EL & KEN

EL & KEN
188



"Adnan, Ken, kalau beli sesuatu jangan cuma satu." Lelaki paruh baya itu menatap kedua putranya.


Semenjak hamil, Attisya suka iri dengan apa yang Elvina punya. Nazar antisipasi agar kedepannya tidak ada keributan seperti ini lagi.


"Iya Bi," sahut Adnan dan Ken bersamaan.


"Tapi itu cokelat Nana, Abi." Sanggah Elvina, dia tidak mau dibagi. Ken membelikan untuknya.


"Iya Sayang, itu cokelat Nana." Nazar tidak membantah, karena memang punya Elvina.


Attisya meletakkan satu plastik besar cokelat ke atas meja. Nazar memijat kepala pusing. Pantas saja Elvina marah, cokelat sebanyak ini diambil kakak iparnya. Sedang Ulfa hanya senyam-senyum sendiri menyaksikan tingkah kedua menantunya.


"Ini cokelat Sya," Nazar memberikan gelas cokelatnya pada ibu hamil itu. "Mi, tolong buatin cokelat Nana," pintanya. Sang istri mengangguk mengerti.


"Sekarang nonton tv sama-sama. Kalau gak mau, salah satu nonton di kamar." Usul Nazar, Elvina membenamkan diri dalam pelukan Ken karena dia yang harus mengalah dengan ibu hamil itu.


Usai pertengkaran gara-gara remot dan cokelat Ken membawa Elvina masuk ke kamar sambil membawa segelas coklat. Istrinya masih memasang wajah cemberut.


"El sabar ya Sayang. Minum dulu cokelatnya dulu, ini buatan Ummi loh, pasti enak." Ujar Ken seraya menghidupkan televisi sesuai channel yang diinginkan Elvina.


"Aku gak salah, kenapa aku yang harus ngalah." Elvina masih tidak terima dia yang harus menonton televisi di kamar.


Ken memeluk istrinya, mau bicara takut salah berucap yang berujung perkara tambah panjang.


"Gak papa kita nonton di sini. Lebih tenang," katanya cari aman. Elvina tak menyahut, memainkan jari jemarinya.


"Sayang!" Panggil Ken, Elvina masih merajuk.


"Sayangnya Abang," Ken menjawil-jawil hidung Elvina.


"Aku lagi ngambek, Abang!"


"Ini Abang lagi bujuk," ujar Ken tersenyum geli dengan tingkah istrinya ini. "Daripada ngambek, mending kita pacaran," usulnya.


"Nggak cari kesempatan, Cinta. Emang ada kesempatannya," ujar Ken gemas.


"Kak Sya kenapa suka ngeselin sih sekarang, Bang?"


"Lagi hamil muda, Sayang. Lagi suka cari perhatian. Jangan diambil hati, nanti bikin kamu kesal sendiri." Jelas Ken lembut, membawa tangannya mengelus-elus pipi Elvina.


"Tapi aku gak ngapa-ngapain, Kak Sya yang gangguin aku." Adu Elvina dengan bibir dimanyunkan.


"Udah gak usah diladenin, nanti dia berhenti sendiri El. Baby girl kayaknya, suka cari perhatian gitu."


"Emang gitu?"


"Ya gak tau, aku cuma asal nebak aja." Sahut Ken dengan kekehan.


"Aku juga mau," ujar Elvina sendu.


"Belum dikasih Sayang, nanti kita ikhtiar lagi ya."


Ken tidak berani berharap cepat. Elvina masih mengkonsumsi obat anti depresan yang sedikit banyak bisa mempengaruhi peluang kehamilan.


Perempuannya itu tersenyum lalu mengangguk. Ada Ken selalu di sampingnya itu sudah cukup. Dia akan bersabar kalau Allah belum memberikannya kepercayaan sekarang.


"Kita nikmati waktu berdua dulu ya, nanti kalau sudah punya baby kamu akan sibuk sendiri. Aku dilupain."


"Ih kok gitu, mana bisa aku lupa sama kamu. Kamu kali yang lupain aku," Sindir Elvina.


Ken mengumpati dirinya sendiri, dia salah bicara.


"Aku gak minta buat lupa sama kamu, Sayang. Kan musibah," lirihnya.


Kalau ingat awal dia melupakan Elvina dan memperlakukan dengan kasar. Ken sangat menyesal karena tidak bisa mengendalikan diri. Walau sekarang belum bisa mengingat semuanya. Dia akan tetap mencintai Elvina dan memperlakukannya dengan baik.