
"Lo sudah di luar batas!" Bentak Ken pada Erfan sebelum pergi menyusul Elvina, "tidak semua masalah dia harus lo umbar."
Erfan mengacak rambutnya frustasi, dia hanya ingin melihat Elvina baik-baik saja. Tidak berniat membuat gadis itu tersinggung dan marah.
"Sepertinya anda yang harus ke dokter." Ucap Raga tenang, melihat wajah Erfan yang kacau sungguh sangat memprihatinkan. "Nana memang belum menceritakan semua masalahnya. Butuh waktu untuk menguatkan hati, mengungkap semua yang dia rasakan itu perlu tenaga.pp Kita tidak bisa memaksa, yang bisa kita lakukan hanya memberikan semangat."
"Salah ya kalau gue terlalu khawatir dengan keadaannya. Gue sudah gagal jagain dia. Rasa bersalah itu selalu datang menghantui gue."
Raga mendesah berat melirik kanan dan kirinya. Banyak orang yang berada di kantin. "Bukan tempat yang tepat untuk konsultasi." Lelaki itu menepuk bahu Erfan mengajaknya untuk pergi dari sana. "Dan, konsultasi sama saya tidak gratis." Lanjutnya dengan nada bercanda.
Ken menangkap tangan Elvina membawanya ke tempat mobil terparkir. Setelah memaksa gadis itu masuk, Ken melajukan mobilnya menuju taman. Elvina tidak mau membuka suara, juga tidak ada tangis di sana. Hanya ada mata sendu dengan air mata yang menggantung.
Sebelum keluar mobil Ken menarik tubuh rapuh itu dalam dekapannya. Dia tidak tahan melihat Elvina yang bersikap sok tegar seperti ini.
"Erfan sangat khawatir dengan keadaanmu makanya bersikap seperti itu. Dia merasa sangat bersalah karena adik dan sepupunya yang membuat kamu seperti ini." Bisik Ken lembut meluruskan.
"Maksudnya?" Elvina tidak mengerti, dia menjauhkan diri dari pelukan Ken takut semakin sulit melepaskan nanti.
"Lo gak tau kalau Fany itu adik Erfan?" Tanya Ken pelan, gadis itu menggeleng. "Fany gak suka kamu dekat sama Erfan El, makanya nyakitin kamu dengan memanfaatkan Azmi."
Apa yang sedang Elvina dengar ini. Telinga serasa kebas, selain ucapan Aish yang membuat telinganya panas. Apa yang Ken barusan jelaskan juga membuat telinganya tak kalah panas.
"Kenapa dia tega ngelakuin itu sama aku Ken. Aku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Kalau dia bilang, aku gak akan dekati Erfan lagi, Ken. Kenapa harus ngancurin aku seperti ini." Lirih Elvina sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Maafkan mereka ya, mereka sudah mendapatkan hukumannya. Mungkin sulit buat kamu maafin, tapi itu bisa bikin hati kamu lebih tenang."
"Apa yang bisa aku lakukan selain memaafkan Ken. Dan menerima takdir yang menyakitkan ini," ujarnya tersenyum getir. Ah, kalimat itu bagai cambukan untuk Ken. Dia sudah gagal menjaga gadis yang sangat dicintainya.
"Maafkan kami tidak bisa menjagamu dengan baik." Sesal Ken, "apa kamu baik-baik saja El?" Dia juga khawatir, ikut terpikirkan dengan apa yang diucapkan Erfan tadi.
"Enggak, aku nggak telat kok."
"Syukurlah, jangan malu untuk menangis, keluarkan yang bikin kamu sakit. Kamu bisa menangis di sini tanpa perlu mencari tempat lain untuk menenangkan diri." Lelaki itu menepuk dada yang sebenarnya juga terasa sesak.
"Ayo kita keluar." Ken keluar lebih dulu membukakan pintu mobil, membawa Elvina duduk di sebuah kursi panjang. "Semenjak kamu pergi aku sering mengunjungi tempat ini. Hanya tempat ini yang jadi kenangan aku sama kamu." Ujarnya, tanpa tau cerita itu sangat menyesakkan untuk di dengar Elvina. Lebih menyakitkan dibanding ucapan Aish atau kebenaran tentang sahabatnya.
"Maaf aku egois Ken." Lirih Elvina dengan air mata yang akhirnya tidak segan-segan untuk terjatuh. "Berat untuk merestui orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain. Aku sadar cinta tidak harus memiliki. Aku memilih pergi Ken, aku tidak mau keluargaku, keluargamu saling terpecah hanya karena perasaan ini."
"Kita bisa saling memiliki El, kita berdua menginginkan itu." Ken meyakinkan Elvina, dia mau mereka bersama bukan menyerah dengan takdir.
"Aku tidak mau merebutmu dari Aish, Ken."
"Kamu tidak pernah merebutku dari siapapun El, jangan berpikiran seperti itu."
"Kamu sudah setuju menikah dengannya Ken." Elvina menyeka air natanya lalu tersenyum.
Ken tersenyum kecut, lagi-lagi kesalahannya yang jadi bumerang. "Aku salah akan satu hal itu El." Ucapnya dengan nada berat, sebesar apapun ingin mengelak tetep saja dia pernah melakukan kesalahan.
"Aku juga salah sudah jatuh cinta sama kamu, Ken. Kamu ingin tau perasaanku kan. Sekarang aku akan katakan kalau aku mencintaimu." Katanya dengan menarik kedua sudut bibir melengkung ke atas.
"Tapi keputusanku tetap sama, aku tidak bisa menikah denganmu." Lanjut Elvina, lagi-lagi dia berusaha menjadi perempuan yang sangat kuat di depan Ken.
"Kita bisa menikah ada atau tidak adanya restu Abi Zayid, El." Ken tidak akan berhenti berjuang sebelum Elvina mau menikah dengannya.
"Kamu bisa, tapi aku tidak Ken. Sama seperti kamu menyayangi Kak Adnan. Begitu juga aku menyayangi Aish."
Ken terdiam, dia bahkan tidak tau rasanya merelakan orang yang dicintai untuk orang lain. Apalagi adik sendiri, pasti itu sangat menyakitkan.