EL & KEN

EL & KEN
24



Abi hari ini tidak ada, kemana Ken harus minta tolong. Bertanya dengan karyawan di sini pasti ketahuan kalau dia memperhatikan El. Ken mengunci pintu ruangan, membiarkan Elvina yang kesakitan.


Ummi, ummi pasti bisa menolong. Ken mengeluarkan ponselnya dari saku lalu menelpon ummi dengan panik.


"Ummi tolongin Ken." Pekik Ken pada ummi dari balik telpon.


"Ada apa, Nak?" Ummi ikut panik mendengar putranya yang berteriak.


"Ummi, apa yang bisa membuat nyeri haid berkurang?" Tanya Ken tanpa malu lagi, membuat sang ummi bingung dengan pertanyaan putranya.


"Nak kamu kenapa...?"


"Cepat Ummi, jawab. Nanti saja penjelasannya." Desak Ken, tatapannya masih tertuju pada Elvina.


"Kompres dengan air hangat, tapi jangan menyentuhnya." Ujar ummi, pasti perempuankan kalau haid. Kenapa putranya jadi sangat panik. Apa mereka sedang berduaan. Ummi Ulfa membuang jauh-jauh pikiran negatifnya.


"Lalu bagaimana caranya Ummi," ucap Ken polos.


"Masukkan dalam botol Ken, jangan air panas semua juga, nanti kepanasan baru diberikan padanya."


"Baik Ummi, makasih. Love you."


Ummi senyam-senyum setelah Ken menutup telponnya. Lalu menggeleng pelan, ada apa dengan putra bungsunya ini.


"Kenapa Mi senyam-senyum?" Tanya Nazar pada Ulfa yang duduk di sampingnya.


"Anak Abi sangat panik, sepertinya ada perempuan yang sedang menahan sakit karena haid. Tapi tidak cerita siapa orangnya." Jelas Ulfa, dia masih kebingungan.


"Pasti Nana, Mi. Siapa lagi yang bisa membuat Ken begitu. Kadang marah, sedih, bahagia dalam sekejap."


"Kapan ya Bi mereka bisa bersatu." Ucap Ulfa sendu, Elvina sudah seperti putrinya sendiri. Walau gadis itu belum sadar Ken dan Adnan putra mereka.


"Ummi banyak-banyak berdoa saja, agar semuanya Allah mudahkan." Nazar menatap istrinya dengan tersenyum.


Setelah berpikir keras dia meneguk sebotol minuman vitamin seribu. Lalu dia isi air panas dari dispenser bercampur air dingin sesuai instruksi ummi. Jangan terlalu panas, kalau kulit El melepuh. Dia bakalan bingung sendiri nanti.


"El, coba kompres pakai air hangat ini."


Ken meletakkan air hangat di tangan Elvina yang masih mengepal.


Elvina mengambilnya dan langsung meletakkan di perut seraya mengucapkan terimakasih dengan lirih.


Lima menit berlalu, sampai sepuluh menit. Sepertinya tidak ada perubahan. Ken masih betah menatap gadis itu.


Lima belas menit berlalu Elvina mengangkat wajahnya. Ken masih menatap dari ujung ruangan. Setelah melihat Elvina bangun, dia baru mendekat.


"Bagaimana sekarang El?" Tanyanya lembut, dia tidak akan mencari keributan lagi.


"Alhamdulillah sudah berkurang," jawab Elvina pelan.


"Sesakit itukah El, sampai kamu pucat dan keringat dingin." Selidik Ken, dia tidak tau kalau nyeri haid itu sampai bikin orang lemes dan pucat pasi.


"Kadang-kadang."


"Kamu mau pulang, biar aku antar."


"Ngga perlu, Ken. Paling sebentar lagi juga sudah hilang sakitnya. Terimakasih ya."


"Iya, aku tadi panik jadi langsung menelpon Ummi." Ujarnya polos, padahal dia bisa cari digoogle. Ngapain juga pakai mempermalukan diri di depan ummi. Elvina yang mendengar ucapan Ken tertawa.


"Jangan keras-keras nanti ketahuan kalau kamu masih di ruangan ini bersamaku."


Suara tawa itu baru pertama kali Elvina diberikan untuknya. Gadis itu sangat cantik kalau tidak garang seperti biasanya. Astaghfirullah, Ken mengalihkan pandangannya karena menatap begitu lama.