EL & KEN

EL & KEN
102



"Nana!" Teriak Kila saat mendapati tubuh putrinya terkulai lemas di lantai dengan pergelangan tangan yang penuh darah. Pisau kecil tergeletak di lantai. Dia mencari apapun yang bisa digunakan untuk mengikat tangan Elvina.


Bergegas Kila memanggil sopir untuk minta bantuan menggendong tubuh putrinya. Tubuhnya ikutan lemas memangku Elvina di kursi penumpang. Kendaraan segera melaju menuju rumah sakit. Dia berharap anak semata wayangnya baik-baik saja.


Di ruang tunggu Kila sibuk menelpon Adnan tapi tidak ada jawaban. Dia tidak mungkin menelpon abangnya. Kila memutuskan menelpon Erland, kakak sepupu suaminya. Dia jarang meminta bantuan abang suaminya itu kecuali terdesak.


"Nana kenapa Kila?" Tanya Erland panik, dia segera menuju rumah sakit saat adik iparnya itu mengabari.


"Nana mau bunuh diri Bang," adu Kila sendu dengan air mata yang sudah tidak dapat dikondisikan.


"Ada masalah apa? Kenapa kamu gak cerita kondisi Nana, Kila." Tanya Erland lembut, membawa adik iparnya kembali duduk. Kila tidak tau bagaimana menceritakannya, dia hanya bisa menangis untuk saat ini.


"Orang yang Nana cintai hilang ingatan Bang, lelaki itu kecelakaan saat ingin menemui Nana. Hanya Nana yang tidak dia ingat, bahkan lelaki itu sangat benci melihat Nana. Nana sangat terpukul sekarang."


Tidak ada yang bisa disalahkan memang, semua sudah takdir. Erland meraup wajahnya kasar. "Nana akan baik-baik saja." Lelaki itu menepuk pundak Kila untuk memberikan ketenangan. Kila juga berharap seperti itu, semoga putrinya masih bisa di selamatkan. Hanya Elvina satu-satunya orang yang dia miliki.


"Zayid mana?" Kila menggeleng pelan. "Kalian ada masalah?" Tanya Erland penuh selidik.


"Iya, Aish mencintai lelaki yang sama dengan Nana. Abang Zay meminta Nana menjauhi lelaki itu sebelum kecelakan terjadi." Adu Kila lirih, Erland menghela napas gusar.


"Kila, kamu gak anggap Abang keluarga ya? Selama ini Abang pikir kalian berdua baik-baik saja." Erland ingin marah, tapi untuk apa. Semua sudah terlambat.


"Nana juga dilecehkan, Bang." Air mata Kila mengalir semakin deras.


"Allah, Kila. Kamu kenapa? Masalah sebesar ini tidak pernah mau berbagi." Erland tidak tau lagi, kabar apa yang dia dapat malam ini, sangat lengkap.


"Kalau sudah gini mau gimana lagi, untuk sementara kalian tinggal di rumah Abang." Tegas Erland, Kila tidak bisa berkilah lagi. Kakak sepupunya itu sangat tegas dan disiplin.


Setelah satu jam Elvina dipindahkan ke ruang rawat. Tubuh gadis itu pucat seperti mayat, matanya masih tertutup. Kila menatap nanar pergelangan kiri putrinya yang terlilit perban.


"Sayang, kenapa nekat seperti ini. Mama minta kamu sholat buat nenangin diri, bukan begini." Kila memeluk tubuh putrinya yang terbaring di atas brankar.


"Bangun Sayang, Om Er ada di sini. Kamu mau kerja di kantor papa kan. Setelah sembuh kamu Mama izinin kerja di kantor papa."


Hati Kila hancur lebur malam ini, dia sudah gagal menjaga putrinya untuk yang kedua kali. "Maafin Mama yang gak bisa bahagiain kamu. Maafin Mama yang gak bisa bantu kamu ngejar cinta kamu, Sayang. Maafin Mama, jangan tinggalin Mama sendirian."


Erland mengusap belakang kepala Kila, dia tidak tau kehidupan keponakannya selama ini sangat berat. Dia merasa gagal karena jarang memperhatikan keponakannya.


Waktu tidak bisa diputar kembali, selain memperbaiki di masa yang akan datang. Dia berjanji akan menjaga keponakannya lebih baik lagi.


"Kila kamu istirahat di sofa, biar Abang yang jaga di sini." Erland menuntun adik iparnya ke sofa. Dia sudah meminta istrinya untuk mengirimkan kasur lipat dan selimut.


"Kamu jangan banyak pikiran nanti ikutan sakit, istirahat aja. Biar Abang yang urus semuanya." Ujarnya lembut, selama ini siapa yang menjaga dua perempuan rapuh ini. Hanya mereka yang saling menguatkan. Argh, Erland sudah lalai menjaga dua orang kesayangan Aliandra ini.


Apa yang harus dia katakan kalau Aliandra menanyakannya nanti. Erland bahkan tidak tau bagaimana kehidupan adik dan keponakannya. Dia pikir dengan mengalirkan uang setiap bulan ke rekening mereka itu sudah cukup. Ternyata tidak, bukan hanya uang yang mereka butuh, tapi tempat berlindung.


***


Aku sambil nulis ini, nangis-nangis nyesek juga. Gak tau bisa sampai ke kalian yang baca gak feel-nya. Hiks.