EL & KEN

EL & KEN
172



"Assalamualaikum," pintu kamar Ken diketuk. Terdengar suara perempuan paruh baya dari luar. Elvina menatap Ken tidak suka.


"Kamu minta Mama datang ke sini?" Tanya Elvina, sangat kenal suara itu. Dia tidak ingin Kila tau keadaannya sekarang. Tidak mau sang mana bersedih.


"Enggak El, kamu mau ketemu?" Elvina cepat menggeleng, "kamu tunggu di sini ya. Aku temui Mama dulu."


"Makasih Ken," ucap Elvina.


Ken tersenyum, lalu mengecup puncak kepala Elvina. "Apapun buat kamu, Sayang. Kalau ngantuk istirahat ya."


"Iya," sahutnya diikuti anggukan.


Di depan pintu kamar ibu mertuanya sudah berdiri di sana. Ken menyalami kemudian mengajak berbincang ke ruang keluarga. Di sana juga ada Zayid dan Aish. Mereka langsung ke rumah Nazar setelah melihat video fitnah yang tersebar itu.


"Maaf Ma, El belum mau bertemu siapapun." Ucap Ken tidak enak pada sang mertua. Kenyamanan Elvina sekarang yang terpenting untuknya.


"Apa karena kami ikut?" Tanya Zayid, Ken menggeleng. "Enggak Bi, El gak mau bertemu siapapun sejak pagi tadi. Kecuali aku," jelasnya.


Zayid menghela napas berat, tidak bisakah dia menjadi orang tua pengganti yang baik untuk keponakannya itu. Pria paruh baya itu memaksakan diri untuk menjenguk Elvina, walau kondisinya sedang tidak fit.


Kila hanya terdiam, hari-hari berat selama ini rupanya belum cukup untuk putrinya terima. Tidak dapat disembunyikan raut sedih dari wajah itu.


"Mama sabar ya, nanti aku bujuk El kalau dia sudah lebih baik." Tutur Ken, lalu membawa ibu mertuanya dalam dekapan.


"Jangan dipaksa Ken, Mama gak papa. Nana baik-baik aja sama kamu, Mama sudah senang." Ujar Kila sendu, dia yakin di samping Ken putrinya tidak akan melakukan tindakan nekat lagi.


"El pasti baik-baik aja Ma, aku akan selalu menemaninya. Mama jangan khawatirkan itu."


"Dia tanggung jawab aku Ma, aku pasti akan berusaha untuk membahagiakannya. Seluruh hidupku akan aku abdikan untuk membahagiakan El."


Apapun akan Ken lalui asal bisa membuat Elvina bahagia. Tidak peduli nyawanya sekalipun yang harus dipertaruhkan.


"Mari minum," Ulfa datang membawakan minuman dan cemilan dibantu art. Perempuan paruh baya itu duduk di samping Nazar.


"InsyaAllah kami akan mengusahakan yang terbaik buat Nana, kalian tidak perlu risau." Ungkap Nazar pada besannya.


Obrolan hangat mengalir di sana, karena terlalu lama meinggalkan Elvina. Ken izin pamit ke kamar. Dia harus mengawasi Elvina jangan sampai hal tidak diinginkan terjadi.


Elvina meringkuk di atas ranjang, istri Ken itu tidak tidur, tidak juga menangis. Namun tatapan matanya kosong. Ken berbaring di samping sang istri.


"Mikirin apaan, Sayang?" Tanya Ken lembut, sambil mengusap kepala Elvina.


"Dosa aku banyak banget ya, karena banyak orang yang lihat aurat aku," lirih Elvina.


"Itu bukan keinginan kamu kan, Sayang. Allah pasti maafin." Tangan Ken beralih mengusap pipi Elvina, "yang disengaja aja Allah masih mau mengampuni asalkan bertaubat. Allah tau siapa yang membuat kamu begini, El."


"Aku ngerasa kotor banget, Ken."


"Kamu gak kotor, Sayang." Ken menyambar bibir Elvina agar berhenti berpikir yang aneh. Perempuan itu tidak memberikan balasan pada ciuman Ken.


"Ken, aku gak bisa sekarang." Elvina menjauhkan wajahnya dari Ken.


"Gak papa, Sayang." Ujar Ken lalu tersenyum. Cara terakhir sudah dia gunakan, Elvina masih menghindarinya. Lelaki itu menghela napas pelan. Lalu memejamkan mata, dia ingin istirahat sebentar saja untuk menenangkan diri.