kenal sama kita juga." Sahut Dela nyaring tak mengacuhkan Elvina.


"Serah aja deh, agaknya lo kelamaan hidup di hutan." Desis Elvina gondok, untung tidak ada yang mempedulikan mereka.


"Emang," jawab Dela dengan cengiran. Elvina tidak menanggapi lagi, daripada bikin malu. Bicara sama temannya itu bisa mengundang emosi. Lama kelamaan dia bisa hipertensi.


Beres acara mereka langsung pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, jalanan Kota Gudeg sudah lenggang.


Elvina memandang ke arah luar jendela mobil. Lampu jalanan di malam hari baginya selalu terlihat menawan.


"Na, gue ngerasa ada yang ngikutin kita deh." Dela mempercepat laju mobil sambil memperhatikan kaca spion.


Elvina mengikuti arah pandang Dela yang sedang menyetir. Hatinya langsung berdebar kencang. Tidak mungkin Deo yang mengikutinya kan.


"Kita berapa jauh lagi sampai rumah Del?" Tanyanya cemas.


"Masih lima belas menit, lo hubungi Abang Na." Dela masih berusaha untuk tenang dan fokus melajukan mobil.


Istri Ken itu mengangguk, segera menghubungi Raga. "Gak di angkat, Abang lo udah tidur kali. Gimana Nih?"


Baru selesai Elvina berucap, ban mobil berdecit nyaring, Dela mendadak menginjak rem. Di depan, mobil hitam menghadang jalan mereka.


"Tenang Na, tenang. Kita harus bisa berpikir tenang sekarang." Ujar Dela sembari menarik napas panjang. Dua orang laki-laki berperawakan tinggi besar mengetuk pintu mobil mereka.