
Keceriaan tampak di wajah Adnan datang ke rumah Kila untuk menjenguk Elvina, sudah beberapa hari dia tidak melihat adiknya itu karena disibukkan persiapan pernikahan untuk esok hari.
"Assalamualaikum Mama?" Sapa Adnan pada Kila sambil menyunggingkan senyuman yang menggoda. Parasnya yang tampan tidak bisa disembunyikan dari wajah kokoh itu.
"Wa'alaikumsalam, calon penganten pagi-pagi sudah ada di sini." Balas Kila dengan tersenyum.
"Mau ketemu adik tersayang dulu Ma, nanti susah ketemu karena ada yang cemburu." Adnan melirik Kila sambil tertawa.
"Kamu jangan terlalu memikirkan Nana, Mama di sini akan selalu menemaninya."
"Ma, aku akan terus memikirkan Nana." Adnan menggoda Kila dan beranjak ke kamar Elvina. Sampai kapanpun Adnan akan tetap menjaga Elvina walau sudah menikah.
"Pagi Sayang," Adnan menyempil dari balik pintu lalu mendekati gadis itu. "Masih baca puisi dari Ken?" Adnan melirik memo-memo pink kecil berisi rayuan-rayuan dari Ken berserakan di atas tempat tidur.
Elvina mengangguk ceria. "Kakak, ngapain pagi-pagi ke sini. Calon penganten itu dipingit bukan jalan-jalan sesuka hati." Celotehnya lalu tersenyum manja. Dimana lagi Elvina bisa menemukan lelaki sebaik Adnan yang rela melakukan apapun untuknya.
"Sudah bisa nyinyir sekarang. Gemas deh." Tak tahan, Adnan akhirnya mengunyel-ngunyel pipi gadis itu.
"Ih, sakit Kak." Kesal Elvina, mengusap kedua pipinya dangan telapak tangan.
"Nih aku bawain dress buat kamu. Besok pergi ke acara pernikahanku dipakai biar tambah cantik. Jangan pakai yang lain." Tegas Adnan, dia ingin melihat bidadarinya besok bersinar. Terakhir kali Adnan ingin bahagia bersama gadis ini, sebelum dia belajar mencintai istrinya.
Elvina mengangguk, membuka paper bag yang diberikan Adnan, berisi dress berwarna pink elegan. Namun sempurna, menutup seluruh auratnya, juga tidak menerawang.
"Cantik banget, makasih Kak. Pasti aku tambah cantik pakai ini deh." Ucap Elvina ceria dan pedenya. Adnan ingin terus membuat Elvina bahagia seperti ini. Tapi tak ada yang dapat dia lakukan lagi. Walau bisa menjaga Elvina setelah menikah nanti, Adnan tetap punya batasan agar tidak membuat istrinya terluka.
"Hari ini Ken datang, dia sudah dalam perjalanan, kamu kangen dia 'kan."
"Kakak sudah janjikan tidak akan bilang pada Ken?"
"Iya janji, kamu sudah makan Na?" Janji akan menceritakan semuanya. Lanjut Adnan dalam hati, mana bisa dia menyembunyikan hal sebesar ini dari Ken.
"Sudah, jangan terlalu mengkhawatirkan aku Kak. Nana-mu ini sudah besar." Kekeh Elvina, dia jadi tidak enak hati. Adnan selalu berlebihan padanya.
"Sebesar apapun kamu, tetap saja seperti anak kecil bagiku." Ucap Adnan dengan kekehan, gadis itu cemberut masam dikatakan anak kecil.
"Kakak jangan buat Kak Attisya cemburu, karena kamu terlalu berlebihan padaku. Aku tidak mau di cap pelakor. Emang aku apaan, sampai harus rebut suami orang." Adnan tertawa kecil, gadis kesayangannya sudah bisa berceloteh ria lagi.
"Aku kasih tau ya, kamu itu bukan pelakor tapi pencuri. Pencuri hatiku sejak lama, sadar gak sih kamu sudah jadi maling." Seloroh Adnan membuat Elvina terkekeh geli.
"Gak ada maling yang cantik sepertiku, Kak Adnan. Kalau ada bisa jadi sinetron ftv satu untuk semua."
"Kalau adik kesayanganku sudah bisa tersenyum ceria begini. Aku bisa menikah dengan tenang."
"Kak, orang menikah itu bahagia, meninggal kali dengan tenang." Sewot gadis itu, Adnan mengendikkan bahu.
"Ayo jalan, kita pacaran dulu sebelum aku menikah besok."
"Hayoo, jangan salahkan aku kalau Kak Attisya cemburu dan membatalkan pernikahannya." Ujar Elvina lalu mengambil jaket dan tas mengikuti Adnan keluar kamar.
"Doa yang baik-baik. Aku sudah habis banyak bayar weeding organizer, Na." Ucap Adnan dengan wajah kecut. Elvina mengendikkan bahu lalu tertawa geli.