EL & KEN

EL & KEN
130



Sebelum memulai sesi belajar, Erina membawa Elvina untuk melihat koleksi gaun-gaun limited edition yang ada di butiknya.


"Ini yakin harganya segini Kak?" Elvina meneguk ludah saat melihat harga pakaian yang ditunjukkan Erina.


"Kamu jangan sok miskin deh, mau beli sepuluh setiap hari pun kamu bisa Na." Erina berdecak kesal, adik sepupunya itu memang selalu hidup sederhana.


"Gak gitu, satu baju ini kalau uangnya di kasihkan ke panti mereka pasti senang Kak, sayangkan baju cuma dipake sekali terus berakhir jadi pajangan dalam lemari."


"Kamu itu ya selalu mikirin orang lain."


"Kalau bukan kita yang mikirin mereka lalu siapa?" Elvina memegang baju-baju yang harganya fantastis itu. Apa mungkin benangnya dari emas lalu manik-maniknya dari berlian, pikirnya asal. "Mereka bisa makan aja syukur, beli baju cuma setahun sekali. Lah kita? Bisanya cuma buang-buang uang buat hal yang gak terlalu dibutuhin."


Erina membalikkan badan, tersenyum bangga pada Elvina, "adik aku ya, sayang banget deh." Perempuan berumur tiga puluh dua tahun itu menepuk sayang pipi Elvina.


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar ucapan Elvina dengan takjub.


"Rin, mommy udah acak-acak koleksi kamu tuh." Tegur seorang pria.


"Eh, Deo. Panggil mommy mu, aku sudah nunggu di sini dari tadi."


"Siapa sih yang punya butik, nyusahin gue aja." Deo berdecak, dia masih belum melihat wajah orang yang berdiri di depan Erina, karena perempuan itu membelakanginya.


"Gue lah, sebagai pelanggan setia lo gak boleh kurang ajar sama gue." Kata Erina asal sambil tertawa.


"Oh ya De, kenalin calon desainer di butik gue." Erina membalikkan tubuh Elvina tanpa permisi.


"Apaan sih Kak, jangan ngaco. Aku kalo gak diancam gak bakalan mau ya." Elvina berdecak kesal, Erina malah tertawa cekikikan. Perempuan itu sangat mudah tertawa walau tidak ada hal yang lucu.


Deo dibuat terpana dengan kecantikan perempuan yang sekarang sudah menghadap ke arahnya. Entah sejak kapan jantungnya sudah berdetak lebih cepat.


"Deo." Lelaki itu mengulurkan tangannya, Elvina menangkupkan kedua tangan di depan dada, "Nana." Sahutnya dingin, tanpa ekspresi.


"Erin, mana gamis yang mommy lihat di majalah itu. Itu gamis buatan kamu kan." Teriak seorang wanita paruh baya yang menyebutkan dirinya sebagai mommy.


"Gak cuma gamisnya yang bakal aku tunjukin sama Mommy Dina, sekalian desainernya aku kenalin." Sahut Erina antusias seraya merangkul Elvina menuju ruangan yang lain, diikuti Dina dan Deo.


"Mommy berapa lama di luar negeri, jadi lama gak mampir?"


"Hampir dua bulan Rin, biasa anak dan suami Mommy ini gak bisa ditinggal. Mommy harus ikut kemanapun mereka pergi. Padahal bosan tau di sana. Mereka sibuk kerja, Mommy jadi pajangan sendirian di apartemen." Curhat perempuan paruh baya itu.


Erina menanggapi dengan kekehan sembari menunjukkan gamis yang ingin dilihat Dina.


"Woww cantik banget." Dina berdecak kagum pada gamis yang dihiasi crystal Swarovski. "Ini rancangan terbaru kamu Rin?"


"Bukan Mom, aku cuma eksekusi aja yang desain dia." Erina menyengir pada Elvina yang sudah cemberut masam.


Jujur, Elvina juga takjub. Gambar yang dibuatnya asal itu bisa Erina ubah menjadi gamis yang begitu menakjubkan untuk dipandang mata.


"Jadi kamu yang desain?" Tanya Dina antusias, Elvina tak tau harus mengangguk atau menggeleng.


"Ini desain pertamanya, Mom." Jelas Erina, Dina merupakan saudara sepupu dari mama mertuanya. "Jadi gamis ini gak aku kasihkan buat siapapun." Lanjutnya dengan senyuman penuh arti.


"De, Mommy mau punya menantu yang seperti ini." Dina tidak lagi antusias pada gamisnya, berubah haluan pada Elvina yang berdiri di samping Erina.


Deo mengangkat sebelah alisnya lalu tertawa, "jadi Mommy ke sini mau beli gak nih atau cuma mau cari menantu?"


"Dua-duanya sih, gimana Rin menurutmu?"


"Setuju, biar gak kelamaan jomblo." Erina mengangkat jempolnya ke depan dengan semangat.