
Elvina tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Bertepatan Ken keluar kamar mandi sambil menggosok-gosok rambut dengan handuknya.
Tetesan air jatuh di kulit yang tak tertutup kain itu membuat Ken terlihat lebih tampan. Jantung Elvina berdegub kencang, darahnya sudah berdesir panas.
"Abang, aku boleh ke butik gak hari ini jam sembilan pagi?"
"Boleh, Sayang. Nanti Abang antar." Ken mengembalikan handuk ke tempatnya. Lalu membantu Elvina menyisir rambut.
"Abang pake baju dulu, itu roti sobeknya pengen aku makan deh."
"Nih makan." Dengan usil Ken membenamkan kepala Elvina di perutnya. Aroma tubuh Ken menyeruak ke indra penciuman Elvina. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Gigit Sayang," goda Ken seraya menuntun telapak tangan Elvina menyentuh dadanya. Sejenak perempuan itu menikmati aroma tubuh sang suami. Lalu muncul ide cemerlang di kepalanya.
Bukan menggigit, Elvina malah mengendus-endus perut Ken dengan manja. Tangannya bergerak membelai manja dada Ken.
"Sayang, kamu sepertinya sudah tau apa yang kumau." Goda Ken jahil, menggendong sang istri ke atas ranjang. "Ayo lanjutin Sayang, aku pasrah." Katanya, Elvina membenamkan wajahnya di dada Ken karena malu.
"Abang, ini sudah jam setengah delapan," Elvina mengingatkan.
"Masih ada sembilan puluh menit Sayang, cukup untuk dua putaran." Ken mengangkat kepala Elvina dengan lembut, pipi perempuan itu sudah merona merah.
"Abang janji gak kasar lagi," katanya sambil tersenyum dan menciumi seluruh wajah Elvina.
Perlahan Ken menuntun istrinya untuk berbaring dengan nyaman. Menyesap lembut bibir yang sangat menggoda itu. Sesuai janjinya Ken melakukan sangat lembut. Dia tidak akan menyakiti perempuan tersayangnya lagi. Penyatuan itu membuat keduanya mabuk kepayang.
"Sakit?" Tanya Ken tanpa melepaskan Elvina dari pelukannya.
"Sedikit," cicit Elvina.
"Nanti sembuh, Sayang. Mau diulang di sini atau di kamar mandi." Ken menggoda sambil menciumi puncak kepala Elvina. Aroma sampo itu membuat gairah Ken kembali lagi.
"Istri Abang lemah," ucapnya lalu menindih Elvina kembali dengan tawa jahat.
"Ih Abang!" Kesal Elvina sambil memukuli dada Ken. Lelaki itu memberikan sapuan lembut di bibir Elvina, menyesap dan menggigitnya dengan lembut. Elvina tak kuasa menolak, tubuhnya juga menginginkan itu.
Saat Elvina sudah terbakar gairah Ken menjauhkan dirinya, tersenyum penuh kemenangan.
"Abang," rengek Elvina.
"Apa Sayang?" Ken menaik turunkan alisnya.
Elvina mendengus, bangkit dari ranjang langsung ke kamar mandi. Karena kesal Ken mengerjainya, Elvina berendam di bathtub.
"Sayaang, belum selesai!" Teriak Ken frustasi menggedor-gedor pintu kamar mandi. Aargh, salah sendiri ingin menggoda malah kewalahan begini.
Cukup lama Elvina berendam, selesai mandi tubuhnya segar kembali. Awas saja, dia akan melakukan balas dendam nanti. Suaminya itu harus dikasih pelajaran.
"Sayang, belum selesai. Lanjut yok." Ken memeluk istrinya dari belakang. Saat Elvina keluar dari kamar mandi.
"Enggak, Abang harus dihukum sudah ngerjai aku." Tegas Elvina, perempuan itu melengos melepaskan pelukan suaminya menuju wardrobe.
"Abang cuma bercanda, Sayang." Rengek Ken menyusul istrinya.
"Ngapain ngikutin aku Bang, aku mau ganti baju. Abang mandi gih sana. Atau aku berangkat naik taksi." Ungkap Elvina masih penuh dengan kekesalan.
Ken terpaksa membalik badan, putar arah ke kamar mandi. Kenapa dia suka istrinya marah-marah begitu. Ken merasa dejavu.
Suami Elvina itu senyum-senyum sendiri masuk ke kamar mandi. Dia punya cara untuk menghilangkan perasaan marahnya yang aneh ini.