EL & KEN

EL & KEN
191



"Kamu ngajak Ken jalan-jalan, hah!" Geram Attisya.


Baru Elvina melangkahkan kaki melewati pintu Attisya sudah menyerangnya. Padahal Ken masih memarkirkan mobil, dia tidak berbarengan dengan suaminya itu masuk. Ibu hamil ini sangat peka.


"Kak Sya," Elvina berusaha menghindari istri Adnan yang memukul dan menarik-narik jilbabnya. Dia tidak melawan, mengingat perempuan itu sedang hamil muda.


"El," Ken melerai Attisya yang memukuli istrinya dengan brutal. Lalu membawa Elvina dalam pelukan, "kamu gak papa, Sayang?" Tanyanya sambil merapikan pakaian sang istri.


"Aku gak papa, Bang."


"Lepasin Ken, jangan di peluk!" Teriak Attisya nyaring, perempuan itu masih mencari celah untuk memukul Elvina.


"Kak Sya, jangan pukul istriku!" Tidak sengaja Ken membentak itu hamil itu.


"Kamu bela dia, hah!" Teriak Attisya histeris sambil menangis. Ken menatap istrinya dengan raut bingung, dia yang salah lagi.


Adnan mendatangi istrinya yang berteriak-teriak di susul Ulfa dan Nazar. Erfan yang ada di rumah itu juga ikut keluar, menggaruk kepala bingung. Dua perempuan itu bertengkar lagi.


"Sya!" Adnan langsung memeluk istrinya, "kamu kenapa, Sayang? Ken itu suami Nana, wajar kalau dia berpelukan."


"Aku gak suka, gak suka!"


Nazar mengkode Ken untuk membawa Elvina masuk ke kamar.


"Sya, gak suka kenapa?" Nazar mengelus puncak kepala menantunya dengan sayang.


"Aku gak suka semua orang sayang sama dia," ujar Attisya. Tangisnya semakin kencang, ibu hamil itu mengalami perubahan drastis.


"Kami semua juga sayang sama kamu, Sya." Adnan berucap lembut sembari menyeka air mata di pipi Attisya.


"Enggak, kalian cuma sayang sama Nana!" Pekiknya nyaring, Adnan menggendong Attisya membawanya duduk di sofa. Ulfa mengambilkan air putih lalu duduk di samping menantunya sambil memijat tangan ibu hamil itu.


"Kita semua sayang sama kamu, Sya." Ujar Adnan menenangkan Attisya.


Sedang Ken mengurus Elvina di kamarnya. Untung sekarang Elvina tidak mudah tantrum lagi. Kalau dua-duanya tantrum. Apakabar rumah ini.


Elvina menggeleng, "Kak Sya mukulnya gak kuat kok." Jawabnya sambil tertawa kecil, kakak iparnya itu lucu-lucu mengesalkan.


"Jangan dekat-dekat Kak Sya dulu ya Sayang. Abang khawatir dia melukai kamu."


"Iya, Abang."


"Makasih istri Abang yang hebat sudah mau mengalah," puji Ken.


Dia belajar membiasakan untuk memberikan pujian setelah Elvina selesai melakukan sesuatu. Agar istrinya itu merasa dihargai dan kepercayaan dirinya meningkat. Hal kecil yang bisa membantu Elvina lebih cepat pulih.


Erfan mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendapatkan izin. Lelaki itu membawakan segelas air putih untuk Elvina.


"Minum dulu," ujarnya. Istri Ken itu mengambil gelas di tangan Erfan lalu meminumnya sampai setengah. Dia haus setelah panas-panasan langsung menghadapi Attisya.


"Aku mau mandi dulu," ujar Elvina usai minum. Tubuhnya lengket karena keringat, Ken mengangguk.


"Lo harus pisahin mereka, kasihan Nana. Dia masih dalam tahap pemulihan." Erfan berujar setelah Elvina menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Nanti gue mau bawa El ke Kairo."


Erfan mengangguk setuju, "untuk sementara kalian tinggal di apartemen gue aja. Biar gue yang di sini," usulnya.


"Mana dibolehin sama Abi, Fan. Kalau boleh, gue sudah bawa El pindah." Ken menghela napas panjang. "Gimana Kak Sya?"


"Masih ngamuk, lo lihat dulu sana. Itu bayi demen amat sama lo." Ujar Erfan terkekeh sambil menarik tangan Ken menuju ruang tamu.


Istri Adnan itu masih menangis sesenggukan karena kesal semua orang membela Elvina.


"Kak Sya kenapa nangis?" Tanya Ken lembut duduk di samping perempuan itu.


"Semua orang cuma sayang sama Nana," adunya lirih masih sesenggukan.


Dari sudut ruangan Erfan mengerti kenapa Attisya bertingkah seperti itu. Beberapa bulan ini semua orang hanya terfokus pada kesembuhan Elvina sampai lupa kalau di rumah ini ada ibu hamil yang sangat sensitif.