EL & KEN

EL & KEN
55



Kila dan Ulfa mendekati Elvina, Nazar hanya terdiam di sudut ruangan. Dia sudah gagal menjaga putrinya.


"Mama, maafkan aku." Elvina bangun dan memeluk Kila erat. "Maaf sudah membuat Mama Papa kecewa."


"Sayang, jangan minta maaf kamu tidak salah," ucap Kila gagu karena melihat putrinya sangat terluka sekarang.


"Ma, aku sudah tidak punya siapa-siapa. Ken juga sudah pergi Ma. Aku sekarang sendirian Ma." Elvina berbisik lirih di telinga Kila, yang membuat Kila tidak dapat menahan tangisnya.


"Kamu masih punya Mama, Sayang." Kila menguatkan pelukannya.


"Aku sekarang tidak pantas untuk siapapun lagi Ma, hidupku sudah hancur. Tidak punya apa-apa lagi. Aku sangat kotor Ma." Elvina menyeka air matanya dan menatap wajah Kila. "Ma, jangan menangis untukku. Sekarang aku hanya punya Mama." Diusapnya pipi Kila dengan tangannya yang gemetar.


Ulfa mengusap pundak Elvina ikut menangis mendengar ucapan gadis itu.


"Sayang, apa kamu mau Ken kembali," tanya Ulfa pada Elvina. Elvina membalikkan badannya dan memegang kedua tangan perempuan paruh baya itu.


"Ummi berjanjilah padaku untuk tidak memberitahu Ken." Ulfa memeluk Elvina, tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.


"Abi batalkan pernikahanku dengan Attisya, sekarang." Kata Adnan yang kembali mendekati Elvina.


"Adnan, jangan lakukan itu kamu sudah mau menikah." Kila menenangkan Adnan yang masih terbakar emosi.


"Aku rela membatalkan pernikahanku demi Nana Ma, jangan halangi aku." Sahut Adnan tegas dipenuhi kemarahannya.


"Kamu tenang Adnan, jangan gegabah." Nazar mendekati Adnan. "Jangan memutuskan sesuatu saat emosi. Cukup Ken yang melakukan kesalahan," tambah Nazar.


"Kalian tidak perlu berkorban seperti itu untukku. Aku tidak apa-apa." Elvina berusaha tersenyum meski air matanya terus mengalir. "Kak, kamu sudah sangat baik untukku, jangan berkorban apapun lagi."


Tidak seharusnya Elvina yanga mengalami semua ini karena kesalahannya. Semua karena salahnya yang tidak waspada.


"Kalau kakak membatalkan pernikahan itu, sampai kapanpun aku juga tidak akan mau menikah denganmu. Aku mau pulang, mau tidur sama bonekaku." Ucap Elvina sambil menyunggingkan senyumannya. Berkali-kali dia harus menyeka air mata yang tidak mau berhenti mengalir.


Cintanya sudah hilang, kekasihnya sudah pergi hanya tersisa rindu dan penyesalan. Kesuciannya telah direnggut oleh orang yang sangat dia percaya. Hatinya hancur lebur bagai abu yang bertebaran. Elvina tenggelam dalam kehampaan. Tapi ada satu hal yang masih membuatnya tersenyum. Dengan alasan ini dia bisa membuat Ken tetap menikah dengan Aish.


"Jangan batalkan pernikahanmu kak. Jika kamu melakukan itu, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Aku akan membencimu seumur hidup."


Elvina menatap tajam Adnan yang sedang berdiri di depan ranjangnya. Kehancuran hatinya ini tidak akan membuat orang lain yang menanggungnya.


Adnan mengangguk menyetujui permintaan Elvina, dia tidak dapat berbuat apa-apa atas kejadian yang menimpa adik kesayangannya ini.


"Kamu jangan kemana-mana, mulai sekarang di rumah saja tidak perlu bekerja lagi. Orang itu masih berkeliaran di luar sana, aku tidak ingin kamu dalam bahaya. Tolong kali ini kamu penuhi permintaanku," mohon Adnan.


"Iya kak, kalau Erfan apa boleh aku bertemu?"


"Boleh. Kamu kuat ya Sayang, kakak akan mencari orang itu."


"Maafkan aku ya kak, aku terus membuatmu sedih begini. Aku sekarang ada di rumah jadi jangan terlalu khawatir ya. Kakak janji jangan bilang siapapun termasuk Ken dan Erfan."


"Kamu tidak ada salah Nana, tidak perlu minta maaf, sekarang tidur ya Sayang."


Elvina mengangguk sambil memeluk boneka kesayangannya, air mata masih menetes di pipinya. Susah payah dia berusaha menghentikan namun tidak berhasil. Hatinya merasakan hancur sekaligus jijik dengan pada dirinya sendiri.