EL & KEN

EL & KEN
27



"Coklatnya enak?" Ken mengabaikan Elvina yang mengamuk padanya.


"Banget."


"Mau berbagi cerita denganku?"


"Tidak, terimakasih."


Elvina melayangkan senyuman menggodanya pada Ken, yang bisa membuat Ken berhenti bernapas mendadak.


"Kamu cantik kalau lagi marah dan tambah cantik kalau tersenyum seperti ini."


"Keenn jangan menggodaku."


"Tidak sadarkah kau El, kalau aku selalu menggodamu agar marah." Jujur Ken, dia memang selalu menguji kesabaran Elvina agar marah.


"Kamu jahat Ken selalu menyakitiku."


"Maaf Sayang..!"


"Heeii, hentikan memanggilku sayang. Tidak ada ijin untukmu memanggilku seperti itu!" Geram Elvina.


"Kalau begitu aku minta ijin padamu untuk memanggil El-ku, Sayang ya."


"Tidak akan Ken!"


"Mau dong El, ya yaa, mau ya."


"Berhenti memanggilku El dan berhenti menggodaku Ken."


"Kenapa?"


"Aku tidak suka!"


"Tidak suka apa takut jatuh cinta denganku Sayang." Ken semakin menjadi-jadi menggoda gadis di sampingnya ini. Muka kesal itu sangat menggemaskan.


"Keennn."


"Wajahmu tambah manis deh kalau cemberut seperti ini."


"Awas jangan menatapku, nanti kamu kena diabetes."


"Aku rela diabetes demi kamu."


Tak taukah Ken, kalau Elvina berusaha keras menahan debaran dalam dadanya.


"Jadi kalian pacaran di sini, dari tadi dicariin gak ketemu!" Adnan yang sejak tadi memperhatikan Elvina dan Ken menegurnya.


Dua orang berbeda jenis kelamin itu membalikkan badan bersamaan mendengar suara Adnan.


"Gara-gara kamu Ken!" Kesal Elvina lalu cemberut pada Ken.


"Biar kita langsung dibawa ke penghulu El." Ucap Ken sambil cekikikan.


"Dasar!" Elvina mencubit tangan Ken dengan keras lalu memelintirnya.


"Nana, jaga tangannya!" Tegur Adnan yang menyembunyikan tawanya.


"Maaf, Kak." Cicit Elvina, lalu tersenyum mengejek Ken yang kesakitan.


"Ayo keruangan Pak Nazar sudah ditunggu." Adnan masih memperhatikan dua sejoli yang saling pandang.


***


"Bagaimana Nana, Ken?" Nazar menatap wajah putranya yang akhir-akhir ini selalu ceria.


"Cantik Bi, meskipun garang." Sahut Ken sembari tersenyum membayangkan Elvina memberikan senyum yang merekah padanya.


"Kamu lihat, betapa tak gentarnya dia saat menghadapimu. Tapi saat di sebutkan kata Papa dia langsung mengalah."


"Kasian dia Bi, aku tidak tega melihatnya selalu menangis setiap hari di taman belakang. Dan aku juga tidak kuat selalu marah-marah dengannya."


"Salah siapa dulu menolak saat Abi mau langsung melamarnya untukmu."


"Bi, aku tidak ingin membuat El terpaksa menerimaku."


"Kalau sekarang bagaimana kalau kita lamar dia?"


"Sangat ingin aku melamarnya Bi, tapi dia masih belum memberikan hatinya untukku." Jujur Ken masih takut kalau Elvina mengetahui orang yang ditunggu gadis itu adalah dia. Apakah Elvina masih mau menerimanya.


"Bersabarlah Nak, Abi tau kamu bisa meluluhkan hatinya." Ujar Nazar optimis.


"Semoga saja Bi." Ken tersenyum pasrah.


"Bawalah dia dalam setiap doamu. Apalagi kalau dalam sholah tahajud, Nak."


"InsyaAllah. Kenapa Abi begitu menyayangi El?"


"Tiga tahun yang lalu Papa Nana mentitipkannya pada Abi, Nak."


"Suatu saat nanti kalau aku sudah tidak ada tolong jaga Nana seperti anakmu sendiri ya. Aku tidak bisa memaksanya untuk menikah dengan Ken karena dia sudah memiliki pilihan hati sendiri."


"InsyaAllah Al, aku akan menjaganya seperti anakku sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan itu, kita sudah seperti saudara."


"Dia anak yang cerdas, namun sangat susah membuatnya bangkit ketika sedang terpuruk. Aku takut jika kehilanganku nanti akan membuatnya sangat sedih."


"Aliandra.. Aliandra kamu bicara seperti ini seolah mau mati besok saja."


"Kita tidak pernah tau kapan maut itu akan menjemput, sebelum semuanya terlambat Zar."


"Bukankah Elvina sudah punya pilihan hatinya sendiri Bi, seperti yang Papanya bilang?"


"Setelah Papanya meninggal, Elvina sudah mau menikah. Tapi Azmi Azzam harus pindah ke NTT jadi dia memutuskan Nana. Nana tambah terpukul dengan kepergian Azmi, dia menangis setiap hari. Kakakmu yang selalu menemaninya saat terpuruk Ken."


"Aku juga sudah membuat luka di hatinya. Hanya kak Adnan yang tidak pernah menyakitinya, Bi."


"Dia pemaaf, hatinya sangat lembut. Nana pasti akan memaafkanmu, Nak. Sudah keluar sana nanti Ummi curiga kita terlalu lama di sini." Ken mengangguk lalu meinghalkan sang abi.


"Tunggu aku datang untuk melamarmu sayang, aku akan segera menemuimu. Aku sudah menyerah dengan rindu ini."