
Elvina tidak ingin pulang dan berangkat sendiri lagi. Dia menunggu Erfan menjemput karena Ken masih meeting dengan klien.
"Ada apa, tumben minta jemput gak mau pulang sendiri lagi?" Tanya Erfan heran setelah Elvina masuk mobil.
"Pagi tadi ada orang gila, aku takut pulang sendiri." Jawab Elvina asal, padahal dia takut dengan ucapan Deo yang hampir menyerupai ancaman.
"Kamu gak diapa-apain kan?"
"Enggak, mukanya khawatir banget gitu. Aku masih sehat nih." Ucap Elvina sambil terkekeh.
"Hati-hati Na, aku gak mau kamu kenapa-kenapa lagi," kata Erfan dengan serius.
"Kamu bisa bahagia tanpa harus menjagaku seperti ini Fan, sudah ada Ken yang bersamaku. Jangan sakiti hatimu begini." Ujar Elvina tak kalah serius.
Erfan hanya menanggapinya dengan deheman.
"Mau mampir dulu apa langsung pulang?" Katanya mengalihkan pembicaraan, bagaimana dia bisa bahagia. Sedang bahagianya adalah gadis di sampingnya ini.
"Mau ke taman, boleh?"
"Boleh, izin dulu sama Ken."
"Siyap bos." Elvina mengangkat tangan tanda hormat lalu menghubungi sang suami. Setelah mendapatkan persetujuan Erfan melajukan mobil menuju taman. Tanpa mereka sadari ada yang mengikuti sejak dari butik.
Ken menyambut istrinya yang baru saja pulang, dia juga baru beberapa menit sampai di rumah. "Ngapain aja di taman, hm?"
"Lihat anak-anak main bola," jawabnya dengan tersenyum cerah.
"Sekarang mandi duluan ya." Ucap Ken lalu mengecup kening sang istri.
"Ada apa?" Tanya Ken pada Erfan setelah istrinya masuk kamar. Tumben-tumbenan sahabatnya itu mengajaknya bicara serius.
"Apa Deo yang penasaran sama El." Ken menduga-duga, tidak ada yang tau kalau Elvina ada di butik. Kecuali Deo orang yang sempat disebutkan Erina kemaren.
"Deo?" Beo Erfan dan Adnan bersamaan.
"Mungkin, El bilang Deo kemaren menggodanya. Tadi dia juga minta dijemput karena takut pulang sendiri."
"Kalian berhati-hati aja, kamu tanya Nana pelan-pelan. Jangan buat dia ketakutan." Saran Adnan, Ken mengangguk. Dia menyusul Elvina ke kamar.
"Sudah selesai mandi, Sayang." Ken memeluk Elvina dari belakang, menghidu aroma sabun yang menyeruak di tubuh sang istri. "Mau cerita apa yang terjadi hari ini. Apa yang bikin kamu takut pulang sendiri."
Elvina memutar tubuhnya memeluk Ken dengan erat. "Kalau aku jujur, Abang jangan marah ya."
"Iya, Abang gak akan marah." Ken meyakinkan Elvina, membawa istrinya duduk di sisi tempat tidur.
"Deo bilang, dia tidak akan menyerah dan akan membuatku berpaling darimu."
"Kamu bilang kalau sudah punya suami?"
"Iya, makanya dia ngomong gitu. Aku takut." Elvina melingkarkan kedua tanganya di pinggang Ken.
Ken tersenyum, mengecup puncak kepala Elvina dengan penuh kasih sayang. "Apa yang membuat kamu takut, Sayang. Dia tidak akan bisa menggantikan aku di hati kamu bukan."
"Aku takut dia menyakitimu." Lirih Elvina dalam pelukan Ken.
"Jangan khawatirkan aku, cukup pastikan hatimu itu selalu untukku, El." Bukan dirinya yang harus dikhawatirkan. Ken malah harus waspada Deo merebut paksa Elvina darinya.
"Deo itu orangnya keras kalau sudah terobsesi maka harus mendapatkan." Kalimat yang diucapkan Erina itu terngiang di kepalanya.
Elvina menjauhkan kepalanya dari tubuh Ken, menatap sang suami dengan penuh cinta. Tangannya membelai lembut rahang tegas milik suaminya. "Hati aku sudah milik Abang, tidak akan berpaling pada siapapun."