
Raga datang membawakan dua gelas susu cokelat hangat dan roti.
"Kalian isi perut dulu, baru istirahat." Katanya tanpa banyak bertanya, walau ditanya pun dua anak itu tidak akan tau juga siapa orang yang mengejar mereka.
Elvina dan Dela serempak mengambil minuman, lumayan untuk menghangatkan perut yang sedang meronta-ronta. Usai menandaskan segelas susu mereka masuk kamar masing-masing. Tinggal Raga dan Lingga yang ada di sana, Galuh juga memutuskan kembali ke kamar.
"Papa punya musuh bisnis ya?" Interogasi Raga, selama ini hidup keluarga mereka aman, damai dan tentram sentosa.
"Sejauh ini gak ada sih, dan kalaupun ada juga Papa gak tau siapa. Kecuali mereka terang-terangan mengaku sebagai musuh." Lingga mengusap dagu nampak sedang berpikir.
"Apa mereka mengikuti Nana." Gumam Raga, hanya itu kemungkinan yang paling besar.
Lingga mengendikkan bahu, "nanti besok kita selidiki. Sekarang kita istirahat dulu," ucapnya lalu beranjak ke kamar. Raga mengikuti, waktu istirahatnya sudah terganggu.
Paginya Elvina terpaksa bangun, matanya masih mengantuk dan badan lelah. Walau rasa malas menyerang, dia harus siap-siap untuk pulang. Padahal bisa pulang sendiri tanpa harus Ken jemput. Tapi suaminya itu bersikeras ingin liburan dulu.
"Kamu gak mau nginap satu malam lagi, kasihan Ken kalau harus pulang hari ini juga." Tutur Galuh saat mereka sudah selesai sarapan.
"Kami gak langsung pulang Tante, mau jalan-jalan dulu, tapi gak nginap di sini." Jelas Elvina tak enak hati, takut menyinggung perasaan perempuan paruh baya itu.
"Hm, mau mengulang kejadian di hotel? Nanti aku kasih resepnya." Raga ikut berkomentar dengan seringaian jahil.
Elvina membelalakkan mata, dasar dokter lucknut membuatnya malu saja.
"Kejadian apaan?" Dela tidak mau ketinggalan informasi. Gadis itu sangat antusias menyimak pembicaraan.
"Iya, iya, yang sudah besar tapi gak nikah-nikah." Dela balas mengejek sang kakak sambil tertawa.
"Jangan bahas-bahas nikah!" Raga berdecak. Topik sensitif itu tidak pantas dibawa ke meja makan. Cukup ditanyakan orang-orang saat dia datang ke kondangan. Itu sudah sangat menyedihkan.
"Kalian kapan akurnya sih?" Tegur Lingga gondok, kalau gak ibu dan anak, kakak dan adik yang berdebat setiap bertemu. Entah siapa yang harus disalahkan. Kalau yang satu diam, yang satu memulai percekcokan. Gitu aja terus sampai upin ipin dewasa.
"Kami akur kok Pah, iyakan Abang." Dela mengedipkan mata pada Raga yang duduk di sampingnya lalu bergelayut manja di tangan sang abang.
"Kapan berubah sih Del, malu loh sama Nana." Galuh menimpali ucapan suaminya.
"Ngapain malu Mah, aku udah biasa malu-maluin kok." Jawabnya dengan cengiran, sungguh anak tiada akhlak.
"Kalau dikasih tau orang tua itu diam, jangan menjawab terus. Kamu itu gak sedang ujian yang diwajibkan menjawab." Raga mencubit gemas hidung Dela. Gadis itu mendengus, mengusap-usapkan hidungnya di lengan Raga.
Elvina yang menyaksikan tingkah polah temannya itu terkekeh kecil. Ada saja kelakuannya yang membuat orang ketawa dan kesal dalam waktu bersamaan.
"Dah ah, jangan nempel terus, nanti Abang susah dapat cewek kalau kamu nempel gini." Raga meniru ucapan adiknya di pantai waktu itu, sambil melepaskan diri dari pelukan Dela.
"Abang itu gak nikah sampai sekarang bukan gara-gara aku ya. Abangnya aja yang kurang hoki," ujar Dela nyolot.
Lingga memijat pelipis lalu beranjak dari meja makan. Sampai besok subuh pun tidak akan ada akhirnya perdebatan itu.