
Jangan cari aku, aku akan baik-baik aja Ma. Mama jangan khawatir, Nana akan kembali saat hati ini sudah sembuh. Aku sayang Mama. I love you Ma.
"Aargh." Ken meraup wajah gusar membaca surat yang ditinggalkan Elvina. Malam ini dia berada di kamar gadis itu.
Satu jam yang lalu Kila mengabari Ken kalau Elvina pergi dari rumah. Ken sudah tau pujaan hatinya pasti akan memilih pergi. Tapi kenapa dia masih terserang panik mendapati orang yang dicintai pergi.
"Ma, izinkan Ken tidur di kamar El ya." Mohon Ken, tampangnya sudah acak-acakan.
"Iya, Mama ambilkan pakaian ganti." Pemuda itu terlihat sekali sangat kacau. Pasti belum mandi setelah selesai acara. Ken mengangguk masuk ke kamar gadisnya. Tidak lama Kila datang membawakan piyama mendiang suaminya.
"Kamu mandi langsung istirahat," pesan Kila kemudian meninggalkan Ken sendirian.
Ken hanya memberikan anggukan, dia tidak semangat untuk bersuara.
"Beginikan cara kamu menyembuhkan hati El, menjauh dariku. Aku akan tetap mencarimu walau kamu tidak ingin dicari. Aku akan menjemputmu pulang. Apapun rintangan yang kulalui untuk mendapatkanmu. Aku akan tetap berjuang."
Lelaki itu melepas lelah di tempat tidur milik pujaan hatinya. Wangi Elvina yang tertinggal di kamar membuat Ken tertidur lelap.
***
"Lo kan yang bikin Nana pergi?" Erfan menghajar Ken dengan brutal. Sejak semalam dia menghubungi Elvina tapi tidak bisa. Erfan memutuskan untuk menemuinya di rumah. Namun gadis yang dicarinya sudah pergi, yang ada malah rivalnya.
"Aargh." Erfan menarik tangannya dari wajah Ken yang sudah babak belur. Lelaki itu tidak melawan karena sadar dia yang salah.
"Sudah-sudah, kenapa jadi berantem." Kila setengah berlari menyusul dua pemuda itu. "Erfan, sudah Mama bilang jangan emosi." Perempuan paruh baya itu membawa Ken duduk di sofa.
"Ken sudah kusut begini jangan dihajar lagi Erfan," Kila mengingatkan. "Putri Mama yang berulang kali menolak Ken. Sekarang Nana pergi juga atas kemauannya sendiri bukan salah Ken." Jelas wanita itu seraya mengompres pipi Ken, setelah meminta art untuk mengambilkan kompresan dan kotak obat.
"Aku memang salah Ma, harusnya aku gak menyerah sejak awal. Harusnya aku gak ninggalin El, sampai dia disakiti Azmi. Harusnya aku gak menyetujui permintaan Abi Zayid, Ma." Sesal Ken, dadanya penuh sesak mengingat kebodohan yang sudah dilakukannya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Ken, sekarang Mama mengerti kenapa Nana memilih menjauh. Bang Zayid yang meminta Nana menjauhi kamu. Mama pikir mereka akan mengizinkan kalian menikah. Namun pamannya Nana tetap ingin kamu menikah dengan Aish. Harusnya sedari awal Mama mengerti dengan ke khawatirannya. Tapi Mama malah membuat Nana tertekan dengan memaksanya memilih kamu." Kila mendongakkan kepala agar tidak ada air mata yang jatuh.
"Tunggu, apa maksudnya Nana disakiti Azmi dan Abi Zayid pamannya Nana?" Tanya Erfan, dia sudah ketinggalan begitu banyak informasi.
Kila memandang Erfan lekat yang dipenuhi tanda tanya. "Azmi menghancurkan putri Mama, Fan." Ucapnya dengan sedikit terisak, "dan Aish itu kakak sepupu Nana." Lanjutnya sambil menyeka air mata yang hampir terjatuh lagi.
"Jangan bilang kalau Nana..." Erfan tidak melanjutkan pertanyaannya, melihat Kila mengangguk sudah membuatnya mendesah frustasi. "Kalian kenapa gak ada yang bilang. Kenapa Mama sembunyiin ini dari Erfan."
"Maafin Mama Fan, Nana tidak ingin kalian tau." Lirih Kila sendu.
"Aku akan cari bajing*an itu Ma. Aku akan membuatnya mendekam di penjara." Murka Erfan, dia menyesal tidak bisa menjaga gadis yang dicintainya. Argh, kemana saja dia sampai tidak tau apapun.