
Ken terbangun dengan Elvina masih tertidur di atasnya. Bisa-bisanya mereka tidur dengan posisi seperti ini. Tangannya membawa rambut yang menutupi mata Elvina ke belakang telinga.
Sudah jam berapa ini, dia belum mandi. Sudah janji menjemput Raga. Belum sempat Ken membangunkan Elvina, Adnan sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya sambil geleng-geleng kepala.
"Kami sudah pulang mau makan siang, kalian masih keenakan tidur-tiduran." Tegur Adnan sambil berjalan mendekati Ken, dia diminta sang ummi untuk menjenguk adiknya yang ikut mendekam di kamar.
"Katanya mau jemput dokter Raga, tapi belum siap-siap."
"Gimana ini," telujuk Ken mengarah pada Elvina yang tidur di atasnya. "Nyaman banget tidur begini. Kasihan kalau dibangunin," ucapnya pelan.
"Ya sudah, aku yang jemput." Putus Adnan seraya mengusap kepala Elvina. Dia juga tidak tega membangunkan. Sudah berapa hari Adnan tidak melihat adik iparnya ini. Dia bisa masuk lantaran orangnya sedang tidur.
"Makasih Kak." Ujar Ken, sang kakak menjawab dengan anggukan lalu meninggalkan kamar. Suami Elvina itu tidak banyak bergerak agar istrinya tidak terbangun.
"Keeen... Keeen..." gumam Elvina.
"Sayang, aku di sini." Ken menepuk lembut pipi Elvina. Istrinya memang sering bergumam sendiri saat tidur.
"Keeen," gumam Elvina lagi sambil terisak seperti orang menangis tapi tidak ada air mata di sana.
"Hei, Sayang. Abang di sini." Ken membangunkan tubuhnya paksa, otomatis sang istri juga ikut terbangun. Dia menahan tubuh Elvina agar tidak terjatuh.
"Mimpi apalagi, Sayang?" Tanya Ken lembut.
"Jangan pergi!" Lirih Elvina sendu. Ken tidak tau apa yang mengganggu pikiran istrinya ini.
"Aku ada di sini gak kemana-mana, El. Jangan takut ya." Ken menyatukan keningnya dengan kening Elvina sambil tersenyum.
Demi istrinya sudah beberapa hari ini Ken tidak ke kantor. Dia tidak bisa meninggalkan Elvina saat seperti ini.
"Kita mandi dulu Sayang, Kak Adnan lagi jemput Raga."
"Gak jadi Abang yang jemput?"
Elvina mengangguk mengerti, baguslah dia juga malas keluar kamar.
"Kamu mikirin apa, Sayang?" Ken mengusap belakang kepala sang istri dengan kedua tangannya.
"Aku takut kamu ninggalin aku dan cari perempuan yang lebih sempurna dariku." Ucap Elvina lemah, sejenak Ken terdiam kemudian menggeleng.
"Kamu sudah sempurna buat aku, semua yang ada padamu cukup buat aku, El." Jelas Ken lembut, tidak akan ada satu perempuan pun yang bisa menggantikan posisi Elvina di hatinya.
"Sekarang Abang bisa ngomong gitu karena kita baru beberapa bulan nikah. Kalau aku gila apa Abang masih mau sama aku?"
"El mikirin apaan sih, gak akan ada yang gila. Abang minta Raga datang ke sini biar kita bisa sama-sama sembuh. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh Cinta, Abang gak suka El bicara seperti itu." Tegas Ken, dia akan memperjuangkan agar cinta mereka bisa bertahan sampai akhir hayat dan bersatu kembali di akherat kelak.
"Ayo sekarang kita mandi, ini kepalanya harus dibersihin dulu biar gak suka mikir yang aneh." Ken meniup mata Elvina gemas.
"Aku gak lagi kelilipan, Abang." Ucap Elvina dengan cemberut, sang suami malah terkekeh geli.
"Mau Abang gendong ke kamar mandi nih jadi gak bangun-bangun. Enak banget ya di pangku. Badan aku pegel tau, tadi waktu tidur kamu tindih juga. Habis mandi pijetin pokoknya." Goda Ken, Elvina bangkit lalu melengos ke kamar mandi duluan.
"El, mandinya bareng, Sayang!" Teriak Ken menyusul istrinya.
Elvina menutup pintu sampai berdentum keras. Ken yang hampir sampai pintu terperanjat.
"Kasihan pintunya kalau di banting El. Nanti retak." Ucap Ken penuh drama.
"Bukan kaca Abaaang yang bisa retak. Lagian gak ada stiker JANGAN DIBANTING yang nempel di pintu!" Teriak Elvina dari dalam kamar mandi.
"Nanti besok Abang pasang stikernya." Sahut Ken asal, lalu kembali ke membaringkan tubuh di sofa menunggu istrinya selesai mandi.
Setelah bergantian mandi dengan Elvina. Ken mengajak istrinya sholat. Lalu mengambilkan makan siang. Elvina masih belum mau keluar kamar kalau tidak dipaksa seperti pagi tadi.