
"Assalamualaikum."
Elvina mengucapkan salam pada sang paman yang sedang membersihkan rumput di pekarangan.
"Wa'alaikumsalam, Nana." Pria paruh baya itu langsung mencuci tangan dan menyambut uluran tangan Elvina.
"Paman." Isak tangis Elvina pecah, dia sudah tidak tahan lagi untuk pura-pura kuat.
"Masuk dulu, cerita di dalam." Zayid menuntun keponakannya masuk ke ruang tengah. "Ada apa?" Tanyanya setelah mendudukkan Elvina.
"Kangen Papa." Lirihnya pelan, Zayid memeluk keponakannya erat.
"Aish, ada adikmu. Buatkan cokelat." Teriaknya pada sang putri.
"Iya Bi," Aish sudah tau kesukaan adiknya itu. Tidak jauh-jauh dari hal yang berbau cokelat.
"Paman, andai aku adalah orang yang merebut kebahagiaan Aish. Apa Paman masih memaafkanku?" Tanyanya dengan suara sangat pelan.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak." Elvina menggeleng pelan, dia tidak sanggup kalau harus jujur sekarang.
"Kalau aku merebut calon suami Aish, apa Paman akan memaafkanku?"
"Itu tidak akan terjadi, Nana. Karena kamu tau aku sangat mencintai lelaki itu." Sela Aish yang datang membawakan segelas cokelat dan kopi untuk sang abi.
"Tentu." Elvina mengangguk lalu tersenyum.
"Kenapa bertanya seperti itu, kamu ada masalah apa?" Tanya Zayid lembut.
"Mama ingin aku menikah Paman, tapi aku tidak bisa bersama lelaki itu. Karena ada orang yang lebih mencintai lelaki itu. Aku bingung, aku tidak ingin bertengkar dengan Mama. Tapi aku juga tidak sanggup menyakiti perempuan itu." Jelas Elvina.
"Kalian saling mencintai?" Tanya Aish, Elvina mengangguk lemah hampir tak terlihat.
"Kamu berhak bahagia bersama orang yang kamu cintai." Nasehat Zayid lembut.
"Aku sangat menyayangi perempuan itu, Paman. Tidak bisa menyakitinya. Lagian aku tidak pantas untuk lelaki itu." Ucapnya sangat lirih dengan suara bergetar. Elvina menggigit bibirnya agar tak menangis lagi.
"Jodoh Allah yang mengatur Sayang, jika dia jodohmu. Kamu tidak akan bisa mengelak."
Elvina bergeming lalu melepas cincin dan kalungnya.
"Dan ini, dia bilang sebagai hadiah." Elvina meletakkan cincinnya di meja. Aish mengambil cincin itu juga dan mengamati ukiran nama pada cincin itu.
"Kamu tidak bisa seperti ini Na, kamu tau aku sangat mencintainya. Kenapa kamu mencintainya juga." Aish meletakkan kalung dan cincin itu lalu berlari ke kamar sambil menangis. Dia seperti dihantam batu meteor, baru tadi malam Ken mengabari akan pulang dan langsung melamarnya. Sekarang adik sepupunya datang membawa berita yang sangat tidak ingin dia dengar.
"Aku sudah jujur Paman." Elvina mengambil kalung dan cincinnya lalu menunjukkan pada Zayid. "Aku tidak tau kalau lelaki yang dicintai Aish itu Ken. Dan aku juga tidak tau kalau pemilik kalung ini Ken."
"Kamu taukan kalau Aish sudah mau menikah dengan Ken?"
"Iya tau Paman." Sahut Elvina dengan senyuman yang mampu menyobek hati.
"Tinggalkan dia, biar Paman yang bicara dengan mamamu." Tegas Zayid, dia tidak bisa melihat putrinya bersedih.
Elvina mengangguk lalu memasang kembali kalung dan cincinnya. Dia pamit pulang, tak ada air mata lagi yang terjatuh. Elvina bingung harus bagaimana menghadapi sang mama.
Dia tidak tau harus menenangkan diri kemana sekarang. Elvina takut sendirian di luar. Takut Azmi menyakitinya lagi.
Setelah berpikir lama akhirnya Elvina meminta bantuan Sabil. Lelaki itu menjemput dan menemaninya berkeliling.
"Sabil, aku males pulang ke rumah. Tapi takut juga kalau sendirian." Adunya pada lelaki yang sedang mengemudikan mobil itu.
"Ikut aku pulang, mau? Sekarang sudah sore, di rumah ada orang tua dan adikku, perempuan kok." Ujar Sabil berbaik hati memberikan Elvina tumpangan tempat tinggal.
"Emang boleh?"
"Boleh, nanti aku jelasin sama Mama kalau kamu anak pungut Pak Nazar." Katanya seraya terkekeh kecil.
"Sabil, aku bukan anak pungut, adanya juga anak gak tau diuntung." Ucap Elvina lirih.
"Hust ah, niatnya bercanda malah dibawa sedih lagi."
"Kalau aku mati orang pada nyariin aku gak, Bil?"
"Enggak, yang ada malah senang."
"Iya ya, pasti senang kalau gak ada yang ngerepotin lagi." Elvina menatap ke arah luar jendela, "pengen bahagia aja rumit banget ya Bil." Lanjutnya dengan suara sendu. Sabil jadi merasa bersalah. Padahal dia cuma mau membuat gadis itu tertawa tapi malah ditanggapi serius.