
"Kami semua sayang Kak Sya," ujar Ken sambil tersenyum.
"Enggak, kalian cuma sayang sama Nana!"
"Kami sayang Kak Sya juga," tegas Ken. "Buktinya kami masih di sini menemani Kak Sya, ninggalin Nana sendirian. Kalau kami cuma sayang Nana, gak akan ada yang mau sama kakak di sini." Jelas Ken lembut, membuat Attisya berpikir lalu berhenti menangis.
"Nana mana?"
"Di kamar, Nana jangan dipukul lagi ya Kak. Nanti Nana takut sama Kak Sya dan gak mau keluar kamar lagi." Ken memberikan pengertian, Attisya mengangguk lalu beranjak menuju kamar Ken.
"Ibu hamil itu ngidam apa sih jadi garang banget?" Erfan bergumam sambil geleng-geleng kepala.
"Cemburu terpendam," sahut Ulfa sambil terkekeh geli.
"Ummi masih bisa bercanda ya, istri aku yang jadi sasarannya. Kalau gak main tangan sih gak masalah. Ini pake mukul segala." Ken berdecak, mau marah juga tidak bisa. Terpaksa deh yang waras ngalah.
Nazar tidak ikut menanggapi, lelaki paruh baya itu menyenderkan punggung di sofa. Waktu liburan yang harusnya untuk bersantai dan melepas lelah malah diawali dengan pertengkaran dua menantunya.
Ketika keluar kamar mandi Elvina dikejutkan dengan kehadiran Attisya yang duduk santai di sofanya. Di depan pintu ada Ken dan Adnan yang mengawasi. Dia ingin tertawa melihat dua lelaki yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah ibu hamil ini.
"Kak Sya, ada apa?" Tanya Elvina lalu mengambil posisi duduk di samping Attisya. Dia tidak takut kalau dipukul lagi.
"Ada yang sakit?" Tanya Attisya meneliti wajah dan tangan Elvina. Membuat si empunya keheranan.
"Nggak ada yang sakit, Kak." Ujar Elvina lucu, baru juga marah. Belum sampai satu jam sudah sok peduli seperti ini.
Adnan dan Ken menghela napas lega melihat dua perempuan itu tidak bertengkar.
"Maafin kakak, jangan takut ya sama kakak." Attisya memeluk Elvina, istri Ken itu mengernyit meminta penjelasan pada suaminya. Ken hanya mengendikkan bahu sambil tertawa kecil.
"Aku sudah maafin Kak Sya, jangan nangis lagi. Semua sayang sama Kak Sya." Elvina menghapus sisa air mata di pipi Attisya sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, gak boleh bertengkar lagi." Adnan mengusap sayang kepala Attisya, lalu mengecupnya. "Ayo kita nonton tv lagi," ajaknya.
"Gendong," Attisya mengulurkan tangan. Adnan menyambutnya, membawa sang istri meninggalkan kamar Ken.
"Mau nonton tv di luar juga, El?" Ken mendekati Elvina lalu duduk di sampingnya.
"Enggak, nanti aku salah lagi. Siapa tau semenit kemudian mood Kak Sya berubah. Kalau Kak Sya jambak-jambak aku gimana." Ujar Elvina sambil tertawa geli.
Ken menanggapi dengan tersenyum bangga. Dia melepaskan jilbab Elvina, menciumi aroma sampo istri di sana. Hanya seperti itu sudah bisa membangunkan juniornya.
"Wanginya istri Abang."
"Aku sudah mandi, Abang. Awas kebablasan!" Elvina menegaskan, dia sudah bisa membaca pikiran suaminya itu mengarah kemana.
"Bangun lagi Sayang." Lirih Ken dengan tatapan memohon.
"Enggak Abang. Aku sudah mandi," tegas Elvina.
"Abang belum mandi, Sayang. Abang bisa mandiin kamu kok. Kamu diam aja kalau malas gerak." Rayu Ken, Elvina menggeleng kuat.
"Ya sudah Abang mandi aja," pasrah Ken. Elvina tersenyum jahil. Sembari menunggu suaminya selesai mandi dia bermain ponsel.
Ken keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggang sambil menggosok-gosok rambut.
"Abang," panggil Elvina manja.
"Kenapa Cinta?" Ken sudah duduk di samping istrinya. Elvina menyandarkan kepala di bahu Ken sambil mencubit-cubit roti sobek di perut Ken.
"Geli Sayang." Ken menahan tangan Elvina agar tidak nakal. Disentuh begitu membuat miliknya bangun lagi.
Elvina berpindah duduk ke pangkuan Ken dan mendusel-dusel leher suaminya dengan manja.
"Kenapa nakal Sayang, tadi Abang belum mandi gak mau."
"Biar sama-sama mandi dua kali!" Ujar Elvina jahil, "eh, tiga kali. Pagi tadi sudah mandi juga," ralatnya. Ken ikut sajalah, mau menolak juga tidak berdaya.