EL & KEN

EL & KEN
155



"Jadi pulang hari ini?" Tanya Raga pada Ken, pagi-pagi dia sudah berada di hotel menjemput sepasang suami istri itu.


"Keterlaluan lo Ga, gue jadi gak bisa pulang. El sampai sakit gini, berapa banyak yang lo masukkan, hah." Kesal Ken, sambil mengusap kepala Elvina yang tertidur.


"Gak banyak, masih dalam batas aman." Jawab Raga santai sambil cengengesan. "Asyikkan, semalaman bertempur."


"Dokter sinting," desis Ken kesal.


"Obat pereda nyeri," Raga melemparkan obat ke tangan Ken sambil tertawa kecil. Ken geleng-geleng kepala, seniat itu sampai semuanya sudah disiapkan. Dasar dokter sakit jiwa ini.


"Gue gak tau harus berterimakasih atau menghajar lo sekarang." Kalau tidak ada istrinya sudah Ken hajar dokter lucknut ini, menambah masalah hidupnya saja.


"Jaga emosi, nanti Nana kena imbasnya." Raga mengingatkan, Ken menarik napas panjang, mencoba mengabaikan dokter terlucknut yang pernah ditemuinya.


"Abang berisik, ngomong sama siapa sih." Ujar Elvina ketus masih dengan mata terpejam. Tidurnya terganggu karena suara berisik itu.


"Itu ada Raga, Sayang. Kalau mau hajar, hajar aja." Ujar Ken, Elvina membuka mata langsung bangkit dari tidur.


"Minum obat dulu, Sayang, pereda nyeri." Ken mengambilkan air putih. Elvina menurut mengambil obat dari tangan Ken dan meminumnya.


"Sini!" Panggil Elvina garang pada Raga, tangannya mengisyaratkan untuk mendekat.


Raga meringis lalu mendekat duduk di sisi ranjang.


"Ih, ngeselin banget. Badanku sakit semua, kamu harus tanggung jawab." Elvina menjambak rambut Raga sesuka hati. Ken hanya menyaksikan sambil tertawa.


"Ken yang berbuat, kenapa aku yang harus tanggung jawab." Lirih Raga sambil menahan sakit kepalanya yang ditarik-tarik kasar.


"Maaf," cicit Raga. Tidak menyangka Elvina sampai menangis karena ulahnya ini. Dia tidak berniat begitu, hanya ingin mereka bersenang-senang.


"Sstt, Abang kan gak jadi pulang sekarang. Abang temani El sampai baikan di sini." Ken menarik istrinya dalam pelukan.


Setelah Elvina lebih tenang mereka pulang ke rumah Raga. Kalau tau begini, Ken lebih memilih mengguyur istrinya tadi malam. Elvina sampai susah berjalan.


"Nana kenapa?" Galuh menyambut Elvina dan Ken dengan tatapan heran. Suami dan putrinya sudah bernagkat kerja.


"Salah Raga Mah, sudah keterlaluan mengerjai mereka. Nana sampai sakit." Raga mengakui dosanya pada sang mama.


Galuh melotot pada putra sulungnya, "kamu ya kalau gak di jewer, gak berhenti nakal. Mama sudah bilang jangan gangguin Nana sama Ken." Perempuan paruh baya itu menjewer telinga Raga sampai merah.


Elvina sampai meringis, "Nana gak papa Tante, sudah minum obat nanti hilang kok sakitnya." Ujarnya tidak tega.


"Antar mereka ke kamar, awas kamu ganggu lagi." Ancam Galuh setelah melepaskan tangannya, Raga mengangguk dengan wajah kecut sambil mengusap telinganya. Ken menahan diri agar tidak mentertawakan dokter lucknut itu.


Raga membawa Ken dan Elvina ke kamar tamu, "kalian istirahat, gak perlu obat tidurkan?"


"Jangan macam-macam, atau gue sunat lo." Geram Elvina, Raga langsung kicep kabur meninggalkan kamar. Perempuan kenapa garang-garang sih, gumamnya.


"Abang masih sempat kalau mau pulang, aku gak papa kok di sini. Nanti juga sembuh." Kata Elvina saat Raga sudah tidak ada di kamar mereka.


Ken menggeleng, "aku mau nemenin kamu di sini. Jangan dipikirin, istirahat lagi." Ujarnya, sembari memangku kepala Elvina. Dia harus mencari alasan agar kakaknya tidak mengamuk karena tidak jadi pulang.