
Elvina menaiki burung besi yang terbang pertama ke Jakarta. Di sampingnya ada dokter yang dua minggu ini dia kenal. Lelaki itu memaksa mengantarnya pulang.
Setelah perdebatan panjang tadi malam, terpaksa Elvina menyetujui lelaki itu ikut dengannya. Padahal dia hanya memberitahu Dela dan kedua orang tua temannya itu. Tapi ternyata si dokter dikabari oleh gadis bar-bar.
Gadis itu berusaha untuk tetap tenang, walau hatinya sudah carut-marut. Belum lagi langsung bertemu Ken nanti. Argh, andai halal Elvina ingin memeluk lelaki yang sangat dirindukannya itu.
Burung besi mendarat setelah satu jam sepuluh menit terbang di udara. Raga membawakan satu koper Elvina. Gadis itu mencari Ken yang sudah menunggunya.
"Selamat datang El," sapa Ken tersenyum lembut pada gadis yang berjalan ke arahnya. Di samping Elvina ada seorang lelaki dengan perawakan tegap dan gagah. Wajahnya tidak bisa dibilang biasa saja. Karena bisa memikat perempuan yang melihat tatapan teduh mata itu.
"Makasih sudah menjemput Ken." Elvina berusaha bersikap biasa saja. Ken mengambil koper gadis itu memasukannya ke bagasi mobil.
"Sama-sama, Masnya satu tujuan atau ada yang jemput El?" Ken bersikap santai, padahal hatinya sudah bertanya-tanya siapa lelaki itu. Argh, baru dua minggu tidak bertemu, Elvina sudah bisa menarik perhatian lelaki tampan. Sungguh, dia harus memiliki kesabaran level tertinggi agar tidak cemburu.
"Satu tujuan, kenalin dokter Raga," ujar Elvina. Ken mengangguk mengulurkan tangan. "Ken," ujarnya sambil tersenyum. Dia tidak tau apa hubungan Elvina dengan dokter itu.
"Raga." Balas lelaki itu hangat, dia bisa melihat cinta dari tatapan dua orang di depannya. Yang saling mencintai saja bisa belum tentu bisa bersama, apalagi yang hanya mencintai sepihak, gumamnya.
"Ayo kita berangkat," dua orang itu mengikuti Ken masuk mobil. Elvina duduk di kursi penumpang belakang, sedang Raga di samping Ken. "Kita langsung ke rumah sakit atau pulang ke rumah dulu El?"
"Rumah sakit."
Ken mengangguk, melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan suasana mobil hening.
Setelah memarkirkan mobil, Ken membukakan pintu untuk Elvina. "Tenang, mama baik-baik aja. Hanya kelelahan." Ucapnya untuk menenangkan gadis yang terlihat sendu dengan mata berkaca-kaca. Semua tidak lepas dari pengamatan Raga.
"Ayo." Ajaknya mengulurkan tangan, Elvina menyambut tangan itu, lalu keluar dari mobil.
"Ayo dok," ajak Elvina, Raga mengangguk berjalan di samping kiri gadis itu. Ken semakin menguatkan genggaman tangannya. Elvina pun tidak menolak, dia merasakan lebih tenang saat Ken menggenggam tangannya.
"Pulang-pulang bawa lelaki sembarangan. Tapi masih menggoda milik orang. Jangan jadi murahan hanya untuk godain calon suami orang," desis Aish.
Raga mengernyit mendengar ucapan pedas gadis itu. Elvina melepaskan tangannya dari Ken mengabaikan sindiran sepupunya. Jangan ditanya bagaimana kondisi hatinya sekarang. Sangat sakit.
Kila yang menyaksikan kemarahan keponakannya hanya bisa menghela napas panjang. Padahal dia sudah menjelaskan dengan abang dan keponakannya itu perihal putrinya.
Aish berdecak saat Elvina melewatinya. Dia benci dengan adik sepupunya itu. Dia benci orang-orang terdekatnya selalu berpihak dengan Elvina.
"Mama, kenapa sampai sakit?" Lirih Elvina langsung memeluk sang mama, "maafin Nana udah ninggalin Mama, maafin Nana sudah egois." Ucapnya dengan isak tangis.
"Nana gak salah, Mama cuma kelelahan. Nanti juga sembuh." Kila tersenyum manis pada putrinya. Aish tidak suka tantenya terlalu memanjakan Elvina. Sejak dulu selalu gadis itu yang dinomor satukan dikeluarganya.
"Kalau cuma kelelahan gak akan sampai masuk rumah sakit Ma." Elvina menggenggam erat tangan Kila. Kila hanya tersenyum. "Kamu datang sama siapa, Nak?"
"Abangnya Dela, Ma. Dokter Raga, dokter yang bantu aku," Kila mengangguk.
Raga mendekati wanita paruh baya itu, "bagaimana keadaannya sekarang, Tante?" Tanyanya setelah bersalaman.
"Alhamdulillah sudah lebih baik, terimakasih sudah membantu Nana ya." Ucap Kila dengan tersenyum dari bibir pucatnya.
"Tugas sesama manusia memang saling membantu, Tante. Kalian juga sering membantu adik saya waktu dia kuliah di sini." Ujar Raga, agar perempuan paruh baya itu tidak merasa berhutang budi.
"Nana ngerepotin ya, sampai minta diantar pulang segala." Elvina mendelik mendengar ucapan Kila. Bukan dia yang minta diantar, Raga saja yang memaksakan diri ingin mengantarnya.
Lelaki itu tertawa kecil, "enggak kok, Tante. Saya yang maksa mau ngantar dia sampai sini dengan selamat. Anak tante susah banget kalau dibujuk." Lanjutnya, membuat Kila tersenyum. Kalau Elvina tidak susah dibujuk, tidak akan sampai kabur-kaburan begini, gumamnya.