
Sudah beberapa hari ini Elvina tidak melihat Ken di kantor. Kemana perginya anak satu itu. Mungkin kabur ke rumah Paman Zayid lagi bertemu Aish di sana. Aish pasti bisa menyembuhkan hati Ken yang terluka.
"Ken mana Kak, sudah tiga hari gak keliatan?" tanya Elvina pada Adnan yang sedang di ruangannya.
"Dia kembali ke Kairo melanjutkan kuliahnya."
Elvina hanya manggut-manggut, berharap Ken memberitahunya. Tapi siapa dia harus dapat informasi itu.
"Kenapa Na?"
"Gak papa, Kak." Elvina tersenyum, dalam hatinya merasakan rindu mengingat orang yang selalu memakinya itu.
"Kamu kangen Ken?"
"Tidak. Aku kangen Azmi, hampir tiga tahun tidak bertemu." Ucapnya, mengalihkan pembicaraannya dari Ken.
"Kalau ketemu Azmi kakak antar ya, ini perintah Abi tidak bisa dibantah." Ujar Adnan, dia takut gadisnya ini kenapa-kenapa.
"Dengan senang hati." Sahut Elvina.
"Kalau melihat Nana sedang bahagia Papa biasanya ngapain?" Tanya Adnan, dia tau persis orang yang berada di depannya ini sedang menahan tangis.
"Memeluk dan mencium keningku dengan tersenyum."
"Kami hanya bisa menyayangimu Na, tidak bisa melakukan itu karena tidak ada ikatan darah diantara kita. Andai aku kakak kandungmu pasti akan selalu memelukmu menggantikan Papa." Dia sangat ingin bisa mendekap adiknya ini. Betapa rapuhnya sekarang gadis itu.
"Istrimu pasti sangat bahagia bisa bersamamu, Kak."
Adnan itu sangat perhatian dan pengertian. Tentu saja siapa yang menjadi istrinya akan sangat beruntung.
"Sangat bahagia, tapi dia juga sangat cemburu denganmu." Jujur Adnan, Attisya pernah cemburu karena dia selalu memprioritaskan Elvina. Untung saja calon istrinya itu bisa diajak bicara dan mengerti.
"Aku adalah adikmu. Kenapa dia mencemburuiku," Elvina terkekeh kecil.
"Karena aku sangat menyayangimu."
Elvina tak bergeming, dia ingat Adnan mengatakan ingin membatalkan pernikahan demi dirinya.
"Ada apa Na?"
"Tidak apa."
"Sekuat apapun kamu menyembunyikan kalau kamu mencintai Ken itu tetap akan terlihat Na." Ucap Adnan akhirnya, dia tidak tahan melihat wajah sendu itu.
"Sampai kapan Na?"
"Kapan-kapan." Elvina kembali tertawa menyembunyikan lukanya.
"Ya Allah... huuhhh." Adnan menarik napas panjang. Susah berbicara dengan orang yang selalu berpura-pura kuat.
"Kak, berhentilah menjaga dan mengkhawatirkanku. Selama ini keluarga kalian terlalu baik padaku."
Adnan sangat tidak suka mendengar kalimat itu. Terlihat wajahnya yang sudah berubah, lelaki itu menggenggam erat tangannya, kenapa Elvina harus mengatakan begitu. Seketika emosinya mencuat karena ucapan gadis itu.
"Nana, itu permintaan yang bodoh jika kamu memintaku berhenti mengkhawatirkanmu." Adnan membentak Elvina dengan nyaring.
Elvina hanya tertunduk menahan air mata agar tidak keluar. Ini adalah kali kedua Adnan membentaknya.
"Kemaren Fany ingin menabrakmu Na, kamu masih bisa memintaku untuk berhenti menjagamu." Geram Adnan.
Nazar yang mendengar Adnan berteriak berlari ke ruangan Elvina.
"Adnan. Berhenti berteriak pada Nana. Kenapa kamu tidak cerita pada Abi kalau ada yang ingin mencelakakan Nana." Tegas Nazar tak kalah nyaring.
"Aku sungguh lelah Bi, tidak mengerti dengan pikiran Ken dan Nana. Aku hanya ingin melihat mereka bahagia, tapi mereka malah menyakiti diri mereka sendiri dengan keegoisannya." Adnan menumpahkan air mata yang sudah ditahannya begitu juga dengan Elvina.
"Selama tiga tahun ini aku menjaganya seperti adikku sendiri, Bi." Adnan menunjukkan jarinya pada Elvina. "Tapi apa Bi, dia memintaku berhenti menjaganya disaat dia sangat memerlukan itu."
"Aku lelah Bi, lelaah." Adnan membawa dirinya keluar ruangan, meninggalkan Elvina dan ayahnya.
Nazar mendekati gadis yang menangis tergugu di depannya. "Sayang, jangan dipikirkan apa kata Adnan yaa." Ucapnya lembut, mengusap puncak kepala gadis itu.
"Paman, terimakasih sudah menyayangiku seperti anakmu sendiri. Karena aku kalian jadi bertengkar," lirih Elvina.
"Paman antar kamu pulang ya, Sayang."
"Tidak Paman, aku masih banyak kerjaan. Jangan khawatirkan aku." Elvina menyeka air matanya lalu menyunggingkan senyuman.
"Ya sudah, Paman tinggal ya Sayang. Jangan menangis lagi." Elvina mengangguk, Nazar meninggalkan ruangannya.
"Ya Allah apa yang terjadi sekarang, semua membuatku bingung. Karena aku keluarga paman tercerai berai. Mereka bertengkar karena terlalu mengkhawatirkanku."
Elvina beranjak menuju mushola dia akan menenangkan diri di sana. Hanya itu yang bisa dilakukannya saat tak ada tempat untuk mengadu lagi. Andai Papa ada di sini, pasti tidak akan membiarkannya terluka seperti ini.