EL & KEN

EL & KEN
73



"Gak perlu nyindir gitu juga kali Fan."


"Eh ada yang kesindir," ujar Erfan usil.


"Boleh gabung?" Ucap seseorang yang mengambil posisi di samping Elvina.


"Izin sama yang punya hajatan." Jawab Elvina acuh.


"Galak banget sih, kalau galak gitu aku jadi makin sayang." Goda Ken genit, Elvina melengos. Hatinya masih sakit melihat wajah Ken. Derita cinta tak sampai ke pelaminan.


"Kalian di sini Ken, Erfan." Aish menyapa dua lelaki itu tanpa mempedulikan adik sepupunya yang juga ada di sana.


"Aish, kamu juga di sini." Sapa Erfan ramah, sudah lama dia tidak bertemu Aish dan Abi Zayid, pemilik pesantren tempatnya mondok dulu. Walau hanya satu tahun berada di pesantren itu, tapi begitu banyak kenangan yang Erfan dapatkan. Bertemu teman dan keluarga yang begitu baik dengannya.


Dari sana juga Erfan mengenal Ken dan Adnan juga Abi Nazar. Dia tidak menyelesaikan pendidikannya di pesantren memilih melanjutkan ke SMA.


"Iya Fan, mau ketemu Abi? Aku antar ke sana." Tawar Aish. Tentu saja Erfan mengiyakan, kesempatan ini tidak bisa di sia-siakan.


"Ayo, aku sudah lama gak ketemu Abi." Sahut Erfan antusias, "ayo Ken." Lelaki itu menarik sahabatnya mengikuti Aish. Melupakan Elvina yang sedari tadi mengamati mereka.


"El, kutinggal bentar ya." Pamit Ken, gadis itu hanya mengangguk malas.


Lihatlah, dia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kakak sepupunya yang sempurna. Elvina tersenyum getir melihat kepergian tiga orang itu. Ingin bersikap biasa saja, tapi dadanya sudah terasa sesak.


Ditambah hubungan Ken dan Erfan yang dekat dengan sang paman. Dunia ternyata sesempit ini, kenapa Elvina merasa terabaikan. Dia kan memang bukan siapa-siapa para lelaki itu. Kenapa juga harus ada rasa cemburu ketika orang-orang terdekat malah memilih pergi bersama Aish, sang sepupu.


Elvina meninggalkan hotel lebih dulu setelah mengucapkan selamat pada mempelai. Dia akan kembali ke rencana awal. Pergi dari tempat ini untuk menyembuhkan luka. Elvina ingin menghindari Ken, melihat lelaki itu membuat hatinya semakin tercabik-cabik.


Sesampainya di rumah Elvina bergegas mengambil barang-barang sebelum mama pulang. Dia meninggalkan sepucuk surat agar mama tidak cemas mencarinya. Gadis itu berangkat ke Bandara di antar supir taksi.


Di ballroom hotel bintang lima yang disulap menjadi pelaminan itu Ken kehilangan seseorang yang sudah bertahun-tahun ini mengisi relung hatinya.


"Abi, Ummi lihat El, gak? Tadi aku tinggal bentar sama Erfan." Tanya Ken, dia belum sempat foto bareng, gadisnya sudah menghilang.


"Tadi dia di depan panggung." Jawab Kila, ibu kandung Elvina masih ikut bergabung di sana.


"Gak ada Ma, aku habis dari depan." Ujar Ken berusaha tetap tenang.


"Mungkin pulang duluan Ken, biarin dia istirahat dulu. Kamu kasih Nana waktu untuk menenangkan diri." Saran Ulfa, Ken menyetujuinya dengan anggukan. Dia tidak bisa menyusul sekarang, masih banyak tamu yang berdatangan. Rencana bikin foto prawedding gratisan gagal. Calon mempelainya menghilang lagi.


Ken kembali menyambut para tamu. Selesai acara ini dia akan langsung menyusul Elvina kerumah.


Selain untuk melepas rindu, Ken juga ingin menjelaskan kenapa tadi meninggalkan Elvina sendirian. Mungkin penjelasannya tidak penting bagi gadis itu. Tapi dia ingin terbuka tentang apapun itu pada gadis pilihannya.


Ken jadi tidak bersemangat berada di tempat seramai ini, waktu berjalan sangat lambat. Bukannya berkurang, semakin sore tamu semakin banyak datang. Membuat Ken semakin lelah.