
"Ken, cobalah jangan terlalu keras padanya. Semua yang dia lakukan seolah selalu salah di matamu." Adnan menatap tajam adiknya, entah apa yang dipikirkan adiknya itu.
"Kak aku tak sanggup melihat senyumannya. Itulah sebabnya aku bersikap terus begini." Ujar Ken
"Kamu terlalu cinta dengannya Ken." Ya, dia memang terlalu cinta. Bertahun-tahun memendam perasaan ini. Bertahun-tahun memendam rindu dari jauh.
"Tolong aku kak."
"Berhenti bersikap keras padanya." Tegas Adnan, dia sampai pusing mengurus adiknya sendiri.
"Kalau aku khilaf bagaimana?"
"Akan bebak belur kau jika menyentuhnya Ken." Ucap Adnan serius.
"Biarkan aku begini dulu ya." Mohon Ken lagi, dia terlalu lemah berhadapan dengan Elvina.
"Terserahmu, aku tak tanggung jawab kalau dia diambil orang."
"Kakaak. Kamu jahat!"
Adnan tak peduli. Meninggalkan Ken yang masih berdiri lemas di kantin.
Rindu ini terlalu menggebu-gebu El. Tidak mampu menahan senyumanmu itu. Hati ini terlalu lemah, sehingga menjadi buta. Buta karena kerinduan. Inikah jalan pertemuan yang kutunggu bertahun-tahun.
Ken kembali ke kantor namun tidak menemukan Elvina di ruangannya. Sungguh dia dibuat gila oleh gadis itu.
"Sabil, Elvina mana?"
"Pulang pak."
"Astaghfirullah perempuan itu seenaknya saja." Ken mendesah berat.
"Mama, lelaki itu selalu menyakiti hatiku. Kata-katanya sangat kasar." Elvina yang baru pulang langsung mencari Kila ke dapur, menangis dipelukan sang mama.
"Ma, tolong bilang sama paman, ijinkan aku berhenti. Aku sudah tidak tahan lagi disana." Lirih Elvina, jiwanya benar-benar tersiksa.
"Iya Sayang, nanti Mama temui pamanmu. Sekarang kamu istirahat saja dulu ya di kamar." Bujuk Kila pada putri kesayangannya. Pasti berantem lagi, dia tidak tau harus bagaimana menanggapinya.
...*** ...
"Ken, Adnan, Sabil setelah selesai meeting langsung keruangan saya. Nana juga yaa." Hari ini Nazar ikut meeting setelah kembali dari luar kota.
Setelah selesai meeting mereka berkumpul di ruangan Direktur Utama PT. Aydan Jaya Abadi (AJA).
PT. Aydan Jaya Abadi merupakan perusahaan kontraktor terbesar dan terbaik di Indonesia yang sudah dikenal mengerjakan berbagai proyek.
"Silahkan duduk, jangan tegang. Bagaimana suasana kantor selama dua minggu ini Adnan?" Seolah Nazar sudah tau apa yang terjadi.
"Seperti biasa Pak, tidak ada perubahan," Adnan melirik ke arah Ken dan Elvina yang duduk dihadapannya.
"Banyak keributan yang terjadi?" Nazar tersenyum pada Elvina dan Ken.
"Nana, kamu saya tugaskan mengawasi proyek kita di Medan." Ujar Nazar, "kamu akan ditemani Sabil. Saya sudah siapkan segala keperluan kalian selama di sana."
"Ken dan Adnan, akan mewakili saya di PT. AJA Medan. Kamu Adnan, pastikan agar Ken dan Nana tidak bertengkar setiap hari. Itu sangat memalukan."
"Tiga bulan di Medan bersama perempuan ini, sangat menyedihkan. Biar Adnan saja yang mewakiliku. Aku tidak mau ikut." Ken yang sedari tadi mengawasi Elvina, melihat perempuan itu terus diam dan menunduk.
"Tidak bisa Ken, kamu harus belajar di kantor cabang juga, tidak hanya di pusat. Ini perintah, bukan permintaan." Tegas Nazar, membuat Ken menciut.
Kenapa jadi seperti ini, bukankah dia memohon pada mama untuk berhenti dari sini dan sekarang malah dapat tugas baru. Ya Allah lindungi dia dari laki-laki yang kejam ini. Papa, bantu Nana keluar dari masalah ini. Elvina menghela napas berat, jelas dia terjebak sekarang.