EL & KEN

EL & KEN
47



Ken yang mengamati Elvina menahan sakit sejak meeting mendatanginya membawakan bubur dan cokelat hangat.


"Ken, jangan masuk." Tahan Adnan di depan pintu. "Nana masih belum mau bicara sama kamu."


"Izinkan aku bicara dengannya terakhir kali, Kak." Mohon Ken, tapi Adnan tidak menghiraukannya, mengambil cokelat hangat dan bubur yang dibawanya.


Inilah yang Ken takutkan ketika mencoba mendekati Elvina. Gadis itu menolak dengan kehadirannya. "Maafkan El, aku akan pergi."


"Nana, makan dulu. Tadi Mama Kila bilang kamu belum makan." Bujuk Adnan, "tangannya masih sakit?"


"Sedikit Kak." Sahut Elvina singkat.


"Ayo makan kakak suapin?" Adnan menyendokkan bubur mendekatkan ke mulut Elvina, tapi gadis itu menolak.


"Bisa sendiri, Kak."


"Kan tangannya masih sakit?"


"Masih bisa, Kak." Elvina tersenyum lalu mengambil buburnya.


"El, andai kamu ijinkan aku bisa memanjakanmu, seperti kak Adnan selalu memanjakanmu." Lirih Ken, mendengarkan pembicaraan dua orang itu dari balik pintu, Adnan pasti tau dia masih ada di sana.


"Kak, Azmi minggu depan pulang."


"Benarkah, kamu masih menyayanginya?" Pancing Adnan, dia sangat yakin adiknya masih berada di depan ruangan ini.


"Sangat menyayanginya, Kak." Jawab Elvina, lalu menyunggingkan senyum.


Ken meringis mendengar pengakuan itu. Elvina masih sangat menyayangi Azmi. Pantas saja kamu menolaknya, kata Elvina pemilik boneka itu sangat spesial. Gadis itu sudah membuatnya bingung.


"Kamu harus sehat ya, sampai dia pulang."


"Pasti, Kak." Ujarnya dengan tersenyum.


"Gitu dong senyum, dari pada cemberut terus." Goda Adnan, Ken sudah tidak tahan berada di sana dia beranjak menuju ruangan Nazar.


"Abi, aku besok kembali ke Kairo ya?" Izin Ken. Nazar yang sedang menandatangani berkas-berkas. Melepaskan bolpoin yang dipegangnya. Lalu menatap lekat Ken.


"Tidak bisa, Bi. Aku harus segera pergi dari sini." Sahut Ken pasrah bertepatan Adnan masuk keruangan, dia sudah mendengar apa yang Ken ucapkan.


"Kamu tadi menguping, jadinya sakit hati sendirikan." Ledek Adnan sambil tertawa.


"Oh jadi Nana penyebabnya." Ujar Nazar, sambil manggut-manggut tanda mengerti.


"Azmi akan kembali minggu depan, Bi." Kata Adnan yang masih mengamati kesedihan di wajah Ken.


"Adnan masa kamu tidak bisa menyelesaikan hal seperti ini." Nazar menatap putra sulungnya.


"Bukan tidak bisa Abi, kalau kita lakukan itu akan menyakiti Nana. Dia sangat menyayangi Azmi. Lagian Ken sudah menyakiti Nana dengan memilih Aish tanpa berdiskusi denganku." Sindir Adnan, Ken tak bergeming.


"Kamu memang keras kepala Ken, mau caramu sendiri. Biar aku yang menjaga Nana, Bi. Aku akan membatalkan pernikahanku dan menikahi Nana."


Ken yang mendengar ucapan Adnan terperanjat. Sebegitu besar cinta Adnan dengan Elvina sampai rela membatalkan pernikahannya.


"Adnan, jangan emosi seperti ini." Nazar tidak menyangka Adnan akan melakukan itu.


"Dia pengecut, Bi. Berkali-kali melukai Nana." Adnan mengarahkan telunjuknya pada Ken yang duduk di hadapan sang ayah.


"Kak, aku minta maaf sudah menyakiti Nanamu." Ucap Ken pelan, penuh rasa bersalah. Kehadirannya sudah memperkeruh keadaan.


"Pergilah Ken, aku tidak butuh kamu lagi untuk menjaga Nana, aku bisa menjaganya sendiri." Tegas Adnan dengan nada dingin. Sangat jarang Adnan berucap seperti itu.


"Adnan, undangan sudah tersebar. Apa yang akan kita katakan dengan keluarga Attisya. Tenanglah, berpikir dengan jernih." Bujuk Nazar, apa yang terjadi dengan kedua putranya sekarang.


"Bagaimana aku bisa berpikir, Bi. Kalau Ken selalu saja menyakiti Nana." Desis Adnan, Ken hanya terdiam menyaksikan kemarahan kakaknya.


"Pergi sekarang Ken!" Usir Adnan.


"Kalau kamu mau pergi, pergilah Ken. Abi akan mencarikan penggantimu untuk Nana." Tambah Nazar, melihat Adnan yang histeris mengusir Ken.


"Terimakasih Bi." Ken meninggalkan ruangan dengan hati yang hancur. Semua harapan di sini telah pupus, tidak ada yang tersisa lagi. Tidak ada yang mengerti dirinya lagi seperti Adnan yang selalu memahaminya. Dia sudah melakukan kesalahan besar


"El, maaf aku sudah terlalu sering melukai hatimu. Kali ini aku tidak akan melukaimu lagi. Aku akan melepaskanmu, Sayang. Bebaslah kamu dengan orang yang kamu sayang."