EL & KEN

EL & KEN
75



"Argh!" Lagi-lagi Erfan mendesah berat, sesak memenuhi rongga dadanya. Sebesar itu beban yang harus ditanggung gadisnya.


"Lo juga baru tau?" Lelaki itu melirik Ken yang terdiam, sama seperti dirinya rivalnya itu pasti juga merasakan luka yang sama.


Ken mengangguk lemah, rahangnya terasa sakit dan sudut bibirnya berdarah.


Kila meninggalkan dua pemuda itu setelah selesai mengobati Ken.


"Kalian berantem?" Tanya Adnan dengan senyuman mengejek. Sejak semalam dia ingin memastikan Elvina, tapi status yang baru dia sandang membuatnya harus bersabar menunggu pagi.


"Erfan yang nyerang aku Kak." Adu Ken, langsung memeluk Adnan yang duduk di sampingnya. "El pergi Kak, dia beneran pergi." Ucapnya dengan suara lirih yang penuh dengan luka.


Adnan seperti melihat Ken kecil kalau adiknya sudah bersikap seperti ini. Lelaki itu diam mengusap rambut sang adik.


"Beri Nana waktu untuk mengobati hatinya Ken. Dia aman kalau tidak berada di kota ini, Azmi dan Fany tidak akan mungkin mengejarnya."


Erfan mengernyit mendengar kalimat ambigu yang Adnan ucapkan. Azmi dan Fany, dia tidak mungkin salah orang kalau dua nama itu disandingkan.


"Tolong jelaskan maksud Azmi dan Fany yang mengejar Nana!" Desak Erfan, dia seperti orang bodoh berada di sini sekarang.


"Fany orang yang berada dibalik Azmi. Dia sengaja ingin menyakiti Nana." Jelas Adnan singkat.


"Itu tidak mungkin Nan, Fany tidak mungkin melakukan itu. Mereka bersahabat." Erfan sangat tau Fany. Dari Fany dia bisa mengenal Elvina, walau gadis itu tidak tau. Saat Elvina kelas satu SMA, dia sudah kelas tiga. Erfan mendekatinya tanpa perantara sang adik.


Pertemuan pertama dengan gadis itu membuat  jatuh cinta. Walau setiap bertemu Elvina, gadis cantik itu selalu bercerita dengan riang tentang orang yang memberikan boneka beruang kesayangannya. Orang itu ternyata sahabatnya sendiri, menjadi saingan Ken tidaklah mudah, karena lelaki itu terlalu bertahta di hati Elvina.


"Kami kakak beradik dan Azmi sepupuku. Kalau benar mereka orang yang sama." Ujar Erfan lalu menunjukkan foto dari ponsel canggih keluaran terbaru miliknya. "Apa ini orangnya?" Adnan dan Ken membulatkan mata tidak percaya. Orang yang ada dalam foto keluarga itu memang orang yang Adnan maksud.


"Gue harus bikin perhitungan sama mereka." Lanjut Erfan setelah melihat ekspresi Adnan yang sangat yakin mereka orang yang sama.


"Itu wajib." Adnan menunjukkan bukti yang dimilikinya, "ini akan membantu lo meringkus mereka. Berberapa waktu ini polisi belum berhasil menemukan keberadaannya." Lelaki itu memutar video dari ponselnya.


"Nana!"


"El!"


Pekik Erfan dan Ken diwaktu yang bersamaan. Mereka terkesiap menyaksikan video Elvina hampir ditabrak oleh Fany. Jelas ini bukan kecelakaan, tapi sudah direncanakan.


Erfan menggeram, dia tidak akan memberi ampun pada dua orang itu.


"Kejadian ini sebulan yang lalu, beberapa hari kemudian Azmi menghancurkan Nana." Jelas Adnan, Ken pun baru tau kronologinya seperti itu. Dia tidak kalah kaget dengan Erfan. Mereka seperti orang bego, selama ini dekat dengan gadis itu tapi tidak tau apa-apa.


"Bagaimana Nana bisa kenal Azmi?"


"Fany yang mengenalkannya dengan Nana waktu kamu di London, bahkan Azmi berencana ingin menikahinya. Tapi aku yang menggagalkan."


"Fany tau gue dekat dengan Nana, kenapa malah mengenalkannya dengan Azmi." Kesal Erfan. "Argh, gue harus bikin perhitungan." Ujarnya dengan wajah yang sudah memerah karena menahan amarah. Buku-buku jarinya sampai memutih saking kuatnya dia genggam.


Ken kehabisan akal mencerna semua yang sudah terjadi. Kepalanya serasa pecah sekarang. Tidak hanya hati yang sakit, fisik pun ikutan sakit.