EL & KEN

EL & KEN
179



"Assalamualaikum Nona," sapa Raga dari depan pintu kamar sambil tersenyum di belakangnya ada Adnan yang mengantar.


"Boleh kami masuk?" Tanya Adnan.


Ken menatap Elvina yang masih makan, "boleh mereka masuk, Sayang?" Tanyanya hati-hati.


Perempuan itu ragu untuk menjawab tapi akhirnya mengangguk juga. Raga duduk di sofa samping Ken sedang Adnan menarik kursi rias.


"Makannya enak?" Tanya Adnan basa-basi, dia rindu suara ceriwis adik ipar kesayangannya ini. Elvina hanya mengangguk kecil.


"Nggak kangen aku nih?" Goda Raga, perempuan itu sekarang minim ekspresi di depan orang lain. Elvina menyelesaikan makan dalam diam, dia merasa tidak enak ditatap Adnan dan Raga seperti itu.


Selesai makan Elvina beringsut ke pelukan Ken. "Malu," cicitnya. Ken memberikan usapan lembut di tangan Elvina yang melingkari pinggangnya.


"El malu kenapa, Sayang?" Bisik Ken pelan, sambil mengecup samping kepala Elvina.


"Aku kotor, menjijikkan Ken." Lirih Elvina dengan suara bergetar. Ken membawa istrinya duduk di pangkuan. Rasanya dia sangat terluka setiap kali Elvina mengucapkan kata itu.


"El nggak kotor Sayang, enggak. Kak Adnan masih sayang El, Raga juga. Mereka gak jijik sama kamu. Kita semua sayang kamu."


Ken memejamkan mata menguatkan pelukannya. Tuhan tolong, jangan buat istrinya begini, dia tidak kuat setiap kali Elvina merasa kotor. Rasa sakit itu ikut menggerogoti hatinya.


Elvina membenamkan wajahnya di ceruk leher Ken. "Abang, suruh mereka pergi," lirihnya pelan.


Ken menurut, mengisyaratkan pada dua orang itu untuk memberi Elvina waktu. Adnan dan Raga tidak membantah, mereka meninggalkan kamar.


"Mereka sudah keluar, Sayang." Ken mengusap punggung Elvina untuk menenangkan. Merawat istrinya ini lebih sulit daripada merawat bayi. Dia dibuat jenuh berada dalam kamar seharian.


"Apa Nana bisa cepat pulih?" Tanya Nazar, lelaki paruh baya itu menemani Raga santai di ruang tengah. Adnan sudah kembali ke kantor.


"InsyaAllah bisa Bi, kita hanya perlu bersabar membantunya untuk pulih dan memberikan dukungan." Jawab Raga sambil menyesap teh hijau yang dibuatkan Ulfa.


"Terimakasih sudah merepotkan kamu datang ke sini." Ujar Ulfa ikut bergabung dalam obrolan.


"Assalamualaikum," suara salam membuat tiga orang itu serentak menjawab dan menoleh. Kila datang bersama Aish dan Zayid.


Ulfa mempersilahkan tamunya untuk duduk. Dia beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Apa Nana sudah mau keluar kamar?" Tanya Kila, dia rindu dan khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya itu.


"Nana belum mau ditemui, kami yang satu rumah pun tidak bisa bicara dengannya." Jawab Nazar, dia saja khawatir apalagi ibu kandungnya.


Perempuan paruh baya itu mendesah berat dengan mata berkaca-kaca. Aish menguatkan tantenya dengan memberikan pelukan.


"Apa Erland sudah ada ke sini menjenguk Nana?" Tanya Zayid.


"Belum, dia masih di luar kota sama istrinya. Aku sudah mengabari keadaan Nana, lusa baru bisa pulang."


Zayid mengangguk mengerti dengan penjelasan Nazar.


"Kamu kapan datang Nak?" Tanya Kila pada Raga.


"Baru sampai Tante," jawab Raga sopan. Dia sungkan berada di tengah keluarga Elvina dan Ken sendirian.


"Mamaa, kangen!" Erfan datang langsung duduk di samping kiri dan merangkul Kila. "Anaknya gak bisa dikangeni, terpaksa kangennya sama Mama." Ujarnya penuh penghayatan, Kila yang tadinya sendu jadi tersenyum geli.


"Allah, anak pungut, bikin heboh aja." Tegur Ulfa yang baru datang dari dapur, "Ummi cuma buat teh tiga. Kamu buat sendiri sana."


"Astaghfirullah Ummi, jangan pilih kasih gitu. Aku ini lagi sedih tiga hari gak lihat Nana." Akunya diikuti seringaian. Orang akan mengira itu candaan, tapi sebenarnya sesuai isi hati.


"Jangan macam-macam sama menantu Ummi!" Ulfa menatap tajam Erfan.


"Erfan cuma satu macam Ummi." Jawabnya sambil cekikikan membuat yang lain ikut tertawa. Kalau di rumahnya sendiri jarang dia mau tertawa seperti ini.