EL & KEN

EL & KEN
30



"Datang saja, tapi aku belum tentu terima ya..!" Sahut Elvina santai, cuma datang melamarkan asal tidak dipaksa menerima. Itu bukan masalah besar. Semua keputusan tetap berada di tangannya.


"Nanti malam kami ke rumah ya." Ujar Ken tersenyum bahagia, lampu hijau mulai menyala walau masih kelap-kelip seperti lampu disko.


"Iya. Tapi jangan berharap banyak, tidak tanggung jawab kalau kecewa." Tegas Elvina sekali lagi.


"Kok penegasannya mau nolak gitu."


"Kan cuma buat syarat biar dibayarin makan." Elvina terkekeh geli, Ken mendengus kesal. Susah sekali meluluhkan hati gadis ini. Coba gadis lain pasti sudah klepek-klepek kalau Ken yang menggoda.


"Ya Allah El, jangan ditolak dong kasihani aku, masa demi perut doang tega PHP-in aku." Lagi-lagi Elvina tertawa geli. Bertepatan pesanan mereka datang.


"Cobain ini enak gak?" Elvina menyuapkan steak ke mulut Ken.


"Enak banget karena kamu yang nyuapin." Bahagianya hati Ken, kapan lagi bisa mengobrol lama dengan Elvina.


"Sekarang syaratnya sudahkan. Jadi aku gak perlu bayar makanan ini dan kamu gak perlu datang ke rumahku malam ini. Kalau perlu kamu yang bayar aku."


"Aku tetap akan ke rumahmu malam ini." Tegas Ken, kesempatan yang ini tidak boleh dilewatkan.


"Terserah...!! Tapi bayar dulu, aku sudah nyuapin kamu."


"Kok gitu, matre amat sekali suapan doang bayar. Kok aku jadi diperas gini." Keluh Ken dengan wajah kesal.


"Maaf tuan Ken, harga dinner bareng aku tidak cukup delapan puluh juta." Elvina berbisik di telinga Ken.


"Mahal amat Neng, Abang gak sanggup bayar." Ken tertawa geli, dia geleng-geleng kepala. Gadisnya ini sudah membuatnya tersenyum, tertawa dan cemberut dalam satu waktu.


"Kalau mau murah sama tante-tante." Elvina melanjutkan makannya sambil tersenyum.


"Kejaamm, kamu kejaam El."


"Kenapa?"


"Karena sudah membuatku tambah terperangkap dengan cintamu."


"Kalau aku memintamu mendampingiku di pernikahan Kak Adnan harus bayar berapa?"


"Lima ratus juta..!"


"Kalau menikahimu?"


Elvina terdiam seolah sedang berpikir.


"Berikan cintamu untukku, akan aku bayar kau dengan surga dunia." Ken berbisik di telinga Elvina lirih.


"Astaghfirullah Ken, kau membuatku merinding." Elvina tertawa gelak diikuti Ken. Dia serius merinding mendengar ucapan nyeleneh Ken.


"Udah selesai makannya, biar aku antar pulang, nanti mama nyariin."


"Sudah. Ayoo pulang, tapi jangan culik aku yaa."


"Rencananya begitu, tapi aku takut keperjakaanku yang tergadai karenamu El." Gelak tawa Ken pecah sampai orang-orang menatap ke meja mereka. Dua orang itu seolah tak acuh. Kemudian meninggalkan rumah makan.


"Ken, aku tidak akan memperk*samu. Kamu berbeda dari biasanya. Kamu terus membuatku tertawa hari ini," jujur Elvina. Ken sudah fokus menatap jalanan, hanya sesekali melirik gadis itu. Hari ini mereka banyak berbagi tawa.


"Mungkin kamu sudah jatuh cinta denganku," celetuk Ken.


"Ken, jangan terlalu kepedean yaa." Ken hanya mengendikkan bahunya, mobil sudah memasuki komplek perumahan Elvina.


"Sudah sampai. Titip salam buat mama, bilangin malam ini aku akan datang sama abi dan ummi." Elvina mengangguk lalu keluar dari mobil Ken.


"Terimakasih sudah membuatku sangat bahagia El." Lanjut Ken sebelum gadis itu benar-benar meninggalkan mobilnya. Lalu tersenyum manja dan mengedipkan mata pada Elvina.


"Iyaa bawel."


Tidak bisa diungkapkan bagaimana bahagianya hati Ken saat ini. Senyuman terus tersungging di bibirnya.