EL & KEN

EL & KEN
121



"Kamu tunggu di kamar dulu ya atau sama Kak Sya di ruang tengah. Aku ada di kamar tamu." Ujar Ken, tadi siang mereka pulang pulang dari rumah sakit. Seharian ini dia baik-baik saja, entah kenapa malam ini moodnya berubah tiba-tiba.


Takut tidak bisa mengendalikan diri dan emosinya lebih baik Ken menghindar dulu dari sang istri.


"Abang kenapa?" Tanya Elvina bingung, seharian Ken bisa bersikap manis. Apa itu terpaksa, tanyanya pada diri sendiri.


"Aku gak papa, sebentar aja."


"Iya, aku tidur duluan ya."


"Selamat tidur, Sayang." Ken mencium kening Elvina lalu meninggalkan kamar.


Sepeninggal Ken, Elvina tidur memeluk boneka teddy bear biru. Untung masih ada itu yang bisa membuatnya terlelap.


Elvina mencoba mengabaikan pikiran tentang Ken. Suaminya itu hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Elvina ingin membantu, tapi dengan adanya dia bisa membuat Ken tambah kacau. Lebih baik dia biarkan saja dulu, tunggu suaminya tenang baru mereka bicara lagi.


"Aarrggh," Ken mengerang memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"El, I love you."


Kalimat yang Ken ucapkan sebelum tidak sadarkan diri waktu kecelakaan itu terus terngiang di telinganya.


"Ada apa?" Adnan menyusul adiknya ke kamar tamu.


"Tolong ambilin obat aku di kamar, Kak." Lirihnya dengan suara pelan.


Adnan mengangguk, beranjak mendatangi kamar sang adik lalu mengetuk kamar itu, "Na, kamu sudah tidur?"


"Belum Kak, sebentar." Elvina bangkit dari tidurnya mengambil jilbab kaos, membuka pintu kamar. "Ada apa, Kak."


"Obat," gumam Elvina bingung lalu mengambilkan obat yang diminta Adnan di laci. "Ken sakit?" Tanyanya setelah memberikan obat itu.


"Iya, makasih." Ujar Adnan seraya berlari ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk adiknya, kemudian kembali ke kamar.


Elvina mengikuti Adnan ke kamar tempat Ken berada. Suaminya mengerang kesakitan di atas lantai sambil memegangi kepala.


"Abang, apa yang sakit?" Gadis itu mendekat dan memeluk suaminya.


"Pergi El, pergi!" Usir Ken, melepaskan pelukan istrinya. "Pergi sekarang, aku tidak mau menyakitimu," teriaknya lagi.


Adnan meletakkan gelas dan obat di atas nakas, lalu membawa Elvina yang membeku di depan Ken untuk menjauh. Gadis itu masih belum bisa merespon ucapan Ken. Kenapa sangat sakit diusir Ken seperti itu.


"Sya," panggil Adnan pada istrinya.


"Kenapa Mas?" Attisya berlari kecil mendatangi suaminya.


"Kamu temani Nana dulu, aku bantu tenangin Ken." Ujar Adnan memberikan Elvina pada istrinya lalu kembali mendekati sang adik.


"Minum obat dulu, Ken." Ucap Adnan setelah mendudukkan adiknya di sisi ranjang, "kenapa?" tanyanya setelah Ken selesai minum obat.


"Kepalaku mau pecah saat melihat El, Kak." Adunya, dia masih sadar tapi tak bisa mengendalikan diri. "Setiap melihat wajahnya aku seperti melihat orang yang menyebabkan El-ku pergi, Kak. Aku benci dia. Padahal dia memang El kan, Kak?"


"Iya, dia El-mu Ken. Dari dulu hanya dia." Adnan membawa adiknya dalam pelukan, "besok kita periksa ke dokter."


Ternyata itu alasan Ken membenci Elvina, Adnan baru tau. Pantas saja Ken selalu emosi melihat wajah gadis itu. Selama ini mereka selalu menyalahkan Ken. Harusnya dia ada untuk menguatkan adiknya, bukan membuat Ken merasa terpojokkan.