EL & KEN

EL & KEN
133



"Argh!" Deo membanting remot tv yang sedari tadi dimainkannya. Membuat dua orang paruh baya yang duduk di sofa sampingnya menatap Deo heran.


"Kamu kenapa?" Tanya Theo, sang ayah bingung memandang wajah putranya yang uring-uringan.


"Perempuan itu bikin kepalaku penuh dengan wajahnya." Seumur-umur dia baru ini dibuat galau oleh perempuan. Biasanya dia bisa memainkan perempuan sesuka hati.


Dina menghela napas berat, "kamu jangan banyak berharap Deo. Dia sudah bersuami." Tegas Dina, dia sudah menanyakan tentang perempuan itu langsung pada Inara.


"Jadi kamu menyukai perempuan bersuami?" Tanya Theo tak percaya, "ayolah mana Deo yang bisa menjerat banyak gadis cantik jelita."


"Mommy jangan asal bicara, aku tidak percaya kalau belum melihatnya langsung. Aku akan mendapatkannya."


"Apa perlu Mommy tunjukkan ke kamu buku nikahnya?" Tantang Dina, dia memang menginginkan menantu seperti Elvina. Tapi tentu saja bukan yang sudah memiliki suami.


"Mom, cukup!" Seru Deo, lalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Dina mengelus dada agar bersabar, "ada apa dengan anak kita itu Mas, aku takut dia terobsesi dengan perempuan itu. Anak kita itu terlalu nekat kalau penasaran."


"Mommy tau dari mana kalau perempuan itu sudah bersuami?" Theo jadi penasaran, perempuan seperti apa yang bisa membuat putranya itu gundah gulana.


"Istri Erland, mereka baru menikah seminggu yang lalu."


"Jangan bilang kalau perempuan itu menantu Nazar, putranya juga menikah seminggu yang lalu waktu kita masih di luar negeri. Aku dapat kabar menantunya keponakan Erland  anak almarhum Aliandra."


"Iya," Dina mengangguk malas membenarkan tebakan suaminya.


"Astaghfirullah, jadi istri Ken yang Deo inginkan."


"Aku pusing Mas, sejak pulang dari butik sudah aku ingatkan. Aku tidak hanya takut Deo patah hati. Aku takut dia berbuat diluar batas. Selama ini kita menolak Deo berhubungan dengan pacar-pacarnya dia biasa saja. Tidak pernah bertingkah seperti ini. Baru sekali bertemu langsung kacau begitu." Dina menghela napas berat.


"Nanti aku yang bicara sama dia. Jangan diambil pusing begitu," Theo menenangkan istrinya.


Keesokan harinya pagi-pagi Deo sudah menunggu di depan butik Erina. Orang yang dia nantikan datang. Perempuan itu turun dari taksi dengan anggunnya. Melihat pemandangan seperti itu saja sudah membuat Deo klepek-klepek.


"Selamat pagi, Nana." Sapa Deo sebelum Elvina memasuki butik.


"Pagi." Jawab Elvina acuh lalu melenggang masuk ke dalam butik. "Kak Erin belum datang?" Tanyanya pada karyawan yang ada di sana.


"Belum mbak, sepertinya ibu agak terlambat datang." Ujar karyawan itu, Elvina mengangguk lalu mengucapkan terimakasih.


Elvina duduk di sofa, sambil menunggu dia mengubungi suaminya melalui chat untuk membunuh rasa bosan.


"Sudah sarapan?" Tanya Deo yang sengaja mengikuti perempuan itu.


"Sudah."


"Boleh bertukar nomor hp?" Ujar Deo dengan tersenyum. Elvina menghentikan aktivitasnya, memasukkan ponsel dalam tas.


"Kita tidak sedekat itu untuk bertukar nomor hp." Jawab Elvina tegas.


"Setelah itu kita bisa semakin dekat." Deo terus menampilkan senyuman manis yang bisa menggoda kaum hawa. Tapi tidak bagi Elvina, hanya Ken yang dapat membuatnya terpesona.


"Maaf, saya tidak berminat."


"Aku bisa memberikan cincin yang lebih mahal dari itu." Deo tak terima penolakan, baru pertama kali ada perempuan yang berani menolaknya terang-terangan.


"Anda pikir saya gila uang!" Elvina berdecak berharap Erina cepat datang atau dia akan pulang sekarang juga.


"Itulah yang aku suka darimu, apapun yang kamu mau aku bisa memberikannya." Deo melakukan sebuah penawaran.


Elvina ingin sekali memaki orang yang sedang duduk sok manis di sampingnya ini. "Anda tidak sepantasnya menggoda perempuan yang sudah bersuami." Tegasnya, dia sudah tidak tahan dengan kelakuan Deo.


Deo tersenyum miring, "aku tidak akan menyerah. Akan kupastikan kamu berpaling dari suamimu." Ujar Deo lalu meninggalkan Elvina yang mengumpat dalam hati.


"Kenapa yang semua mommy bilang itu benar?" Deo mengamuk dalam ruang kerjanya. Pulang dari butik dia langsung ke kantor. "Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut perempuan sombong!"