
"Lo jual mahal sama gue tapi malah bergonta-ganti pasangan. Hebaaatt!" Deo bertepuk tangan di depan Elvina, dia geram melihat perempuan yang sok cuek padanya tapi malah jalan dengan laki-laki yang berganti-ganti.
Elvina menanggapi dengan senyuman miring. Dia sedang menunggu Adnan di parkiran rumah makan. Entah dimanapun dia berada pasti Deo selalu muncul di hadapannya.
Selama beberapa minggu ini Ken menjaganya sangat ketat. Jadi dia bisa selamat dari makhluk satu ini. Hari ini Adnan yang menjemputnya sekalian membelikan pesanan Attisya karena satu arah.
"Mending tutup kepala lo ini di buang aja. Gak pantas buat pela*cur." Laki-laki itu menarik pashmina Elvina. Elvina menahannya agar tidak terlepas. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Bugh, kakinya menendang aset berharga milik Deo.
"Berani lo nendang gue hah!" Bentak Deo sambil meringis kesakitan, lalu berdiri kembali.
"Kenapa gue harus takut sama laki-laki bajingan kayak lo." Desis Elvina dengan senyuman mengejek.
Plak
Geram, Deo menampar keras perempuan di depannya lalu memojokkan ke samping mobil. "Murahan-murahan aja, jangan sok jual mahal dan sok suci."
"Lo secemburu itu sama laki-laki yang gue bawa." Elvina masih tetap tersenyum walau pipinya terasa panas.
"Emang sememuaskan apa sih mereka. Gue juga bisa muasian lo lebih dari mereka." Deo menyeringai mengendus-endus pipi Elvina.
Bugh
Sekali lagi Elvina menendang aset milik Deo.
"Lo gak akan bisa muasin gue, sehebat mereka muasin gue." Sarkas Elvina lalu berlari mencari Adnan.
Untung dia pakai flat shoes bisa kabur cepat. Kenapa juga mulutnya bisa mengeluarkan kata-kata begitu. Elvina jadi bergidik sendiri.
"Nana!" Teriak Adnan melihat adik iparnya yang berlari dengan pakaian berantakan.
"Kakak," Elvina langsung bergelayut di tangan Adnan.
"Siapa yang nampar kamu, Na?" Adnan membersihkan sudut bibir Elvina yang sobek dengan sapu tangan, sedikit berdarah.
"Deo Kak, dia tadi di parkiran," adu Elvina.
Adnan berdecak, dia tidak suka ada yang menyakiti adik tersayangnya ini. "Kamu juga, aku suruh ikut ngeyel terus mau nunggu di parkiran."
Deo masih berdiri di sana meringis menahan sakit, karena asetnya kena tendang dua kali.
"Kamu apain dia Na?" Adnan menatap penuh selidik pada adik iparnya.
"Aku cuma nendang burungnya dua kali," kata Elvina cengengesan sambil mengangkat dua jarinya.
"Hati-hati, tenaga perempuan tetap kalah kuat sama laki-laki. Apalagi kalau mereka main licik, lebih baik kamu menghindar kalau bertemu dengannya lagi." Adnan menepuk kepala Elvina dengan sayang saat berada di depan Deo.
"Pipinya sakit Sayang?" Tanya Adnan dengan suara keras agar bisa di dengar Deo.
"Sakit banget," cicit Elvina manja sambil begelayut di tangan Adnan.
"Eh, Mas jangan mau sama perempuan munafik ini, dia sudah punya suami." Deo tersenyum miring pada Elvina, mendekati dua orang yang sedang bermesraan itu.
"Yang benar Mas, pacarnya cuma saya loh gak ada yang lain lagi. Mas salah orang kali." Adnan menatap kaget Deo.
"Apa yang saya katakan benar, bahkan dia suka berganti-ganti pasangan." Deo meyakinkan dengan semangat.
Lelaki itu menatap tajam Elvina. "Jadi kamu bohongin aku Na. Kamu anggap apa aku selama ini, hah?" Tanya Adnan dengan nada ketus.
"Maaf," cicit Elvina, menundukkan kepala takut.
"Maaf, maaf. Emang dengan maaf bisa memperbaiki semuanya. Semua yang kamu mau sudah aku turuti. Uang, rumah, mobil, kamu mau apalagi, hah. Jadi sampai sama laki-laki lain?"
Elvina hanya menunduk takut, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Makanya jadi perempuan jangan sok suci, malu sama penutup kepala."
Adnan ingin sekali menampar mulut Deo yang bicara sembarangan di depannya ini.
"Kamu harus dihukum karena sudah bohongi aku." Adnan menarik tangan Elvina masuk dalam mobil dengan kasar.
Deo tersenyum penuh kemenangan, dia akan menghancurkan mental perempuan itu terlebih dahulu.
"Uh kasihan banget dikibulin." Elvina tertawa gelak saat sudah berada dalam mobil. Lalu tiba-tiba berhenti karena mulutnya terasa sakit. Adnan geleng-geleng kepala melihat tingkah Elvina yang seolah sangat bahagia.