
Raga duduk di balkon, lampu kamar sengaja dia matikan. Dela pasti akan mengganggunya kalau tau dia belum tidur. Lelaki itu tertarik pada Elvina sejak pertemuan pertama. Kini pikirannya terisi oleh nama gadis yang di hatinya tertaut pada orang lain.
Elvina tidak akan menemui ahli kejiawaan kalau dia sedang baik-baik saja. Raga masih belum menemukan inti dari masalah gadis itu, sebab Elvina belum mau banyak bicara.
"Pelet apa yang kau gunakan Nona, sehingga mampu mengacau jiwa, ahli kejiwaan ini." Raga tersenyum getir, untuk apa takdir mempertemukan mereka. Kalau hanya untuk membuat luka di hati Raga Arganda, seorang dokter spesialis kesehatan jiwa.
"Abang, buka pintunya atau aku dobrak. Aku tau abang belum tidur."
Raga menghela napas kasar, apa dia bilang. Adiknya itu tidak akan membiarkan hidupnya tenang sebelum menuntaskan penasarannya. Untung Raga sabar punya adik berisik seperti Dela ini.
"Apalagi ganggu Abang? Mau dipeluk, cium?"
Dela paling tidak suka abangnya menempel apalagi mencium. Katanya virus sakit jiwa bisa menular padanya. Justru karena itu Raga jadi lebih suka mengusili sang adik.
"Ih Abang, jangan dekat-dekat. Aku gak mau dipeluk apalagi dicium." Dela berdecak kesal, dia harus sabar-sabar menghadapi abangnya agar bisa mengorek informasi. Raga menghidupkan lampu kamar, gagal sudah mengelabui adiknya.
"Kalo gak mau Abang dekat-dekat, jangan masuk sini. Hust sana pergi." Usir Raga, Dela malah berguling di kasur sambil cemberut.
"Abang gak mau cerita sama Adel?" Raga ikut naik ke kasur, duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mau diceritain dongeng apa, Timun Mas, Malin Kundang apa Putri Tidur?"
Dela memutar bola mata jengah, "Adel serius Abang." Geramnya lalu duduk bersila di depan sang kakak.
"Abang juga serius." Raga mengacak rambut sang adik, berusaha menahan tawa melihat wajah menggemaskan Dela saat cemberut.
Jika ada perempuan yang Raga cintai selain Mama Galuh, maka Dela orangnya, sang adik kesayangan.
"Ceritain tentang Nana." Pinta Dela dengan raut memohon.
"Adel tau Abang dokter, harus professional. Gak boleh ceritain tentang pasien sembarangan walaupun sama keluarga sendiri." Raga menjelaskan pelan agar adiknya bisa mengerti.
"Abang suka Nana. Adel tau itu, tatapan Abang gak bisa bohong."
"Coba tatap Abang, bisa bikin Adel terhipnotis gak?" Raga menanggapinya dengan candaan.
"Adel gak mau Abang kecewa karena berharap sama Nana."
Dela menggeleng pelan. "Abang pura-pura gak ngerti sama ucapan aku. Gak ada yang boleh ngambil alih predikat pura-pura oon selain aku."
"Abang harus apa biar Adel percaya?"
"Coba Abang hilangin pikiran tentang Nana di sini." Dela mengusap lembut puncak kepala sang kakak. Raga terdiam sejenak mencari cara agar adiknya percaya.
"Adel tau apa sama isi kepala Abang?" Katanya sambil menunjuk kepala dengan jari. Raga tau adiknya sangat cerdas dan peka. Hanya saja selalu bertingkah sok polos di depan orang lain.
"Coba Abang pejamkan mata dan jujur sama Adel apa yang saat ini yang sedang Abang pikirkan."
"Pekerjaan."
"Apa Abang anggap pembicaraan di rooftop itu sebagai pekerjaan? Jawab cepat." Ujar Dela seraya tersenyum miring.
"Tentu saja."
"Apa Abang memikirirkan pasien?" Dela mempercepat tempo pertanyaan, agar sang abang tidak sempat memikirkan jawabannya.
"Jelas, karena mereka perlu Abang."
"Apa ada pasien yang sudah berhasil memikat hati Abang?"
"Ada."
"Siapa orangnya?" Raga terdiam, sadar sedang dikerjai sang adik. Dia membuka mata.
"Curang, tadi Abang cuma disuruh jujur dengan apa yang ada dipikiran. Kenapa Adel jadi nanya-nanya sih." Ujarnya kesal, Dela tertawa geli.
"Abang gak bisa bohong lagi sama Adel sekarang." Raga memeluk adiknya dan menggelitiki di perut sampai Dela menjerit minta ampun.
"Jangan macam-macam sama Abang, anak kecil!" Desis Raga lalu melepaskan adiknya setelah puas membuat sang adik memohon ampun.
"Ih, Abang bikin aku pipis di celana." Ujarnya ngacir dari kamar Raga. Lelaki itu hanya tersenyum geli melihat tingkah sang adik yang sangat tidak ada manis-manisnya.