
Sepulang dari pantai Raga langsung mengantar Ken dan Elvina ke sebuah hotel yang sudah disiapkan. Barang-barang yang mereka perlukan juga sudah ada di sana. Kamar itu dihias seperti kamar penganten. Dengan kelopak bunga mawar bertebaran di ranjang.
"Niat banget ngusir kita begini, Bang."
Ken menanggapi dengan tawa, entah harus bersyukur atau merasa kesal. Selesai membersihkan diri petugas hotel memberitahu untuk mereka bersiap-siap makan malam.
Dua orang itu mengernyit, mereka belum memesan apapun. Tapi tetap mengikuti petugas hotel yang membawa mereka ke sebuah taman.
"Candle light dinner?" Elvina melongo, "mereka niat banget, apa maksudnya coba." Decaknya, Ken menenangkan dengan mengusap-usap tangan istrinya. "Mereka sudah susah-susah menyiapkan, jangan buat mereka kecewa ya."
Elvina menarik napas panjang, lalu mengangguk. Dia semakin merasa tidak enak, kalau tau gini lebih baik cari hotel sendiri saja daripada menyusahkan orang lain.
Mereka makan dengan tenang sampai selesai. Ken mengamati istrinya yang masih betah diam. Harusnya senangkan dapat beginian, Elvina malah marah.
"Ayo ke kamar, Sayang. Kamu lelah banget kayaknya." Ken menggandeng Elvina sampai kamar, mendudukkan di sisi tempat tidur.
"Ganti baju dulu, baru istirahat."
Elvina menurut beranjak menuju lemari, "Abang gak ada baju." Keluhnya, Ken langsung mendekati istrinya yang sedang badmood itu.
Mengambil pakaian yang ada satu-satunya di sana, selain pakaian tidurnya. "Pake ini aja Sayang," bujuknya.
"Itu bukan baju, Abang. Aku gak mau. Tipis banget gitu." Elvina membuang lingeri yang diberikan Ken.
"Ya sudah pake ini terus dilapisi kimono biar tebal." Saran Ken ngawur, serah ajalah. Nanti kalau kepanasan bisa dilepas sendiri.
Raga memang keterlaluan mengerjai mereka. Walau dalam hati Ken senang melihat istrinya mencak-mencak begitu.
Elvina menurut dengan ide gila suaminya, mengambil kembali lingeri yang tadi dibuangnya.
Ken mengambil obat lalu meminumnya, hampir saja emosinya ikut meledak. Sambil menunggu sang istri Ken membaringkan badan.
Suara pintu kamar di ketuk membuat Ken bangkit dari tidurnya. Petugas hotel mengantarkan dua gelas lemon tea. Entah kenapa dia jadi curiga dengan minuman itu.
"Abang," panggil Elvina saat keluar kamar mandi. Bibirnya langsung manyun mendapati Ken terlelap lebih dulu.
Netranya menangkap lemon tea di atas nakas, langsung menyambarnya. Lumayan untuk meredakan tenggorokan, gumamnya. Setelahnya membaringkan badan di samping Ken.
Elvina gelisah di tempat tidur, matanya enggan terpejam, tubuhnya sangat gerah. Dilepasnya kimono, lalu masuk dalam selimut. Argh, badannya terasa aneh. Elvina beringsut masuk dalam pelukan Ken.
"Abang," rengek Elvina.
Ken mengerjap lambat, Elvina bergeriliya di tubuhnya. "Sayang, kenapa?" Tanyanya khawatir. Elvina semakin menempel di tubuhnya.
"Panas Abang, huhh."
Suami Elvina itu langsung mengerti, menatap gelas kosong di atas nakas, "kenapa kamu minum itu, Sayang?"
****, Raga menyusahkan saja, kecurigaannya benar. Dia harus memuaskan istrinya yang benar-benar gila sentuhan malam ini. Ingin merendam tubuh Elvina dalam bathtub tapi tidak tega.
Sampai pagi Elvina tidak ada lelahnya, terpaksa Ken juga meminum lemon tea itu untuk menandingi keganasan istrinya.
"Abang, badanku sakit semua. Rasanya remuk." Adu Elvina usai sholat subuh, kembali meringkuk di bawah selimut.
"Istirahat lagi, Abang sudah reschedule tiket agak siangan." Tidak tega Ken meninggalkan istrinya yang dalam keadaan seperti ini. Dia harus memberikan pelajaran pada Raga, awas saja nanti.
"Apasih yang aku minum sampai panas banget." Kesal Elvina, dia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
"Masih panas Sayang?" Ken duduk memangku kepala Elvina.
"Udah enggak, tega banget Raga ngerjain gini. Aku susah jalan Abang. Mana Abang pulang hari ini." Akhirnya Elvina menangis sambil memeluk perut Ken. Hatinya semakin kesal dengan makhluk bernama Raga itu.
"Abang gak jadi pulang hari ini, Abang temani El dulu." Putus Ken, sambil mengelus sayang rambut Elvina.