EL & KEN

EL & KEN
7



"Assalamualaikum Mama Kila apa kabar, maaf tadi Nana saya pinjam buat nemenin jalan-jalan." Sapa Erfan pada Kila yang santai di ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah kabar baik Fan, makasih ya udah anterin Nana pulang." Ucap Kila pada teman anaknya itu, "kamu kenapa pulang cepat Na?" Kila menatap pada Elvina yang sudah pulang padahal baru jam sebelas siang.


"Berantem sama asisten paman Ma!" Gumam Elvina, mengingat manusia satu itu membuat jiwanya terbakar amarah.


"Astaghfirullah Sayang tidak boleh seperti itu." Nasehat Kila, bagaimana bisa bersatu kalau selalu bertengkar, batinnya.


"Sepanjang jalan dia cemberut Ma. Diajak jalan-jalan juga gak ada senyum-senyumnya." Erfan tertawa geli melihat wajah manyun Elvina.


"Mending kamu pulang aja Fan dari pada ngeledekin aku disini. Masih bete tau," kesal Elvina.


"Kamu tambah manis kalau cemberut Na, iyakan Ma." Goda Erfan dengan kerlingan jahil.


"Maaa, usir Erfan sekarang dari sini." Ujar Elvina gusar.


"Udah sana ganti baju, kita mau jalan-jalan lagikan?" Titah Erfan, mood gadis itu sangat buruk.


"Iya, bentar." Elvina beranjak meninggalkan Kila dan Erfan yang masih mengobrol.


"Kenapa dia Ma, tidak seperti dulu lagi?" Tanya Erfan bingung, lama dia meninggalkan gadis itu pergi sampai tidak tau kabarnya lagi.


"Semenjak papanya meninggal jadi seperti itu Fan. Kamu lama gak pulang ya?"


"Iya Ma, setelah lulus kuliah malah kerjaan gak ada habisnya susah untuk libur," curhat Erfan.


"Apa Nana yang membuatmu kembali ke sini?" Selidik Kila, dia juga tau lelaki yang duduk di depannya sekarang mencintai putrinya.


"Siapa lagi Ma kalau bukan dia." Erfan tersenyum menggoda berharap mendapat restu.


"Titip Nana ya Fan jagain dia."


"InsyaAllah Ma, aku akan menjaganya dengan baik. Apa dia sudah tau pemilik boneka kesayangannya?"


"Belum."


"Jadi orang itu belum menemuinya?" Tanya Erfan penasaran. Diapun juga penasaran dengan orang misterius itu.


"Mungkin sudah menemuinya, tapi belum memberitahunya Fan." Jawab Kila santai.


"Kasian Nana selalu menunggu."


"Kalau memang mereka berjodoh tidak akan kemana Fan, jangan khawatirkan itu."


"Aku gak dapat jatah Na." Goda Erfan, Elvina melotot tajam.


"Nih buat lo." Plaakk... satu hantaman dari tas Elvina mendarat di pipi Erfan.


"Auu sakit Na. Dia masih kasar Ma." Kila terkekeh melihat putrinya yang sangar.


"Ayo jalan sekarang."


"Nafsu banget dek sama abang. Bye Ma." Erfan mengikuti langkah Elvina menuju mobil.


"Naa.."


"Yaa..."


"Kangen aku gak?"


"Gak.."


"Coba bilang kangen kek biar aku senang." Erfan terus-terusan menggoda.


Hanya Erfan yang rindu dengan gadis itu. Rindunya tak pernah bertepi, pikirannya tak pernah beralih dari bayangan Elvina. Selalu Elvina yang hadir menemani disetiap harinya. Meski cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Males..."


"Iih kamu gak pernah berubah Na selalu jutek begitu," kesal Erfan.


"Aku bukan power ranger Erfan, yang bisa berubah," sarkas Elvina.


"Iya, tapi kamu bidadari yang bisa menghanyutkan." Ujar Erfan tertawa geli, lihat muka masam gadis itu sangat menggemaskan.


"Eettzz kamu pikir aku banjir bandang yang bisa bikin hanyut."


"Iyaa. Banjir bandang dihatiku."


Bruukk


Satu hantaman keras lagi mendarat di pipi Erfan.


"Na. Tasmu selalu menyakitiku dan kamu selalu menyakiti hatiku." Erfan tersenyum manja, Elvina jengah mendengar gombalan Erfan itu.