EL & KEN

EL & KEN
182



Sepulang dari taman mereka mampir ke sebuah restoran membelikan titipan ibu hamil. Cukup lama Ken membawa Elvina berada di luar rumah. Istrinya itu sudah berani keluar, walau kadang masih suka cemas kalau bertemu orang.


"Mau makan di sini dulu El?" Tawar Ken, istrinya itu menggeleng cepat.


"Oke, kita makan di rumah lebih romantis bisa suap-suapan ya kan?" Godanya setelah selesai memesan, dia bisa mengerti Elvina masih kurang nyaman berada di keramaian. Berbeda ketika di taman suasananya lebih terbuka.


"Itu sih maunya kamu, Bang." Ucap Elvina sewot.


"Masa sih, kata Kak Adnan kamu sukanya makan sambil disuapi." Goda Ken seraya menoel hidung sang istri. Elvina tidak menjawab, hanya memanyunkan bibir cemberut.


Tanpa mereka sadari ada yang mengawasi dari kejahuan. Menatap tidak suka dua orang yang terlihat sangat mesra itu.


Ken menarikkan Elvina kursi, mereka menunggu pesanan datang disalah satu meja dekat kasir. Lelaki itu tidak berhenti menggenggam tangan istri tersayangnya.


"Hei, Ken makan di sini juga. Boleh gabung?"


Elvina menatap tidak suka pada perempuan yang sok dekat dengan suaminya.


"Bukan kursi kami kok," jawab Ken dingin sambil mengelus punggung tangan Elvina. Sangat jelas istrinya itu sedang menahan marah.


"Kalian sudah pesan?" Tanya Claudia ramah bertepatan dengan seorang pelayan yang datang mengantar pesanannya. Perempuan itu mengucapkan terimakasih.


"Eh, mbak yang ada di video viral itukan?" Tanya seorang pelayan yang barusan mengantarkan pesanan Claudia. Perempuan itu tersenyum mengejek pada Elvina. "Sayang banget jilbabnya," desisnya.


Elvina mematung di tempat mendengar perkataan itu. Dia takut, sangat takut mendengar orang lain berkata buruk tentangnya.


Napasnya terasa sesak seperti kekurangan pasokan oksigen untuk bisa bernapas dengn normal. Tubuhnya sudah bergetar. Jangankan melawan, untuk bertahan agar tetap sadar saja dia susah payah.


"Tutup mulutmu," Ken menunjuk murka perempuan yang sudah berani menghina istrinya.


Pelayan itu langsung kicep tidak berani lagi bersuara.


"Santai kali Ken, kalau faktanya memang begitu mau ditutupi bagaimana juga gak akan bisa." Ujar Claudia santai, meja mereka sudah menjadi tontonan.


"Diam kamu!" Ken menatap tajam Claudia, "sebelum otakmu sekolah harusnya mulutmu yang disekolahkan terlebih dulu." Sarkasnya tajam. Ken tidak rela mendengar Elvina dihina di depan matanya sendiri.


"Saya akan cari kamu, jangan harap bisa hidup tenang!" Ancam Ken pada pelayan perempuan itu, sebelum pergi menggendong istrinya yang sudah lemas ke mobil.


"Sayang, Sayang, El, Sayang." Panggil Ken seraya menyandarkan tubuh Elvina yang bergetar dengan tatapan kosong.


"Tarik napas, Sayang."


Elvina mengikuti instruksi Ken. Setelah Elvina lebih tenang Ken melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di rumah, Ken langsung menggendong Elvina masuk ke kamar.


"Nana kenapa, Ken?" Tegur Ulfa yang melihat Ken menggendong Elvina. Perempuan paruh baya itu mengikuti putranya masuk ke kamar.


Ken membaringkan tubuh sang istri dengan pelan, setetes air matanya terjatuh. "Sayang," panggilnya sambil mencium kening Elvina lama. Istrinya masih betah diam, Ken menyelimuti Elvina lalu membawanya dalam pelukan.


"Sayang, El dengar suara Abang. Jangan buat Abang khawatir, Cinta." Lirihnya sendu.


Ulfa bingung harus melakukan apa, otaknya mendadak buntu. Putranya asik mengajak Elvina bicara walau tidak mendapatkan jawaban. Dia tidak tau apa yang sudah terjadi dengan anak dan menantunya ini.


Perempuan paruh baya itu meninggalkan kamar Ken dengan buru-buru. Ulfa meminta anak dan suaminya untuk segera pulang.