
"Pasien mengalami kekerasan seksual, organ vitalnya mengalami sobek tidak beraturan. Karena menahan sakit yang tidak tertahan dia mengalami pingsan." Jelas sang dokter, Adnan menghela napas gusar setelah keluar dari ruangan dokter.
Elvina terbaring lemah di atas brankar. Apa yang harus dia katakan kalau Erland dan Kila menanyakan kondisi gadis itu.
"Sayang, kamu jaga Nana sebentar ya. Kabari kalau ada apa-apa."
"Iya Mas, hati-hati." Attisya mencium tangan suaminya. Adnan mengangguk lalu meninggalkan ruang rawat.
Dirinya sudah dipenuhi dengan amarah, setelah sampai rumah Adnan langsung mencari Ken ke kamarnya.
"Lo apakan Nana, hah? Lo bisa mikir sebelum berbuat. Kalau lo benci dia kenapa harus lo nikahi dia hah. Lo bisa cari perempuan lain kalau cuma mau muasin diri lo." Teriak Adnan berang, beberapa pukulan mendarat di perut dan wajah Ken. Napasnya memburu hebat, Ken yang kaget dengan pukulan dari Adnan tidak melawan.
"Adnan!" Pekik Ulfa, memeluk putranya yang sedang kesurupan dari belakang. Ken meringis duduk di sisi ranjang menahan perutnya yang sakit.
"Lo gak cukup nyakitin psikisnya sampai harus nyakitin fisiknya juga. Dimana lo taroh hati lo itu, hah."
Ulfa menguatkan pelukannya agar Adnan berhenti menghajar Ken. "Tenang Sayang, bicara dengan tenang." Lirih Ulfa, Adnan membalik tubuhnya memeluk sang ummi.
"Maafin Adnan, Mi." Ucapnya sendu, Ulfa mendudukkan putra sulungnya di sisi ranjang yang lain.
"Kalian kenapa?" Tanya Ulfa mendekati putra bungsunya yang kesakitan, perempuan paruh baya itu mengambil kain dan air hangat untuk mengompres pipi Ken yang memar.
"Kakak yang mukul aku duluan Mi." Adu Ken tidak terima.
"Kakak gak mungkin mukul, kalau kamu gak salah." Ucap Ulfa tenang sambil mengompres pipi Ken. Dia sudah menghubungi suaminya untuk pulang.
"Dia sudah bikin Nana masuk rumah sakit, Mi." Berang Adnan, menatap tajam adiknya.
Ken tak menjawab, dia pun tidak tau bagaimana kondisi istrinya setelah menggaulinya dengan kasar tadi. Meskipun Elvina memintanya berhenti karena kesakitan Ken tidak menghiraukan. Apa benar istrinya sekarang di rumah sakit.
"Gak berani bela diri kan lo?" Adnan mengusap wajahnya gusar, "apa bedanya lo sama bajing*an yang sudah merenggut kehormatannya secara paksa! Gak ada bedanya Ken, SAMA AJA. LO SAMA BAJING*ANNYA DENGAN LELAKI ITU." Desis Adnan dengan menekankan ucapannya.
Ken membeku ditempat, apa maksudnya. Ken sudah menuduh istrinya perempuan murahan.
"Aku kotor Ummi, Ken pergi ninggalin aku karena aku kotor Ummi."
Sekarang Ken baru mengerti dari ucapan yang direkam kakaknya saat di rumah sakit. Argh, kenapa dia jadi bodoh begini terlalu mudah terbakar emosi.
Ken berlari meninggalkan kamar mengabaikan rasa sakit di perutnya, dia harus melihat kondisi istrinya sekarang juga.
"Aku harap dengan kita menikah aku bisa lebih cepat sembuh dan kamu juga tetap baik-baik saja."
Kalimat yang tadi malam Ken ucapkan berputar-putar di kepalanya. Dia yang ingin Elvina baik-baik saja. Tapi dia juga yang sudah membuat gadis itu kembali terluka.
Harus berapa banyak kesakitan lagi yang diterima Elvina, ketika menunggunya sembuh dan memorinya kembali tentang kisah mereka.
Huhh, Ken menarik napasnya dengan berat. Bisakah dia melindungi Elvina dari emosinya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit lelaki itu berlari ke meja resepsionis menanyakan ruang rawat Elvina. Masih maukah istrinya itu memaafkan kesalahannya ini.
Masih pantaskah dia mendapatkan maaf setelah berulang kali menyakiti. Ken bahkan malu untuk menampakkan wajahnya di depan sang istri.