EL & KEN

EL & KEN
177



Elvina mendekati Ken yang tertidur di sofa. Akhir-akhir ini dia susah mengendalikan emosi yang meledak-ledak tanpa sebab. Tangannya membelai lembut pipi Ken.


Sentuhan dari tangan Elvina yang dingin itu membuat Ken membuka mata.


"El," panggilnya dengan tersenyum. "Kenapa melamun, Sayang?"


Ken menarik pelan tubuh Elvina untuk berbaring di atasnya, "kamu mikirin apa lagi, hm?" Suami Elvina itu kembali bertanya saat istrinya betah diam.


Perempuan itu menggeleng pelan dengan wajah sendu.


"Apa yang bikin kamu takut, Sayang?" Ken mengelus rambut Elvina yang masih basah.


"Aku masih belum mandi loh, kamu nanti jadi bau lagi. Kita mandi bareng mau?" Goda Ken demi mendapatkan respon dari istri tercintanya ini.


"Tangan aku sampai keriput gini, gak mau mandi lagi." Akhirnya Elvina bersuara juga, Ken tidak tau berapa lama istrinya itu berendam. Sudah tiga hari ini, istri Ken itu berendam lama karena merasa kotor.


"Kamu bisa sakit kalau kelamaan berendam, El." Ken menggenggam tangan Elvina yang terasa dingin.


"Aku kotor, Ken." Lirih Elvina, suara itu terdengar memilukan di telinga Ken. Siapa yang sudah tega menghancurkan mental istrinya seperti ini.


"Kamu gak kotor Cinta, nih aku mau meluk kamu." Ken mematahkan pikiran jahat yang membisiki kepala istrinya itu. "Ikut Abang jemput Raga, mau?"


Elvina mengangguk kecil, Ken menghadiahi kecupan di pipi sang istri.


"Abang mau mandi, mau ikut nggak?" Ajak Ken lagi. Dia ingin Elvina tidak hanya diam. Istrinya itu menggeleng pelan.


"El gak mau olahraga dulu, udah bangun nih." Rayu Ken, "nanti Abang mandiin deh hadiahnya." Katanya dengan tatapan berbinar-binar.


"Abang mau?"


"Tapi aku gak mau," ujar Elvina sendu.


"Ralat deh, gak jadi. Abang gak mau El sedih gini." Ken mengecup kedua tangan yang di genggamnya.


"Aku gak sedih!" Ujar Elvina diikuti gelengan.


"Terus kenapa, Cinta?"


"Malas ngomong."


"Gak usah ngomong, El dengerin Abang aja kalau malas."


Elvina membenamkan wajah di bahu Ken dengan nyaman. Sedang Ken, sekuat tenaga menahan gairahnya.


Setelah cukup lama saling diam, Ken merasakan tubuhnya tersetrum hebat. Istrinya ini tidak mengerti sama sekali. Dengan santainya perempuan itu mendusel-dusel leher Ken. Andai tidak memikirkan psikis Elvina, dia sudah memangsa istrinya ini.


"Sayang, udah dong. Abang gak kuat." Lirih Ken yang sudah dipenuhi api gairah. Bukan berhenti, Elvina malah semakin liar menyesap dan menggigit di sana.


"Argh, Sayang." Erang Ken, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi menyambar bibir Elvina lalu menyesapnya dengan lembut dan lama. Membawanya dalam pertempuran panas.


Ken kehabisan tenaga setelah memangsa istrinya dengan buas. "Kenapa godain Abang, Sayang?"


Perempuan itu hanya tersenyum, "tidur Abang." Ucapnya seperti menghipnotis, Elvina tidak mau berpindah dari atas tubuh Ken. Lelaki itu memejamkan mata dan terlelap dalam damai.


Elvina menempelkan pipinya pada pipi Ken. Dia sangat menyayangi suaminya ini. Pikirannya selalu mengatakan kalau kehadirannya hanya menyusahkan dan membuat Ken malu saja. Sering dia terpikir untuk mengakhiri hidup lagi, namun segera dilawannya.


Matanya menatap sendu wajah Ken, bibir mungilnya dia daratkan di bibir sang suami. Lalu mengecupnya dengan lembut. Elvina menempelkan begitu saja, menikmati setiap hembusan napas Ken. Dia akan gila jika kehilangan Ken, begitu sebaliknya. Itulah yang menguatkan dirinya untuk tetap bertahan.