
"Aish kenapa bisa di sini Ma." Bisik Elvina lirih setelah Raga beranjak menyusul Ken di sofa. Dua lelaki itu terlihat canggung satu sama lain.
"Dia jenguk Mama, tadi sama pamanmu juga. Tapi sudah pulang duluan," jelas Kila pelan. Melihat keponakannya yang tidak suka pada Elvina dia bingung harus menanggapinya seperti apa. Mereka berdua itu sama-sama keras kepala.
"Paman masih marah?" Tanya Elvina lirih, mamanya tak menjawab. Dia mengerti diam artinya iya, huh. Elvina tidak tau harus bersikap seperti apa sekarang, selain pura-pura tidak peduli dengan tatapan tajam kakak sepupunya itu.
"Mama cepat sembuh ya." Gadis itu mengecup kening sang ibu lalu beranjak ke sofa, menyusul Ken dan Raga saat Aish mendekati Kila.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Ken, saat gadis itu mendekat. Elvina menggeleng pelan. "Kita sarapan dulu ya, kasih waktu Aish ngobrol sama Mama berdua."
"Iya," jawabnya lemas. Elvina berasa beneran jadi pelakor sekarang.
"Ayo Mas, kita sarapan bareng." Ajak Ken pada Raga. Lelaki itu mengangguk setuju. "Ma, kami tinggal sarapan dulu ya?" Izin Ken sebelum keluar ruangan.
"Iya, Nak." Jawab Kila diikuti anggukan.
Tiga orang itu meninggalkan ruang rawat, menuju kantin rumah sakit. Elvina berjalan dengan malas. Kalau makan itu tidak kebutuhan pokok, dia juga malas untuk mengunyah nasi. Hatinya benar-benar sedang kalut sekarang.
"Jangan dipikirkan ucapan Aish," ujar Ken saat mereka sudah di kantin. "Makan dulu," lelaki itu mendekatkan semangkok bubur dan segelas cokelat hangat pada Elvina.
Sudah lama dia tidak bertemu cokelat hangat. Ken menatapnya dengan penuh cinta seperti itu membuat hati Elvina berdenyut nyeri. Mencintai itu sepaket dengan patah hati. Inilah patah hati yang dia rasakan. Saling mencintai tapi tak bisa memiliki.
Sedang Raga yang berada diantara dua orang itu seperti jadi obat nyamuk. Dia dapat melihat cinta Ken sangat besar pada gadis yang sudah merebut hatinya. Salah, jika dia berada diantara dua orang itu.
"Saya permisi ke toilet dulu." Ujar Raga, dia ingin memberi waktu untuk dua orang yang baru bertemu itu. Ken dan Elvina mengangguk bersamaan.
"Siapa dia?" Tanya Ken, saat Raga sudah menjauh. Pertanyaan yang dia tahan sejak di bandara tadi.
"Raga." Jawab Elvina dengan kekehan.
"Bukan itu El, siapa kamu?"
Elvina tersenyum kecil melihat raut cemburu Ken. "Kamu mau aku jawab dia siapa aku. Pacar, suami, atau bukan siapa-siapa?"
"Bukan siapa-siapa," tegas Ken.
"Nyatanya dia siapa-siapa, gimana? Seperti kamu yang memilih perempuan lain. Aku juga bisa memilih lelaki lain." Jawab Elvina santai sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.
"Aku tetap memilih kamu El, tidak ada perempuan lain yang aku pilih. Maaf karena aku sempat membuatmu kecewa."
"Keputusanku tetap seperti semula Ken. Aku kembali ke sini, bukan berarti aku menerimamu. Terimakasih masih peduli sama Mama."
"Aku akan menunggu hatimu berubah pikiran, Sayang." Ucap Ken dengan tersenyum, meskipun hatinya sedang terluka. Entah ini penolakan keberapa yang sudah diucapkan gadisnya itu.
"Kamu akan lelah menungguku. Menikahlah, dengan siapapun yang kamu mau kecuali aku. Hak kamu menolak Aish, tapi hak aku juga untuk menolak kamu." Dengan berat hati Elvina ucapkan, dia harus tetap kuat sampai pulang nanti. Tidak boleh menangis di depan Ken.
"Sudah selesai makannya?" Tanya Raga basa-basi untuk mencairkan suasana yang menegang. Dia sempat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Elvina.
"Sudah, dokter makan dulu. Sudah dingin tuh," ujar Elvina.
"Masih belum sedingin kamu," godanya dengan tertawa kecil. Gadis itu mendengus kesal, Raga tidak pernah bosan menggodanya. Itu tidak akan berpengaruh apapun.
"Kamu kalau pergi suka banget bikin orang khawatir." Suara berat dari belakang Elvina itu, membuat sang gadis berbalik lalu tersenyum geli.
"Kangen," rengek Elvina manja.
"Kalau kangen jangan pernah pergi lagi." Erfan menatap lekat gadis yang duduk di depannya. Rasa bersalahnya sangat besar pada Elvina. "Maafin aku gak bisa jagain kamu dengan baik."
"Ngomong apa sih."
"Giliran pulang yang dikabarin Ken." Erfan mengalihkan pembicaraan.
"Aku gak ada ngabarin Ken ya, aku nelpon Mama." Ujarnya dengan bibir dimonyongkan.
Banyak tanda tanya yang ada di kepala Raga. Dia dapat melihat dari mata lelaki selain Ken itu ada pancaran kasih sayang.
"Pacar barunya gak mau dikenalin." Goda Erfan, "yang lama dikacangin ya?" Lanjutnya dengan menaik turunkan alis.
"Kalau aku pacaran pun gak perlu lapor kamu kan?" Elvina memutar bola mata kesal, "kenalin dokter Raga." Ujarnya mengenalkan Erfan pada lelaki yang terus mengamatinya itu. Raga menerima uluran tangan Erfan, mereka saling bertukar nama.
"Kamu gak papa kan Na, ada yang aneh atau berubah gitu." Erfan meneliti seluruh tubuh Elvina, dia takut gadis itu hamil anak sepupunya.
"Pertanyaanmu aneh banget Fan, gue gak ngerti. Waktu dua minggu gak akan merubah gue jadi power ranger."
"Kalau berbadan dua?" Tanya Erfan geram, dia kesal gadis itu selalu berpura-pura kuat di depannya. "Gue yakin lo belum ceritakan itu pada dokter kejiwaan lo ini." Sarkas lelaki itu melihat raut terkejut dari wajah Raga.
"Cukup Erfan!" Teriak Elvina marah lalu meninggalkan kantin.
Kenapa Erfan harus mempermalukannya begini. Kenapa lelaki itu harus membuka aib yang selama ini dia tutup rapat.
Elvina berlari meninggalkan area kantin dengan mata yang berkaca-kaca. Argh, kenapa harus sesakit ini sih. Kenapa dia belum bisa menerima kenyataan kalau memang dia tidak suci lagi. Takdir membuatnya hancur luluh lantah.