
Elvina memutuskan untuk berdiam diri di hotel untuk beberapa kedepan. Dia ingin menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu orang-orang baru. Jadwal bertemu psikiater sudah terlanjur dia cancel.
Gadis itu mengamati cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Andai Ken bukan lelaki yang dicintai sepupunya mungkin akan lebih mudah. Andai dia masih perawan mungkin bisa menerima lamaran Ken dengan senang hati. Andai ini adalah cerita novel pasti bisa cepat berlalu. Beberapa tahun kemudian bisa dilalui hanya dengan satu spasi.
Ada saatnya dalam hidup harus memilih untuk membalikkan halaman, menulis buku lain, atau hanya menutupnya. Dan Elvina memilih untuk menulis pada buku yang lain.
Lama bergelung dalam selimut akhirnya dia memilih bangkit. Meratapi takdir tidak hanya dengan rebahan. Elvina memutuskan untuk keluar dari hotel. Tetap diam tanpa bergerak membuat dadanya semakin sesak.
Terkadang kita memilih pergi bukan karena menyerah pada takdir. Tapi untuk menjemput takdir yang lain.
Elvina menikmati capucinno di sebuah kafetaria dekat alun-alun. Kafe dengan interior yang berkesan bohemian-hippie dan putih bersih membuat pikirannya jadi lebih tenang.
"Selamat siang Nona, boleh numpang duduk?" Izin seorang pemuda yang menarik kursi di depannya.
"Silahkan, kursi masih belum saya segel." Ucap Elvina datar tanpa tersenyum, pemuda itu terkekeh kecil. Apa ada yang lucu dari ucapannya? Dari sekian banyak tempat kosong kenapa harus duduk di depannya.
Gadis dengan balutan blouse tunik dan pashmina navy itu tak acuh. Sibuk menyeruput capucinno miliknya. Semua itu tak lepas dari pandangan pemuda yang duduk di depannya.
"Nona sendirian?" Tanya pemuda itu mencoba untuk ramah dan mengambil perhatian Elvina.
"Ada malaikat di kanan dan kiri saya, itupun kalau anda bisa melihatnya."
Pemuda itu lagi-lagi terkekeh, menurutnya gadis yang dia temui ini unik dan lucu. Walau tanpa ekspresi tapi itu sangat menggemaskan.
"Boleh tau namanya Nona?"
"Anda bisa mencari tau di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil setempat." Jawab Elvina acuh, walau orang di depannya ini cerewet dia tidak merasa terganggu. Itu lebih baik karena orang tidak menganggapnya nelangsa nongkrong di kafe sendirian.
"Apa anda tidak ingin berbaik hati sedikit memberitahukan nama anda pada pemuda yang malang ini, Nona." Ucapnya dengan tersenyum manis, tidak merasa tersinggung dengan kejutekan gadis yang duduk di seberangnya ini.
"Sebenarnya apa tujuan anda duduk di meja ini? Ingin numpang duduk, sedang wawancara atau anda sedang melakukan sensus penduduk?"
"Ketiganya, pertama saya ingin menemani seorang perempuan cantik yang sedang termenung sendirian. Kedua, saya sedang mewawancai calon istri saya. Siapa tau nama kita bisa bersanding di buku nikah. Ketiga, saya sedang melakukan sensus penduduk pada calon ibu dari anak-anak saya. Saya ingin menanyakan kira-kira perlu berapa anak yang akan dimasukkan dalam kartu keluarga. Sebutan kartu yang sebenarnya berbentuk surat." Ucap pemuda itu panjang, Elvina tetap bertahan pada ekspresinya tidak ada senyuman atau tersipu malu.
"Saya rasa anda salah orang Tuan, karena dari semua yang anda sebutkan tadi. Tidak ada pada diri saya."
Pemuda itu tersipu malu salah tingkah, habis sudah kata-katanya. Tidak berhasil membuat gadis itu tersenyum atau ramah padanya.
"Kalau begitu boleh saya memperkenalkan diri."
"Silahkan, tidak ada yang melarang anda untuk memperkenalkan diri. Walau itu sama sekali tidak penting untuk saya." Ucap Elvina tersenyum sangat tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Benarkah dia tersenyum." Pekik pemuda itu senang setelah Elvina menjauh dari pandangannya. Tapi sayang, dia tidak mendapatkan identitas apapun agar bisa bertemu dengan gadis itu lagi.
Elvina tersenyum geli sendiri setelah sampai kamar hotel. Kenapa dia bisa bertemu lelaki seaneh itu. Cukup menghibur hatinya yang sedang kalut. Baru satu hari dia pergi, perasaannya sudah rindu seperti ini. Harapannya waktu bisa menghapus segala rindu dan luka yang dia rasakan.