
"Jangan berantem terus, akur-akur di sana." Kila memeluk Elvina dan Ken bergantian. Mereka sedang berada di bandara, mengantar sepasang suami istri itu pergi ke Kairo. Erland dan Inara juga ada di sana.
"Kami sayang-sayangan terus kok Ma, gak berantem. Iyakan Sayang?" Ken menyenggol sang istri di sampingnya sambil tersenyum jahil.
"Pulang nanti Abi dibawain cucu dong," goda Nazar.
"Doain aja ya Bi." Ken merangkul Elvina yang sensitif kalau disinggung masalah hamil. Padahal dia tidak masalah, pernikahan mereka juga masih hitungan bulan.
"Jangan nakal sama Nana, Ken." Peringat Ulfa dengan tatapan tajam.
"Ummi kok jadi galak," Ken memeluk dan mencium umminya tersayang itu. "Ken gak nakal sama El, Ummi. Ken akan jagain menantu kesayangan Ummi itu dengan baik." Ujarnya seraya mengurai pelukan.
Adnan ikut mendekat memeluk adik-adiknya tersayang itu. "Kalian sehat-sehat di sana. Saling menguatkan, oke."
"Iya Kak," sahut Ken dan Elvina bersamaan.
"Tumben akur," Adnan terkekeh kecil.
"Kami selalu akur kalau di tempat tidur Kak," ujar Ken yang mendapat tatapan tajam dari Elvina.
"Erfan gak ikut?" Tanya Elvina, mencari-cari lelaki yang selalu membuat keributan dengannya itu. Attisya tidak bisa ikut, ibu hamil itu setiap pagi mengalami muntah-muntah.
"Gak ada, Sayang. Ayo kita masuk." Ajak Ken, setelah berbicara dengannya dua hari yang lalu. Erfan tidak ada datang ke rumah lagi. Hari ini Ken juga tidak melihat batang hidung lelaki itu.
Elvina mengangguk, "Abang ngobrol apa terakhir sama Erfan?" Tanyanya.
"Ngobrol biasa, Sayang." Ujar Ken, dia tidak mungkin menceritakan apa yang mereka bahas waktu itu. Semua tentang perasaan Erfan pada istrinya.
Dari kejauhan Erfan mengamati dua orang yang semakin menjauh itu. Dia seperti kehilangan Elvina selamanya. Mengapa sangat sulit untuknya melupakan perempuan itu.
Ken langsung menelpon Erfan, dia tidak bisa melihat istrinya seperti ini. Suami Elvina itu berdecak saat tau lelaki yang di tunggu ada di bandara. Tidak lama yang di tunggu datang menghampiri.
"Lo kemana aja sih, bikin El nyariin aja deh. Sok minta dicariin segala." Ken mengepalkan tangan, meninju sahabatnya itu pelan.
"Gue takut pengen ikut juga," jawab Erfan dengan kekehan.
"Katanya mau ketemu kenapa diam aja, hm." Erfan menepuk kepala Elvina yang sedari tadi diam dengan lembut, "jangan sedih, aku sudah ada di sini." Lanjutnya dengan bibir terangkat.
"Sayang, mau ngomong lagi. Kalau enggak kita langsung check in," Ken merangkul baru Elvina.
"Mau peluk boleh?"
Ken ragu untuk menjawab, keluarganya sudah pulang. Dia menatap Erfan bingung, kemudian mengangguk. Percaya, Elvina menyayangi Erfan tidak lebih seperti perempuan itu menyayangi Adnan.
Erfan langsung merentangkan tangan. Tidak taukah perempuannya ini, dia akan semakin sulit melepaskan kalau Elvina bersikap manja seperti ini.
"Aku sayang kamu, jangan sedih dan jangan pikirkan aku. Jangan manja berlebihan sama Ken ya." Erfan tersenyum mengusap kepala perempuan yang paling dia sayang itu. Takdir cinta memang tidak berpihak padanya.
"Lupain aku Erfan, aku sayang kamu. Aku mau kamu bahagia seperti Kak Adnan. Kalian bertiga orang yang sangat berarti dalam hidup aku. Jangan siksa hatimu dengan mencintaiku."
"Aku akan mencobanya, kepalamu jangan digunakan untuk memikirkan aku," ujar Erfan dengan kekehan kecil. Padahal hatinya sedang terluka sekarang.
Erfan mengurai pelukannya lalu beralih memeluk Ken. "Maafin gue, kalian harus bahagia di sana." Erfan menepuk bahu Ken lalu menjauhkan badannya.
"Move on!" Ujar Ken sambil berjalan menjauh.
Move on, kata keramat yang paling Erfan benci. Andai semudah itu melakukannya, sudah sedari dulu dia lakukan.