
Seperti janjinya sebagai permintaan maaf, Ken membawa Elvina jalan-jalan. Gadis itu hanya minta dibawa ke taman. Dia pikir El, akan minta ditemani keliling mall atau liburan.
"Sering ke taman ini?" tanya Ken pada Elvina, dia masih betah menatap pujaan hatinya yang sibuk mengamati anak-anak yang bermain di taman.
"Sangat sering, Kak Adnan selalu membawaku ke sini kalau sedang sedih." Jelas Elvina, hanya Adnan yang ada di saat dia terpuruk.
"Suka lihat anak-anak bermain yaa..?"
"Iyaa, mereka lucu dan sangat bahagia bisa tertawa bebas tanpa beban, tidak perlu memikirkan kerumitan hidup orang dewasa."
"Hidup memang selalu rumit El, susah untuk ditebak seperti teka-teki yang tidak pernah ditemukan jawabannya." Ujar Ken, Elvina mengalihkan tatapannya pada Ken yang nada bicaranya seperti orang sedang pasrah.
"Heeii, kenapa jadi baper?" Pekik Elvina lalu tersenyum geli.
"Kamu yang membuatku baper El." Ken menyembulkan senyumannya. "Apa Kak Adnan sudah memberikan undangan pernikahannya padamu?"
"Sudah, tapi aku belum melihatnya." Katanya seraya mengeluarkan undangan dari dalam tas dan memperhatikan nama yang tercantum.
"Adnan Aydan Atthallah putra dari Nazar Rizki Aydan."
"Jadi Kak Adnan anak Paman, Paman yang mengirim Kak Adnan untuk menjagaku. Ya Allah, Paman sangat menyayangiku seperti Papa."
"Papa pasti bahagia El, karena sahabatnya sudah menjagamu dengan baik."
"Pasti sangat bahagia." Elvina tersenyum yang membuat Ken terus menikmatinya. Debaran jantung Ken sudah tidak beraturan, untung saja Elvina selalu mengalihkan pandangannya.
"El, apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Ken harap-harap cemas.
"Belum, hanya kamu orang yang selalu menghinaku." Jawab Elvina masih menatap ke sudut taman memperhatikan anak-anak yang bermain bola.
"Maaf, aku tidak pernah bermaksud begitu." Ucap Ken dengan penuh rasa bersalah.
"Kau tidak seperti Kak Adnan, dia selalu baik padaku."
Ken mengiyakan dalam hati, Adnan memang selalu menjaga Elvina dengan hati-hati.
"Apa kamu menyukai Kak Adnan?"
"Syukurlah."
Ken merasakan lega di hatinya mengingat Adnan memperlakukan Elvina lebih dari seorang adik.
"Syukur, apa maksudmu?"
Elvina menatap Ken. Mereka beradu pandang yang membuat Elvina merasakan desiran di hatinya. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan dari Ken. Tidak berbeda dengan Ken yang merasakan detak jantungnya terhenti menatap mata Elvina dari dekat.
"Alhamdulillah dia selalu menjagamu. El, selama ini aku sangat tersiksa ketika harus bersikap kasar padamu." Lirih Ken, dia akan mengungkapkannya sekarang.
"Apalagi aku, sangat tersiksa mendengarnya." Ujar Elvina mendengus kesal.
"Maaf, ribuan maaf aku ucapkan untukmu El, sungguh aku sangat menyayangimu." Apapun yang dikatakan Elvina dia akan belajar menerimanya.
Elvina tertegun mendengar Ken mengatakan menyayanginya. Jantungnya semakin berpacu kencang, membuat wajahnya merona. Elvina mengatur napas sebelum berbicara kembali.
"Ken, tidak ada orang yang mengekspresikan rasa sayangnya dengan menghina."
"Aku takut tidak dapat menahan perasaanku padamu, aku takut mendekatimu sebelum halal. Makanya aku melakukan semua itu." Jelas Ken, dia sudah jujur sekarang. Elvina hanya menanggapinya seperti itu.
"Itu bukan alasan Ken, itu hanya pembelaanmu saja." Elvina tersenyum miring pada lelaki yang duduk di sampingnya ini. Kenapa jantungnya tak berhenti berdebar seperti ini. Kenapa ucapan Ken berpengaruh pada hatinya.
Ken menghela napas panjang, untuk melegakan sesak dalam dadanya. "Kamu benar El, itu hanyalah sebuah alasan, aku sudah gila memilih menjaga cintaku selama ini dengan cara begitu."
"Berapa lama kamu mencintaiku?" Elvina meresapi setiap kata yang diucapkan Ken, dia berharap semua ini tidak hanya sekedar rayuan.
"Sangat lama, sejak papa Al masih ada."
"Kamu terlalu pintar mengarang cerita Ken, hanya karena sudah tau banyak tentang hidupku."
"Yaa mungkin terlalu pintar, hingga terjebak dengan cinta seperti ini."
Elvina membuang pandangannya menghindari tatapan mata Ken yang dapat membuatnya keracunan.