
Ken terpaksa berangkat ke kantor dan menghadap abi yang memanggilnya karena tidak pulang ke rumah. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Elvina. Hatinya sedang terluka dan tersiksa rindu namun tak ada tempat untuk mengadu.
"Ken bagaimana hatimu?" Tanya Nazar, Ken menundukkan kepalanya tidak berani menatap abi yang bertanya.
"Maksudnya Bi?" Sahut Ken singkat, pura-pura tidak paham dengan pertanyaan itu.
"Aish putri Zayid." Jawab Nazar, dengan memberikan tatapan tajamnya pada sang putra.
"Bi jangan bahas di sini, nanti El dengar." Pinta Ken lirih.
"Apa sebenarnya yang kamu rasakan?"
Elvina yang mau masuk keruangan Nazar menghentikan langkahnya di depan pintu mendengar percakapan orang yang ada di dalam.
"Bi, kita bahas di rumah saja ya?"
"Abi mau dengar sekarang Ken, kamu tadi malam di rumah Zayid 'kan dan menyetujui permintaannya menikah dengan Aish." Tegas Nazar, tak mempedulikan permintaan putranya.
"Aku bingung Bi, aku sangat mencintai El, tapi dia tidak menginginkanku." Jawab Ken pelan, hatinya tidak tenang membicarakan ini di kantor.
Elvina membeku di tempat, Ken benar-benar memilih pergi. Seharusnya dia bahagia, lalu kenapa jadi terasa sakit begini.
"Apa kamu menyayangi Aish?"
"Dia perempuan yang baik Bi. Lagian El juga menolakku dia hanya menginginkan Azmi."
"Bawa istikharah Nak, kadang banyak pilihan yang tidak dapat kita putuskan sendiri." Saran Nazar, dia mengerti kekalutan putranya.
"Aku sudah menerima tawaran menikahi Aish, Bi." Tegas Ken, berharap abi menerima pilihannya.
"Apa kata Adnan benar, kamu terlalu keras kepala. Mengambil pilihan dalam keadaan emosi."
"Nana kenapa?" Tanya Adnan pada dirinya sendiri. Dia melihat wajah murung gadis itu. Pasti ada yang tidak beres, batinnya. Adnan segera memasuki ruangan abi-nya.
"Kalian bicara apa tadi?" Tanya Adnan dengan emosi. Dia sudah curiga melihat wajah lemas Ken.
"Adnan kamu kenapa?" Tanya Nazar balik. Putranya itu masuk ruangan langsung emosi.
"Nana sejak tadi berdiri di depan pintu," tekan Adnan.
"Biarkanlah Kak, aku lelah mengejarnya," sahut Ken.
"Pengecut Ken."
"Di hatinya hanya ada Azmi, Kak." Ken ingin Adnan mengerti dengan keadaannya sekarang. Memang benar dia pengecut.
Dia lelah mengejar Elvina yang sudah berkali-kali menolaknya. Tidak ada alasan lagi untuk Ken bertahan sekarang. Dia melakukan semua ini agar Elvina bahagia.
Akan selalu Ken simpan cinta ini untuk Elvina. Cintabya tidak akan pernah berubah. Biarlah waktu yang akan mengobati kerinduannya nanti.
"Kalau memang benar begitu, dia tidak akan sedih seperti tadi. Kalian sudah menyakiti adikku."
"Kak, El tidak mau menerimaku."
"Kamu bisa membicarakan semua ini dengan kami dulu Ken sebelum mengambil keputusan, di sini ada Abi dan aku. Kenapa terlalu keras kepala." Ucap Adnan dengan penuh amarah, kemudian berlari keluar ruangan mencari Elvina.
"Bi aku lelah tolong mengertilah." Ken menatap sang abi seolah memohon.
"Abi tak pernah mengerti jalan pikiranmu Ken, saat Nana sudah membuka hatinya untukmu, kamu malah menerima permintaan Zayid tanpa memberi tahu Abi."
"Aku mau pulang dulu, Bi. Maafkan aku sudah membuat Abi kecewa." Ken meninggalkan Nazar tanpa menunggu persetujuan. Susah untuk Ken menjelaskan, tidak ada yang berada dipihaknya.