EL & KEN

EL & KEN
109



Setelah dua hari dirawat Elvina sudah boleh pulang. Erland memboyong pulang ke kediamannya. Rumah besar itu tampak sepi, karena dua orang anak Erland masing-masing sudah berkeluarga dan tinggal terpisah.


Tanpa Elvina tau, Erland membatasi orang-orang yang ingin bertemu dengan keponakannya. Dia ingin menjauhkan gadis itu dari dari orang-orang yang sudah membuatnya terluka.


Dia juga mendatangkan psikiater khusus untuk mendampingi keponakannya. Erland memberikan kebebasan untuk Elvina melakukan apapun yang disukai gadis itu, asal tetap dalam lingkungan rumahnya.


"Untuk beberapa hari ini jangan izinkan orang lain bertemu Nana dulu, termasuk Zayid. Biar dia belajar untuk lebih kuat. "


Sebelum Erland membawa Elvina keluar dari rumah sakit, Zayid juga ingin membawa gadis itu pulang. Tapi Erland bersikeras tidak memberikan keponakannya pada orang yang sudah membuat luka di hati Elvina.


"Tapi Pah, Nana butuh teman. Nana butuh disupport dan kasih sayang." Inara mengingatkan, suaminya itu terlalu keras yang bisa berujung melukai Elvina lagi.


"Kita ada di sini menyayanginya Ra, dia juga di dampingi psikiater."


Kila hanya diam, tidak ikut membantah. Inara terpaksa menurut dengan keinginan suaminya itu.


Elvina sedang duduk santai di gazebo taman samping rumah. Inara sangat suka bunga, taman itu dipenuhi warna warni kuncup bunga. Tangannya memainkan stylus pen di layar iPad. Erland memberikan iPad ini saat dia mengeluh bosan duduk manis di atas kasur rumah sakit.


Sudah beberapa hari Elvina menggeluti mainan barunya. Dia menggambar beberapa sketsa gamis muslimah ketika sedang bosan, tidak lepas dari hobby menggambarnya.


Tidak untuk apa-apa, Elvina hanya menyimpannya di galeri iPad. Hatinya sudah lebih tenang sekarang. Dia melanjutkan konseling pada psikiater yang di datangkan Omnya.


Beberapa hari ini Elvina juga lebih suka sendiri tanpa menghubungi Erfan ataupun Raga. Bersama salah satu dari dua lelaki itu sama sulitnya. Dia tidak memiliki cinta untuk mereka.


Boneka dari Raga tidak berpengaruh apa-apa. Dia masih sulit untuk tidur saat malam hari. Elvina sangat merindukan Ken, sekarang tidak ada benda apapun yang bisa dia gunakan untuk mengenang lelaki itu.


"Ngapain, Na?" Inara tiba-tiba muncul mengagetkan gadis itu.


"Bikin apaan sih?" Inara mengintip kegiatan yang keponakannya lakukan. "Kamu bisa gambar?"


"Bisalah, bikin gini doang apanya yang susah." Ucapnya dengan menyombongkan diri, masih menggoreskan stylus pen di atas layar.


"Tante lihat!" Inara merebut iPad di tangan Elvina.


"Duh Tante, itu belum ke save. Nanti hilang." Keluhnya, tantenya ini kalau dilihat-lihat beda tipis kelakuannya dengan Dela.


"Stt, ngomel terus." Inara menempelkan jari di bibir keponakannya. "Ih, ini bagus banget desainnya. Pasti kakak kamu suka. Tante kirim ke Erin." Erina anak kedua Erland dan Inara, seorang fashion designer yang memiliki butik ternama.


"Tante jangan ngasal deh, mana ada gambar mainan gitu dikirim ke fashion designer, malu-maluin aja." Elvina mencebikkan bibir cemberut, tantenya bar-bar banget.


"Suka-suka Tante lah, nih lanjutin lagi." Ucapnya setelah mengirim semua desain keponakannya itu pada sang putri.


"Aku gak ikut-ikutan ya, kalau gambarnya nanti dihina-hina Kak Erin. Aku bilangin Tante yang bikin." Sangat jelas terlihat kalau gadis itu masih kesal.


Inara mengendikkan bahu lalu pergi setelah puas mengganggu ketenangan keponakannya. Dia kembali kerumah dengan ketawa cekikikan.


"Ngapain kamu ketawa-ketawa sendiri?" Tegur Erland heran, istrinya masuk dari pintu samping sambil cekikikan.


"Habis ngerjain ponakan kamu, lucu banget mukanya kalau lagi kesal. Udah lama rumah sepi, sekarang ada lagi yang digodain Pah." Curhatnya, sejak putra dan putrinya menikah, Inara kesepian di rumah. Dia jadi menyibukkan diri membantu pekerjaan suaminya di kantor.


"Kamu apain dia?" Selidik Erland, apa yang membuat Inara sampai sesenang itu.


"Itu, aku cuma ngirim sketsa yang dia buat ke Erin. Nana malah mengoceh lucu." Erland geleng-geleng kepala, hanya hal sekecil itu sudah membuat istrinya bahagia.