EL & KEN

EL & KEN
164



"Kenapa belum tidur, katanya lelah?" Sudah lebih dari setengah jam Ken menemani Elvina, tapi istrinya itu masih belum memejamkan mata juga.


"Gak bisa tidur, Abang." Elvina beringsut dalam pelukan Ken.


"Efek pertama kali minum obat itu mungkin El," Ken mengusap-usap punggung Elvina. "Kamu gak pernah terapi lagi kan. Gimana kalau lanjut di sini."


"Mau sama dokter Raga aja." Gumam Elvina pelan yang masih bisa didengar Ken.


"Aku bisa cemburu loh kalau kamu mintanya sama dokter ganteng itu."


"Aku juga bisa cemburu kalau Abang sama dokter Cla-cla itu." Elvina mendengus sebal, Ken terkekeh kecil mengangkat sedikit wajah Elvina agar bisa melihat ekspresinya. Lucu sekali kalau sedang cemburu.


"Claudia, Sayang. Bukan Cla-cla, emang minuman soda," Ken meluruskan.


"Kok belain dia sih!" Ujar Elvina tidak suka, kenapa harus dokter perempuan yang menangani suaminya.


"Gak belain, benerin dikit aja." Ken mengulum senyum. Rasanya dicemburuin itu bikin bahagia.


"Ih sama aja. Sana gih Abang tidur sama Cla-cla aja." Usir Elvina sambil mengibaskan tangannya.


"Beneran boleh?" Ken menaik turunkan alis, menambah kadar kekesalan Elvina. "Dia bisa bikin nyaman loh El. Kamu gak takut Abangnya nanti diambil dokter Claudia."


"Enggak, tidur aja sama dia yang bisa bikin kamu nyaman. Aku cuma bikin kamu susah." Elvina membalikkan badan membelakangi suaminya. Ken mentertawakan sang istri dengan gelak.


"Kalau dia cuma bisa bikin nyaman, kalau kamu bisa bikin aku nyaman banget dan betah." Ken mendekap Elvina dari belakang sambil menciumi di lehernya.


"Jangan cium-cium." Perempuan itu menepis wajah Ken. Ken tetap tidak beralih, malah menyesap dan memberikan gigitan kecil di sana. Elvina bergelinjang, seperti baru saja menerima sengatan listrik.


Ken membimbing tangannya sampai Elvina memanggilnya dengan manja. "Abang," lirih Elvina.


"Bukan ngantuk Abang, ih. Geli tau." Istri Ken itu mendengus karena Ken menghentikan gerakannya. Lagi-lagi sang suami itu mengerjainya.


"Geli apa horny, Sayang?" Ken tertawa kecil, menggelitiki leher Elvina dengan jemarinya.


"Abang jorok ih. Ngomong apaan coba," ketus Elvina.


"Suami istri masa gak boleh ngomong gitu. Kita halal loh, bisa nambah pahala. Dah sini tidur." Ken mengeratkan pelukan, "mau tidur apa ditidurin?" Katanya menggoda jahil.


"Ditidurin!" Jawab Elvina ketus.


"Jujur banget kalau lagi pengen, sini kita bikin baby banyak-banyak." Ken sudah memposisikan Elvina di atasnya.


Elvina menelungkupkan kepala di dada bidang sang suami. Tanpa mendengarkan godaan Ken lagi.


"Lah, kok jadi tiduran di atas Abang." Ujar Ken melongo, tapi tetap memberikan belaiannya agar Elvina bisa tertidur dengan nyaman.


"Diam, ih. Abang berisik!"


Ken berhenti menggoda sang istri, kasihan kalau digangguin nanti susah tidur lagi. Cukup lama mengeloni sampai kekasihnya itu tertidur. Terpaksa Ken mengabaikan junior kesayangannya yang terlanjur bangun.


Lelaki itu mengecup puncak kepala Elvina lalu memindahkan dengan pelan agar tidak terbangun. Netra Ken menelusuri setiap inci wajah sang kekasih.


Ken mengingat ucapan Raga beberapa waktu lalu. Depresi yang istrinya alami bisa mempengaruhi kesuburan. Itu artinya dia perlu usaha lebih keras untuk bisa mendapatkan keturunan.


"Sabar ya, Sayang. Gak papa kalau kita belum dikasih Allah baby secepatnya. Asal kamu pulih." Katanya lalu memberikan kecupan singkat di bibir sebagai ucapan selamat tidur.