
Sudah cukup tiga hari Elvina mendekam dalam hotel. Sekarang saatnya dia keluar dari persembunyian. Di sini dia sekarang, di rumah Dela, teman kuliahnya dulu.
"Jadi juga lo datang." Dela memeluk teman lamanya, "lo tinggal di sini aja gak masalah. Masih banyak kamar, gak perlu nyari kost-kost'an." Ujarnya membantu membawa koper Elvina masuk.
"Thanks udah nerima gue, beneran kan perusahaan papa lo lagi nyari arsitek?"
"Iya bener, lo takut banget gue kibulin." Dela mendelik sebal pada teman lamanya ini.
"Ya gak gitu, gue gak mau aja kalo lo nolong gue cuma karena kasihan."
"Apaan sih, ayo gue antar ke kamar, baru ketemu mama papa gue." Dela membawa temannya ke kamar tamu, meletakkan koper di sana baru dia menyeret Elvina ke ruang keluarga.
"Mah, Pah, Adel bawa Nana." Elvina sampai meringis dengan kebrutalan gadis bernama Dela itu.
"Eh, itu kenapa temannya diseret-seret. Sakit tau!" Galuh, mama Dela melepaskan tangan putrinya yang masih mencengkram tangan Elvina. Gadis itu hanya nyengir kuda, "maaf," cicitnya tanpa rasa bersalah.
"Duduk Na," ujar Lingga, papa Dela, "itu anak emang bar-bar Na, jangan heran." Lanjutnya sambil terkekeh.
"Bisa saya maklumi Om." Sahut Elvina yang mendapat pelototan dari Dela.
"Ih, Papa kenapa jadi jelekin anak sendiri sih!" Kesal Dela.
"Gak ada sejarahnya jelekin yang sudah jelek." Timpal sang mama, Dela hanya bisa beristighfar dalam hati atas penganiayaan orang tuanya.
"Kapan kamu siap bekerja Na, Om sudah gak sabar nunggu kamu, sejak Dela bilang kamu mau ke Jogja." Ujar Lingga antusial meletakkan laptop yang sedari tadi dipangkunya ke atas meja.
"Kalau lusa bisa Om, besok saya sudah ada janji." Jawab Elvina dengan tersenyum, dia sudah membuat jadwal bertemu psikiater besok. Elvina memang pernah bertemu orang tua Dela beberapa kali waktu kuliah dulu. Saat mereka mengunjungi Dela di apartemen. Jadi sudah tidak terlalu canggung lagi.
"Bisa, kapanpun kamu siap bergabung." Ujar Lingga dengan tersenyum.
"Mama baik Tante, kalau papa sudah meninggal tiga tahun yang lalu." Jawab Elvina berusaha tersenyum. Kadang dia belum kuat kalau mengingat kepergian sang papa.
"Maaf, Tante gak tau, gak bermaksud bikin kamu sedih." Ucap Galuh, melihat gadis di depannya berubah sendu.
"Gak papa Tante, kadang keingat aja jadi sedih." Elvina tetap menyunggingkan senyumannya.
"Bawa Nana jalan-jalan keliling Jogja Del." Saran Lingga.
"Siyaap Pah, kami emang mau jalan." Jawab Dela dengan senyuman khas nyengir kudanya.
"Jangan pulang kemaleman." Pesan sang papa lagi.
"Siyap bos, izin pamit. Adel pake mobil abang ya Pah." Ucapnya sambil berbisik seolah sang abang akan mendengar.
"Mobilmu kan ada. Nanti berantem lagi gara-gara mobil, sama abangmu." Sahut Galuh lebih dulu. Putri bungsunya itu memang suka memancing keributan.
"Mobil abang lebih nyaman Mah, wanginya enak." Alibi Dela.
"Kamu males ke SPBU aja tuh, makanya ngerecokin mobil abangmu." Tembak sang papa, Dela sudah tak bisa berkilah lagi.
"Papa tau aja, Adel malas tau pah ke sana. Masa setiap kali ke sana petugasnya bilang, dimulai dari nol ya kak. Kapan pintarnya coba kalau disuruh dari nol terus, gak naik-naik peringkat."
"Dah, terserah kamu aja. Papa pusing dengerin ocehanmu Del. Semoga Nana bisa tabah berteman sama kamu." Pasrah sang papa, Galuh hanya ikut menggelengkan kepala. "Kalau sudah menyerah lambaikan tangan ke kamera, Na." Pesannya pada teman dang putri.
"Siyap Tante, Nana angkat telapak tangan dan kaki nanti kalo menyerah. Semoga kuping Nana gak perlu dibawa ke dokter THT nih." Ujar Elvina dramatis semakin membuat Dela kesal, orang tua Dela terkekeh membenarkan.
Perasaan dulu Elvina tidak seperti itu. Kenapa setelah bertemu orang tuanya jadi ikut pedas gitu omongannya.