
Bersama Adnan, Ken mendatangi restoran yang tadi pagi dikunjunginya dengan Elvina. Dia tidak akan melepaskan begitu saja orang yang sudah menghina istri tersayangnya.
Ken langsung menemui manager restoran, mencari pegawai yang sudah mempermalukan istrinya.
"Mohon maaf Pak, karyawan di sini tanggung jawab saya. Jadi saya akan melindungi mereka dari orang seperti kalian."
Suami Elvina itu tersenyum miring, "apa kami terlihat seperti penjahat?"
"Mungkin," jawabnya tenang.
Ken menyeringai jahat, "harusnya karyawan anda di didik dengan benar agar bisa melayani pembeli pembeli dengan baik."
"Tolong kalian pergi dan jangan membuat keributan di sini!" Tegas manager restoran itu dengan garang.
"Apa kami membuat keributan? Kami minta baik-baik," sahut Ken dengan tatapan tajam.
"Restoran ini tidak ada cctv? Atau anda tidak mengawasi karyawan dengan benar. Dalam hitungan detik restoran ini bisa berpindah kepemilikan dan anda akan diusir dari pekerjaan ini." Adnan berucap dingin, membuat si manager restoran terkesiap.
Laki-laki paruh baya itu dengan terpaksa menunjukkan layar yang berisi rekaman cctv. Dia tidak tau siapa orang-orang yang ada di depannya ini.
Ken mengepalkan tangan kuat melihat rekaman cctv. Ternyata semua ini ulah Claudia. "Panggil pegawai itu," titahnya.
Manager restoran tidak berani lagi membantah, langsung meminta karyawan yang dimaksud untuk datang ke ruangannya. Beberapa menit kemudian pegawai itu datang dengan wajah pucat pasi karena ketakutan. Tidak tau apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Raut wajah dua orang lelaki itu sangat mengerikan. Tampan sih, tapi bikin bulu kuduk merinding.
Mau tidak mau pelayan yang tadi menghina Elvina itu mengikuti. Adnan membawanya masuk ke mobil. Suasana mobil mencekam, perjalan terasa sangat panjang. Kemana dia akan dibawa, gadis itu hanya berani bergumam dalam hati. Tangannya sudah dingin seperti es, sebentar lagi mungkin akan membeku.
Mobil memasuki gerbang perumahan elit. Gadis itu sekarang tau siapa orang yang ada di depan ini. Dia sudah salah menghina orang.
Dengan langkah gemetar, kakinya mengikuti dua orang lelaki yang menggiringnya masuk ke rumah mewah. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah yang begitu besar.
"Duduk," titah Adnan.
Gadis itu menurut. Rumah ini tidak ada hawa menyeramkan, malah terasa menenangkan. Ken meninggalkan ruang tamu, masuk ke kamar menjemput istrinya.
"Abang!" Panggil Elvina takut saat melihat pelayan restoran yang pagi tadi membuat pertahanannya runtuh. Tubuhnya bergetar lagi. Ken menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh, membawa duduk berhadapan dengan perempuan itu.
"Gak papa, Sayang. Abang bawa dia ke sini biar minta maaf sama kamu. Supaya kamu bisa cepat melupakan kejadian pagi tadi." Ken berharap setelah perempuan itu meminta maaf, Elvina tidak takut keluar rumah lagi.
"Aku mau ke kamar," cicit Elvina.
"Kita tunggu Abi sebentar ya, Sayang." Ujar Ken seraya menarik tubuh Elvina dalam pelukan, "El lihat Abang aja biar gak takut."
Tidak berapa lama Nazar dan Ulfa datang ke ruang tamu setelah dipanggil Adnan. Attisya mengikuti di belakang, ibu hamil itu ikutan kepo.
Gadis itu semakin memucat seperti tidak mendapatkan aliran darah. Tatapan tajam semua orang membuat tubuhnya semakin bergetar. Sama dengan perempuan yang duduk di hadapannya. Apa kalimat yang diucapkannya pagi tadi sudah membuat orang lain mengalami trauma.