
Sepulang dari klinik Ken membawa Elvina ke pusat perbelanjaan. Ngantuknya sudah hilang, ingin beli novel katanya. Ken menurut saja apa yang diinginkan kesayangannya itu.
"Abang, mau membacakannya nanti untukku?" Elvina menunjukkan sebuah novel dengan genre romantis.
"Sayang, Abang gak bisa baca buku seperti itu." Ujarnya yang sukses membuat Elvina merengut. Eh, ada apa dengan istrinya ini yang mulai terlihat manja. "Abang belikan aja ya, El baca sendiri," bujuk Ken.
"Aku mau beli yang banyak," kata Elvina ketus. Ken membulatkan mata, bukan karena takut menjadi jaminan karena tidak bisa membayar. Bisa-bisa Elvina nanti melupakan dirinya kalau keasyikan membaca novel.
"Boleh, tapi ada syaratnya, gak boleh cuekin Abang gara-gara keasyikan baca novel itu. Kalau melanggar Abang bakar semua novelnya."
"Okeh, janji." Elvina bergelayut manja di pinggang suaminya, sambil memilih-memilih buku yang ingin dibeli. Ken sampai bingung dengan tingkah perempuan yang baru satu minggu dia nikahi ini.
"Sayang, ini dibacanya kalau lagi nemenin Abang di kantor aja ya."
"Kenapa?" Tanya Elvina bingung.
"Kalau di kamar cukup baca isi hati Abang," Ken mengedipkan mata jahil.
"Abang mesum!"
"Eh, istri sendiri, bukan istri tetangga yang dimesumin." Ken membela diri, suasana hatinya lebih baik setelah dua kali bertemu psikiater, juga sering sharing dengan Raga. Dia tidak pernah marah-marah dengan Elvina lagi.
"Emang mau sama istri tetangga." Elvina melotot pada suaminya yang cengar-cengir sendiri.
"Kalau dibolehin." Sahut Ken yang berakhir mendapat cubitan keras di perut.
"Nanti malam tidur sama istri tetangga aja, jangan sama aku." Elvina mendengus sebal. Dejak kejadian di butik pagi tadi, dia jadi lebih sensitif dan manja, entah karena apa.
"Istri tetangga gak semenggoda kamu, Sayang. Tetap kamu selamanya untuk Abang." Elvina mengabaikan ocehan suaminya, bisa-bisanya mereka mengumbar kemesraan di tempat umum seperti ini. "Abang, ambilin itu gak nyampe."
"Makanya tumbuh itu ke atas, bukan ke samping." Ken mengambil buku lalu mencium pipi Elvina sebagai imbalannya.
"Abaang, kok malah promosiin produk orang. Mana genit lagi, malu kalo ada yang lihat." Ujar Elvina kesal, tobat dah dia jalan-jalan sama suaminya ini.
Dengan sabar Ken menemani istrinya berkeliling gramedia. Entah berapa lama sudah mereka berada di sana.
"Mau apa lagi Sayang, tas, sepatu, baju atau apapun." Tawar Ken, dia tidak tau apa kesukaan istrinya itu. Elvina lebih memilih gaya hidup yang sederhana, padahal kekayaannya bisa untuk membiayai hidupnya jika ingin tampil glamor.
"Mau pulang, kalau Abang mau beli apa?" Tanyanya tak berminat apapun lagi.
"Abang mau jam tangan," Ken membawa Elvina menuju gerai jam tangan mewah. "Pilihkan satu buat Abang," pintanya manja.
"Yang ini suka?" Elvina menujuk asal, dia bahkan tidak tau suaminya itu suka yang seperti apa.
"Abang sudah punya yang seperti itu."
"Itu," Elvina kembali menunjuk asal.
"Sudah punya juga."
"Itu," Ken masih menggeleng, membuat Elvina jengkel. Sudah tau Elvina tidak mengerti jam seperti apa yang dimau malah disuruh milih. "Abang pilih sendiri aja, aku gak bisa milih." Kesalnya dengan menghentak-hentakkan kali.
"Ini model terbaru Mas, limited edition." Seorang karyawan perempuan memberikan pada Ken dengan tersenyum manis. Mata perempuan itu tidak berkedip memandang suaminya.
"Nah, ini yang saya cari." Ujar Ken membalas senyuman perempuan itu. Dia berjalan menuju kasir untuk membayar, membiarkan Elvina menunggu dengan kesal.
Giliran dia yang milih ditolak semua, Elvina menggeram sangat jengkel. Kecentilan banget sama suami orang deh, gumamnya kesal.
"Abangnya ganteng banget dek, bisa buat saya." Elvina memberikan senyum masam menggandeng Ken dengan cepat untuk keluar dari toko.
"Kenapa Sayang?"
"Mbak-mbaknya genit, masa minta Abang buat dia." Ken terkekeh merangkul pinggang Elvina posessif.
"Makanya panggil sayang atau cinta biar orang gak salah paham lagi." Lelaki itu menggoda Elvina yang jadi makin kesal karenanya. "Ingat kalau di luar panggil sayang." Ken menegaskan pada istrinya sambil menyeringai.