EL & KEN

EL & KEN
195



Setahun sudah Ken berada di Kairo bersama Elvina, besok dia akan di wisuda. Tak sabar ingin bertemu keponakannya, anggota baru dikeluarga. Itu akan mengobati kerinduan Elvina yang ingin memiliki anak.


Ken berdiri di balkon menikmati ribuan bintang di langit yang tampak indah, seindah saat bersama Elvina.


"Abang, di luar dingin ayo masuk."


"Sebentar." Ken menarik istrinya mendekat, memeluknya dari belakang. "lihat bintangnya cantik seperti kamu."


"Akukan memang dari dulu sudah cantik Abang." Senyuman manis yang tersembul di bibir Elvina membuat Ken jadi betah menatapnya. "Jangan menatapku begitu, seperti ingin memangsa saja."


"Sebentar lagi kita pulang, bertemu baby cantik. Kamu kangen Mama?"  Selama berada di Kairo Ken tetap terhubung dengan Raga untuk perkembangan Elvina. Sekarang mereka sudah lebih baik walau Ken tidak bisa mengingat semua tentang Elvina.


"Kangeen."


Elvina meringkuk dalam pelukan suaminya, Ken memperlakukannya sangat lembut. Tidak pernah marah-marah dengannya lagi. Ken selalu menghujaninya dengan cinta.


"Ada apa Sayang?" Ken menarik mundur istrinya yang terlihat lebih sendu. Menutup pintu balkon dengan satu kaki.


Dia membaringkan Elvina ke ranjang, selalu tau bagaimana membuat istrinya itu nyaman. Walau sedang marah pun tetap saja Elvina ingin marah dalam pelukannya, kan lucu.


"Kenapa aku belum hamil? Apa aku tidak pantas menjadi ibu."


"Kenapa bertanya seperti itu, Sayang." Ken memiringkan tubuh memangku kepala dengan tangan kanan. Menatap lekat setiap inci wajah Elvina, tangannya mengelus lembut di pipi sang kekasih.


"Allah masih memberikan kita waktu agar bisa pacaran sebelum sibuk mengurus baby." Katanya menenangkan sambil tersenyum manis.


"Apa kamu masih malu-malu padaku?" Ujarnya seraya menciumi puncak kepala Elvina.


"Dadaku juga berdebar, kita harus melakukannya lebih sering lagi biar bisa jadi baby." Kicau Ken saat tidak mendapatkan respon dari Elvina.


"Ayo kita coba lagi Cinta, sambil berdoa." Ajak Ken yang sudah menjelajahi tubuh Elvina dengan jahil. Mau tidak mau Elvina meladeni suami nakalnya itu.


"Suka banget bikin Abang khawatir ya." Ken membawa Elvina ke atas tubuhnya, menciumi puncak kepala perempuannya itu dengan hangat.


"Cuma lagi melow Abang, gak bisa jalan-jalan di sini lagi." Elvina membenamkan kepalanya di atas dada Ken. Mendengarkan suara jantung sesuaminya yang berdetak kencang.


"Kita bisa tinggal di sini lebih lama kalau kamu mau." Ken memberikan usapan di punggung Elvina.


"Aku mau pulang, sudah kangen sama Mama, Ummi, Abi dan semuanya."


"Baiklah, kita akan pulang Cinta. Semoga Allah segera memberikan cahaya cinta untuk kita."


Elvina mengaminkan dengan lirih kemudian tertidur dalam dekapan Ken. Tidak lama sang suami itu juga menyusul ke alam mimpi.


Acara wisuda telah selesai, Ken selalu ditemani istrinya. Mereka membingkai foto berdua dengan ceria. Tawaran pekerjaan di negeri orang tidak Ken terima. Walau kemanapun dia pergi istrinya akan tetap mengikuti. Tapi tanah kelahiran selalu memanggilnya untuk kembali. Pria berusia tiga puluh tahun itu kini merasakan kebahagiaannya telah lengkap walau belum dikaruniai anak.


Persiapan kepulangan telah beres mereka lakukan, keluarga sudah menunggu kepulangannya. Terutama istrinya, perempuan itu yang selalu ditanyakan kabarnya. Sepertinya abi dan ummi sudah lupa kalau dialah yang anak mereka, bukan Elvina. Ken tersenyum smirk menatap wajah kekasihnya yang tertidur pulas karena kelelahan setelah membereskan barang-barangnya.


"Istri solehah." Ken mengusap lembut rambut panjang Elvina. "Terimakasih sudah menyempurnakan hidupku Sayang, terlalu banyak luka yang sudah kamu lalui selama ini sampai kita bisa berada di posisi ini."